Pahlawan Lingkungan Tanpa Banyak Bicara

Spread the love

Akhir-akhir ini orang sering membicarakan masalah kepahlawanan. Kata ”pahlawan” menjadi polemik, ketika mantan Presiden Indonesia, Soeharto, wafat beberapa waktu lalu. Bagi yang merasa pernah dibantu, diuntungkan atau ditolong olehnya, akan serempak bilang kalau pria kelahiran Kemusuk, Jawa Tengah, itu merupakan sosok pahlawan sejati. Sementara yang pernah disakiti, atau dirugikan oleh berbagai kebijakannya, cenderung memojokkan dan mencari fakta mengenai ketidaklayakan beliau sebagai pahlawan.

Terlepas dari itu semua, pahlawan tetaplah pahlawan. Bagi sebuah keluarga kecil, ayah yang baik adalah pahlawan bagi istri dan anak-anak mereka. Untuk para murid, guru yang baik adalah sosok pahlawan yang dicari. Untuk orang yang akan tenggelam, pahlawan adalah orang yang pertama menolongnya.

Dari konteks itu, yang disebut pahlawan ternyata harus memenuhi paling tidak tiga kriteria. Cocok waktu, lokasi, dan manfaat. Tanpa ketiga hal tersebut, mungkin itulah yang disebut pahlawan kesiangan.

Lalu dengan ukuran tersebut, dan bila dikaitkan dengan kondisi isu lingkungan saat ini. Siapa sebenarnya yang pantas disebut sebagai pahlawan?

Jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu pastilah para pejalan kaki dan pemakai sepeda. Kenapa? Karena secara waktu, lokasi dan manfaat, sebenarnya para pejalan kaki dan pemakai sepeda sangatlah signifikan dalam mereduksi kasus lingkungan paling utama yang ada sekarang.

Bila ditanyakan apa kasus lingkungan paling utama saat ini, jawaban paling tepat pastilah mengenai perubahan iklim. Karena kasus tersebut ternyata merupakan muara dari berbagai kasus lingkungan yang ada sekarang. Banjir yang makin menggila, tak akan ada tanpa kontribusi hujan ekstrem yang terjadi.

Itu baru satu contoh akibat dari perubahan iklim yang terjadi karena pemanasan global. Belum lagi rentetan dampak lain, seperti tenggelamnya ratusan pulau kecil, meningkatnya jumlah penyakit dan sebagainya.

Kemudian bila dikaitkan dengan para pejalan kaki dan pemakai sepeda. Jelas hal tersebut sangatlah terkait. Karena penyebab perubahan iklim adalah pemanasan global. Sementara itu, penyebab pemanasan global adalah tingginya angka gas yang terdapat di atmosfir bumi. Salah satu gas tersebut merupakan karbondioksida, yang banyak dihasilkan dari pemakaian energi fosil, seperti solar, bensin dan lainnya.

Untuk di Indonesia, penyebaran angka karbondioksida tertinggi sebenarnya berasal dari kebakaran hutan. Bahkan katanya, karena hal tersebut, Indonesia menduduki posisi tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan China.

Selain kebakaran hutan, sebenarnya angka signifikan dari penyebar karbon diangkasa dari Indonesia adalah pemakaian sarana transportasi. Terbukti dari data yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2006 lalu. Dimana 24 persen karbon dihasilkan dari transportasi. Sementara sektor industri menyumbang sebesar 22 persen, dan kelistrikan menyumbang angka 11 persen.

Transportasi massal di Cina.

Dari 24 persen karbon yang dihasilkan sektor transportasi tersebut, 74,8 persen berasal dari sepeda motor, mobil menyumbang 21,9 persen dan 3,1 persen dari bus (Ezra 2008). Jadi bisa dibayangkan berapa besar karbon yang dikeluarkan, bila masing-masing kendaraan tersebut dipakai perhari secara spartan.

Dari data yang dikeluarkan Hook dan Wright tahun 2002 lalu, dari mobil berbahan solar sebanyak 172 gram karbon dikeluarkan perkilometer. Sementara dari mobil berbahan bakar bensin, lebih besar lagi, yaitu sebanyak 293 gram karbon per kilometer.

Kalau dari motor empat tak, sebanyak 70 gram karbon dikeluarkan per kilometer, dan dari motor dua tak 118 gram karbon dikeluarkan perkilometernya. Belum lagi kalau harus berboncengan, atau sau mobil dipakai hingga empat orang, maka angka karbon makin tinggi karena bobot yang harus dibebankan.

Sementara itu, pejalan kaki dan pemakai sepeda, hanya mengeluarkan angka nihil alias nol untuk karbon yang dikeluarkan. Jadi jelas kan mengapa pejalan kaki dan pemakai sepeda, merupakan pelaku yang paling layak dijadikan pahlawan lingkungan saat ini. (Sulung Prasetyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *