In Memoriam Aristides Katoppo : Petualang Pecinta Lingkungan

Tahun 2002 kantor redaksi harian Sinar Harapan tampak sibuk. Itu hari pertama saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana sebuah kantor redaksi koran harian beraktivitas. Urusan saya jelas disana, memenuhi panggilan Adiseno, redaktur bagian humaniora. Selain berniat menyerahkan hasil tulisan yang saya buat, juga ingin menanyakan kelanjutan permohonan saya untuk menjadi jurnalis di koran yang terbit sore hari itu.

Koran Sinar Harapan sudah saya kenal sejak masa kecil. Dulu bapak saya, Mulyanto, buruh di perusahaan kaca mobil di Ancol kerap membelikan koran itu usai pulang kerja. Entah apa alasan bapak waktu itu, mungkin karena ada suplemen komik Mimin didalamnya. Jadi sekalian dia baca beritanya, juga bisa memberikan komik itu untuk bahan bacaan saya.

Saat kuliah tahun 1995, koran Sinar Harapan sudah lama dibredeil. Namun ingatan tentang koran itu kembali terulang, ketika harus membuat resume tentang Soe Hok Gie dimasa Ospek kampus Universitas Indonesia (UI). Tulisan-tulisan Hok Gie yang banyak juga dimuat Sinar Harapan tak pelak turut terbaca lagi.
Pada awal kuliah itu juga saya memutuskan mengikuti proses rekruitmen Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI). Kembali ingatan-ingatan tentang Sinar Harapan kembali meruyak. Pasalnya Aristides Katoppo yang juga mantan Pemimpin Redaksi Sinar Harapan yang dibredeil, juga merupakan salah satu senior di Mapala UI.

Di Mapala UI saya makin dalam mengenal tentang Sinar Harapan dari banyak senior disana. Seperti Rudy David Badil, Herman O. Lantang, Nessy Luntungan, Don Hasman, Lody Korua dan lainnya. Termasuk juga berkesempatan memahami dan mendalami dasar-dasar ilmu kepencinta alaman dari mereka.

Usai lulus kuliah, keinginan untuk tetap bertualang tetap membara. Namun urusan keuangan kadang menjadi kendala yang tak bisa dihindari. Setelah konsultasi sana-sini dengan para senior, banyak yang menyarankan agar memulai membuat tulisan-tulisan dari pengalaman perjalanan yang saya punya. Kemudian artikel itu bisa ditawarkan ke media-media cetak yang masih banyak beredar saat itu.

Salah satu media cetak yang saya incar adalah Sinar Harapan. Koran itu terbit kembali paska reformasi tahun 1998. Selain juga karena saya tahu ada dua senior Mapala UI yang bekerja disana. Kedua senior itu adalah Adiseno dan Aristides Katoppo.

Beberapa artikel milik saya kemudian diterbitkan Sinar Harapan. Termasuk perjalanan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Riau, dan penelusuran goa di Sawarna, Jawa Barat.

Sekarang saya datang ke Sinar Harapan karena permohonan menjadi jurnalis disana sepertinya disetujui. Adiseno memanggil saya untuk liputan pertama di Sinar Harapan.

Tugas pertama saya meliput acara Seren Taun di desa Cipta Rasa, Jawa Barat. Saat itu saya hanya bisa melihat dari jauh sosok Aristides Katoppo. Tampak sedang duduk penuh kharisma di ruang pemimpin redaksi. Sesekali tampak sibuk menerima tamu. Sayang pada kesempatan pertama itu saya tak sempat mengobrol dengannya.

Selanjutnya hubungan saya dengan Aristides Katoppo makin kuat. Terutama mungkin karena memiliki minat yang sama, pada masalah lingkungan dan petualangan.

Beberapa kali Bang Tides, begitu biasa ia saya panggil mengajak berdiskusi mengenai masalah isu lingkungan. Dari obrolan-obrolan itu juga saya mengetahui kalau Bang Tides merupakan salah satu penggagas berdirinya Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Kini Walhi menjadi satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang disegani di Indonesia.

“Sinar Harapan itu koran pertama yang mengangkat isu lingkungan. Bahkan sebelum pemerintah membuat Kementrian Lingkungan Hidup”, papar Bang Tides kepada saya.

Kemudian Bang Tides juga menceritakan suka duka menyebarluaskan isu lingkungan di masyarakat. Termasuk saat Sinar Harapan mengadakan lomba foto mengenai lingkungan hidup. Dari kiriman foto-foto itu baru kemudian disadari kalau masih banyak bagian masyarakat yang tak mengerti isu lingkungan.

“Masa ada yang mengirim foto keluarganya. Itu tandanya memang masih ada yang tak mengerti isu lingkungan”, cerita Bang Tides dengan tawa lebar setelahnya.

Begitulah Bang Tides, selalu memahami segala hal dengan senyum terkembang. Membuat sebuah masalah menjadi seperti bukan masalah lagi.

(Dok.shnet)

Memelopori SIEJ

Tahun-tahun berlalu bekerja di Sinar Harapan seperti tak terasa. Sampai pada tahun 2006 saya mendapat penugasan tentang peresmian Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh. Ditengah hutan gunung Leuser itu kembali saya bertemu dengan Bang Tides sebagai salah satu pelopor berdirinya SIEJ.

Turut hadir juga beberapa jurnalis kawakan dalam bidang isu lingkungan seperti Harry Soerjadi, yang kemudian menjadi Direktur Eksekutif SIEJ pertama. Usai peresmian SIEJ, Bang Tides sempat menghampiri saya secara pribadi dan membisikan kata-kata agar turut menjaga kelangsungan organisasi jurnalis lingkungan pertama di Indonesia ini.

Permintaan tersebut saya penuhi dengan menjabat sebagai Wakil Direktur Eksekutif bidang program kegiatan. Hingga sekitar tiga tahun kemudian sebelum diselenggarakan rapat umum anggota SIEJ berikutnya, Bang Tides mengundang bertemu di Sinar Harapan.

Ternyata Bang Tides menitip pesan agar membantu mencari calon Direktur Eksekutif SIEJ yang baru. Mengingat masa jabatan Harry Surjadi akan segera berakhir. Setelah kasak-kusuk kesana kemari didapat nama I Gusti Gde Maha Adi. Lelaki kelahiran Bali itu terpilih sebagai kandidat karena tingkat intelektualitas dan pengalaman dalam isu lingkungan. Seperti diketahui Maha Adi mampu kuliah hingga selesai S2 dan menjadi wartawan aktif di Tempo dan sempat juga di majalah National Geographic Indonesia.
Sesuai rencana, Maha Adi yang kemudian menjadi Direktur SIEJ periode kedua. Setelah diadakan kongres SIEJ di kampus UI, Depok pada tahun 2009. Pada saat itu juga saya dinobatkan sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) SIEJ, karena adanya perubahan formatur pemilihan, yang semula hanya diajukan seorang sebagai Direktur Eksekutif, menjadi dua orang yaitu Direktur Eksekutif dan Sekjen.

Bang Tides turut mengucapkan selamat kepada saya karena menjabat sebagai sekjen. Dan mengingatkan agar saya tak lupa dengan tugas utama di Sinar Harapan.

Seorang pengunjung membubuhkan tanda tangan dukungan penyelamatan lingkungan saat Deklarasi SIEJ Simpul Sulsel bertepatan peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia di Pantai Losari, Makassar, Minggu, (5/6/2016). (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)

Naik Gunung

Ada satu permintaan Bang Tides yang hingga wafatnya belum saya penuhi. Yaitu mengenai ajakan mendaki gunung bersama.

Ternyata Bang Tides sampai usia senja tetap punya niat membara untuk mendaki gunung. Bang Tides memang saya kenal sebagai bagian kelompok pendakian Mapala UI saat Soe Hok Gie mengalami kecelakaan tragis di gunung Semeru.

Saat menonton film “GIE” besutan Riri Reza tampak sosok Bang Tides begitu sangat berwibawa. Dengan mengendarai mobil jeep tentara, ia menyelipkan koran Sinar Harapan di dashboard depan. Kemudian datang ke Kampus UI yang saat itu masih di Salemba, untuk menjemput rekan-rekan Mapala UI mendaki gunung.
Namun penyakit jantung yang diderita Bang Tides, membuat saya berfikir seribu kali mengabulkan permintaannya untuk mengantarkan mendaki gunung. Saya terlalu khawatir tidak mampu mengendalikan kondisi darurat yang bisa menimpa Bang Tides, bila memaksakan mendaki gunung dengan penyakit jantung.

Bahkan hingga kemudian Sinar Harapan ditutup kembali pada tahun 2015, saya masih belum dapat memenuhi keinginan Bang Tides untuk mendaki gunung. Padahal saat itu saya sempat menyambangi kediaman Bang Tides di daerah Pasir Arca, Ciawi. Sambil membicarakan kelanjutan SHNet, jelas terlihat gunung Gede-Pangrango tersaput kabut didepan mata.

Terakhir kali Bang Tides masih sempat membantu, meski saya berada dalam kesulitan. Ia berkenan memberikan kata pengantar untuk buku cerpen lingkungan berjudul Monyet-Monyet Tsunami yang saya buat tahun 2018.

Suasana penguburan Aristides Katoppo. (Photo: IGG Maha Adi)

Sekarang Bang Tides sudah tiada. Semua yang tertinggal hanya kenangan-kenangan belaka. Namun pemikiran dan tulisan-tulisan tak seperti harta benda yang bisa hilang begitu saja. Bang Tides telah mengajarkan saya arti kekayaan sebenarnya. Kekayaan bukan sebanyak harta yang kita punya, melainkan sebanyak harta yang kita bagi. (Sulung Prasetyo)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *