Dunia Makin Sempit Buat Ular

Spread the love

Bulan terakhir tahun 2019, tiba-tiba kita dikejutkan dengan berbagai berita tentang kemunculan ular. Kebanyakan ular yang terlihat berjenis kobra. Hitam bersisik, terlihat mengkilat dan sedetik timbul rasa jijik jika tak menyukainya.

Ular-ular tersebut muncul di pemukiman-pemukiman padat penduduk. Mulai dari yang kecil-kecil menyerang kedai makanan di Klaten. Hingga yang menjelang besar, ditemukan dalam rumah-rumah warga di Citayam dan Depok. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kemunculan ular makin kerap terjadi? Apakah merupakan pertanda sesuatu? Atau hanya menunjukan zaman yang makin edan?

Tradisi Ular

Sebelum membicarakan hal-hal yang berbau gaib, baiknya kita mengenal dulu jenis ular kobra di Indonesia. Menurut Amir Hamidy, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jenis ular kobra di Indonesia hanya ada dua, yaitu ular kobra Sumatra dan ular kobra Jawa.

Kalau dilihat dari bentuk fisiknya sih, sepertinya tak jauh berbeda. Ya itu, hitam panjang, agak bersisik mengkilat. Cuma bedanya yang satu tinggal di pulau Sumatra, yang satunya lagi di pulau Jawa. Sebenarnya masalah fisik ini tak perlu diperdebatkan, tapi secara perilaku kedua jenis ular ini memiliki perilaku sama. Yaitu sama-sama suka ngendon dipinggir rumah manusia.

Secara tutur tinular tradisi, pengetahuan itu sudah bukan aneh lagi buat masyarakat Indonesia. Seperti di rumah kakek saya di Gombong, Jawa Tengah. Rumah dengan gaya Jawa kuno itu, punya dinding dan pintu dari kayu. Halaman luas untuk kami bermain. Dulu ibu saya sering mengingatkan, hati-hati kalau bermain dikebun depan rumah kakek saya itu. Sebab katanya masih banyak ular sering berkeliaran. Saat sedang tidur-tiduran di rumput setelah lelah bermain dengan sepupu, benar saja saya lihat ular kobra dengan leher tegak melengser santai didepan kami. Usut punya usut, kata kakek saya memang sering ular jenis begitu melintas di depan rumah. Bahkan ia sering menemukan juga di gudang belakang rumah yang penuh dengan panen buah kelapa.

Beda lagi waktu saya sempat berjalan-jalan ke daerah sungai Batang Langkup di Jambi. Waktu itu saya sedang melakukan ekspedisi arung jeram bersama klub pecinta alam di kampus. Jadi harus melintasi daerah-daerah pinggir sungai. Pada sebuah kesempatan survey, saya sempat menemukan rumah penduduk dipinggir sungai. Karena lelah, saya berniat istirahat dikaki tiang-tiang rumah panggung tersebut. Baru saja akan duduk, disalah satu kaki tiang yang lain tampak menggelosor seekor ular menjauh. Dari bentuk fisiknya saya bisa mengira itu jenis ular kobra. Mungkin ia merasa terganggu dengan kehadiran saya, dan berniat menjauh. Setelah saya tanyakan ke penduduk lokal perihal ular itu, mereka hanya bilang kalau itu sudah normal. Ular-ular kadang berdiam di kaki-kaki kayu rumah panggung. Repotnya yang berdiam jenis berbahaya. Ya, ular kobra itu.

Kalau melihat perilaku seperti itu, jadi sebenarnya tak perlu kaget kalau mendengar ular kobra berdiam di dekat kediaman manusia. Sebab secara tradisi, memang mereka seperti itu.

Kobra sumatra. (Dok.wikipedia)

Tanda Alam

Lain lagi kalau kita membicarakan kehadiran ular sebagai tanda alam. Ada banyak mitologi yang ada. Termasuk sebagai tanda bencana.

Dalam ilmu pengetahuan untuk mendaki gunung, kehadiran ular bisa berarti banyak kemungkinan. Salahsatunya merupakan kemungkinan gunung meletus.

Menurut penjelasan kalau sebuah gunung akan meletus, maka kondisi tanah di gunung dan sekitarnya akan terasa lebih panas. Karena kondisi panas itu maka banyak binatang kemudian muncul dari persembunyiannya. Meninggalkan sarang-sarang mereka. Menjauhi gunung yang akan marah itu, dan menyelamatkan nyawa. Termasuk ular juga.

Mitologi bencana dan kemunculan ular juga diperkuat dengan kepercayaan orang Toraja, Sulawesi Selatan. Menurut orang Toraja, kemunculan ular bisa memberi berbagai macam tanda. Tergantung jenis dan waktu penampakannya.

Seperti bila ada ular hitam yang menampakkan diri si petang hari, maka dipercaya sebagai pertanda kematian. Bila terlihat ada ular di sawah, maka panen diperkirakan akan berhasil. Namun saat melihat ular dalam perjalanan, dan ular itu melintas dari kiri ke kanan, maka dipercaya akan ada bahaya. Tapi jika ular memotong dari kanan ke kiri, malah menandakan keberuntungan.

Lain lagi kalau menjumpai ular hijau. Orang Toraja percaya bila melihat ular hijau, maka itu berarti pertanda baik dan tidak boleh dibunuh. Tapi bila kita menjumpai ular jenis panakan yaitu ular yang tak bisa dibedakan maka kepala dan ekor, maka itu pertanda akan ada keluarga yang meninggal.

Dok. Solopos

Dunia Sempit

Kembali lagi ke masalah ular kobra yang kini kian sering muncul dipemukiman, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Untuk menjawab hal tersebut, maka kita harus mencermati pernyataan Amir Hamidy, sang peneliti dari LIPI kembali. Menurut dia kehadiran ular di musim hujan merupakan hal yang lumrah. Sebab memang disaat itulah ular bertelur dan memiliki anak. Jadi kejadian-kejadian diserbu ular kobra kecil di Klaten, bisa jadi merupakan anak-anak ular yang baru menetas.

Sementara kehadiran ular di kediaman rumah manusia, menjadi wajar karena habitat ular itu sendiri kini sudah tak ada. Seperti kasus di Citayam dan Depok, dimana banyak daerah-daerah yang semula kosong, kini menjadi kediaman manusia. Bisa jadi daerah-daerah itu lokasi biasanya ular menetas, namun karena sekarang banyak dihuni manusia, ular-ular itu memutuskan tetap bertahan. Sebab tak ada lagi juga lahan kosong untuk mereka menetas. Naluri mereka yang mengantarkan, kembali ke lokasi mereka dilahirkan, serta mencari lokasi yang hangat. Jadi sangat wajar mereka muncul untuk bertelur dan menetaskan anaknya didekat kediaman manusia, yang dulunya merupakan rumah mereka juga.

Sekarang yang bisa dilakukan hanya melakukan tindakan preventif terhadap bahaya kehadiran ular tersebut. Beberapa langkah yang bisa dilakukan merupakan upaya memangkas rumput disekitar rumah secara teratur. Dengan cara itu, ular yang pemalu tak akan tinggal atau melintas ditempat tersebut. Kemudian jauhkan kayu, batu dan puing-puing yang menumpuk. Sebab lokasi itu bisa menjadi tempat kediaman ular. Kemudian tutup lubang yang dapat digunakan ular untuk bersembunyi seperti di bawah gudang, dan dinding. Upaya yang terakhir adalah memasang pagar atau dinding di sekitar rumah sebagai pencegahan.

Patut disadari, kehadiran ular itu adalah karena ulah manusia juga. Demi kepentingan kita, banyak satwa yang tersingkir dari sana. Padahal mungkin sebenarnya mereka sudah lama menetap dilokasi tersebut. Jadi jangan salahkan kalau alam membalas dengan cara yang ia bisa. (Sulung Prasetyo)

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *