Malu Terbang Hinggapi Petualang Eropa Utara

Spread the love

Di negara-negara bagian utara benua Eropa, kini kata-kata lygskam sering diperdengarkan. Kalau diartikan dalam bahasa Inggris, kata-kata itu bisa diartikan seperti light shame, atau dalam bahasa Indonesia setidaknya artinya malu terbang.

Slogan tersebut kini terus bergaung setidaknya di Swedia, sebagai simbol kampanye gerakan anti terbang keluar dari Eropa Utara, demi kelestarian lingkungan.

Mengapa pula hal itu bisa terjadi? Apa juga hubungan terbang dengan pesawat dan masalah kelestarian lingkungan? Artikel ini coba menjawab semua masalah tersebut dengan paparan yang mudah dimengerti.

Seperti diketahui, kondisi pemanasan global kini terus melanda bumi. Akibat pemanasan global maka suhu bumi makin terus mendaki. Dampaknya ternyata bisa serius, meski suhu bumi hanya naik satu atau dua derajat saja. Seperti kasus kebakaran hutan yang makin kerap terjadi, diperkirakan akan terus ada bila suhu bumi terus makin panas.

Selain kebakaran, kenaikan suhu bumi juga bisa membuat banyak mahluk di bumi punah. Teramat banyak mahluk di bumi yang sebenarnya rentan, bila suhu semakin panas. Hewan-hewan kecil akan binasa, seperti berada di dalam oven panas. Kemudian kalau fenomena tersebut dikaitkan dengan masalah rantai makanan, maka dapat dibayangkan ada satu atau lebih mata rantai yang akan terputus, bila satwa-satwa tersebut punah. Ujung-ujungnya, manusia juga yang akan sengsara, karena bisa saja sumber makanan untuk manusia ikut-ikutan punah karena rantai makanan yang berubah.

Efek lain yang paling dahsyat dari pemanasan global adalah fenomena perubahan iklim. Bumi yang makin panas akan membuat iklim mengalami perubahan. Yang semula musim hujan dimulai Oktober sampai Meret tiap tahunnya. Mungkin kedepannya akan tidak seperti itu lagi. Fenomena musim hujan di bulan Agustus yang biasa kemarau juga kini sudah makin kerap terjadi. Beberapa tahun lalu, bahkan satu tahun iklim terhitung basah. Mengakibatkan kerugian pada bidang pertanian, karena banyak hasil buah atau agribisnis mengalami pembusukan. Tak terbayangkan bila kemudian terjadi musim kemarau dalam satu tahun penuh. Bisa mati kepanasan seluruh manusia di bumi ini.

Penerbangan

Lalu apa kaitan pemanasan global dan penerbangan?

Seperti diketahui menurut hasil banyak penelitian, sektor penerbangan juga menyumbang banyak emisi karbondioksida penyebab pemanasan global. Dapat dikatakan 2,5 persen karbondioksida yang ada di atmosfer bumi saat ini berasal dari penerbangan komersial.

“Tak ada yang bisa dibohongi saat ini, tak ada lagi yang terbaik yang bisa dilakukan, selain mengurangi angka penyumbang emisi karbondioksida sebanyak yang kita bisa,” kata Direktur Flight Free Inggris, Anna Hughes kepada majalah The Great Outdoors, edisi Februari 2020.

Contoh paling mudah yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi angka penerbangan yang dilakukan oleh seorang manusia. Sebab melakukan sekali penerbangan lintas benua, ternyata menyumbangkan emisi karbondioksida lebih banyak daripada menyetir mobil satu tahun penuh.

“Dan aktivitas kita mengurangi emisi karbondioksida ketika menjadi vegetarian selama satu tahun penuh, bisa juga hilang begitu saja hanya karena satu penerbangan antar benua dari Eropa ke Bangkok, Asia misalnya,” papar Hughes lagi.

Menyadari tingginya sumbangan untuk pelestarian alam dari mengurangi aktivitas penerbangan, maka pantas bila banyak petualang-petualang Eropa kini membatasi perjalanan mereka keluar dari benua.

Menurut catatan aksi lygskam kini bahkan telah menurunkan angka penjalanan penerbangan hingga delapan persen per tahun, terutama di bandara negara Swedia.

Keberhasilan tersebut juga memicu keinginan serupa di negara besar Eropa lain, seperti Inggris. Hughes berharap di Inggris pada tahun 2020, ada 100.000 petualang menurunkan angka perjalanan menggunakan pesawat keluar benua.

Sepakat

Sepertinya keinginan Hughes tersebut disepakati juga oleh banyak petualang di benua Eropa. Seperti Helen Todd, dari organisasi Ramblers Skotlandia menyatakan telah menggagalkan penerbangan untuk rekreasi selama 13 tahun terakhir.

“Saya menghentikan pergi menggunakan pesawat sejak tahun 2006 lalu, karena alasan kelestarian lingkungan,” urai Todd.

Menurutnya sudah lebih dari 15 tahun ia melakukan perjalanan antar benua, terutama untuk tamasya dan bekerja di Asia. Namun saat mengetahui tingginya sumbangan emisi karbondioksida dari penerbangan, ia memutuskan menghentikan kesenangannya tersebut.

“Saya suka berpetualang di alam bebas. Sekarang saya bertualang di Inggris saja. Masih banyak bagian negara ini yang indah, dengan kualitas pemandangan kelas dunia juga, serta bisa dinikmati sepanjang tahun pula,” urainya.

Begitu juga yang diungkapkan Stuart Shipp, seorang penyelenggara perjalanan alam bebas di Inggris bernama City Mountaineering. Menurutnya banyak cara untuk menikmati alam bebas di Inggris, selain menggunakan transportasi pesawat udara. Seperti menggunakan kereta api misalnya.

“Saya mengerti banyak petualang menginginkan daerah ketinggian yang lebih dahsyat dari sebelumnya, sebab saya juga pernah merasa seperti itu. Namun sebenarnya banyak juga daerah yang tidak memiliki ketinggian fenomenal sebenarnya memiliki keindahan yang tiada tara, paparnya.
Lalu mengapa harus terbang jauh-jauh ke negeri orang, kalau di negeri sendiri yang kita sebut sebagai rumah justru kita tak pernah mengunjunginya?”, tambah Shipp.

Nah, sekarang keputusan berada ditangan masing-masing individu. Tetap memutuskan pergi-pergi sejauh mungkin, dengan menggunakan pesawat namun menyumbangkan emisi karbondioksida yang menyebabkan bumi makin sekarat. Atau memutuskan melakukan perjalanan yang lebih bijaksana, dengan pertimbangan tetap bisa melestarikan alam tempat anak cucu kita nanti akan tinggal. (Sulung Prasetyo)

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *