Dasar-Dasar Penulisan Fiksi

Sebelum memulai semua pembahasan mengenai penulisan fiksi, ada baiknya kita mengetahui dahulu apa sebenarnya yang ingin disampaikan dari sebuah penulisan fiksi. Berbagai maksud bisa saja ingin disampaikan dari sebuah penulisan fiksi, namun yang paling penting dari itu semua pasti mengenai nilai yang ingin disampaikan dari sebuah penulisan.

Nilai tersebut yang seharusnya menjadi tujuan utama dari sebuah penulisan fiksi. Bisa berupa nilai moral kebaikan, atau pelajaran-pelajaran mengenai kehidupan. Nilai-nilai positif tersebut bisa lebih efektif disampaikan bila menggunakan bahasa fiksi.

I. Definisi

Sebenarnya apa itu fiksi? Pengertian fiksi dari beberapa sumber adalah sebuah prosa naratif yang sifatnya imajinasi atau karangan non-ilmiah dari penulis dan bukan berdasarkan kenyataan.

Jadi bisa dikatakan sebuah karya fiksi nerupakan kejadian yang sebenarnya tidak terjadi di dunia nyata, kebanyakan hanya berdasarkan imajinasi atau pikiran seseorang.

Walaupun fiksi hanya imajinasi penulis, namun fiksi tetap masuk akal dan bisa mengandung kebenaran yang bisa mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Kata “Fiksi” sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu “Fiction” yang artinya rekaan atau khayalan.

II. Ciri-Ciri Fiksi

Mengacu pada pengertian di atas, maka kita dapat mengenali sebuah karya fiksi dari karakteristiknya. Berikut ini adalah ciri-ciri fiksi:
1. Fiksi sifatnya rekaan atau imajinasi dari pengarang.
2. Dalam fiksi terdapat kebenaran yang relatif atau tidak mutlak.
3. Umumnya fiksi menggunakan bahasa yang bersifat konotatif atau bukan sebenarnya.
4. Karya fiksi tidak memiliki sistematika yang baku.
5. Umumnya karya fiksi menyasar emosi atau perasaan pembaca, bukan logika.
6. Dalam karya fiksi terdapat pesan moral atau amanat tertentu.

III. Jenis-Jenis Fiksi

Setelah memahami pengertian fiksi dan ciri-cirinya maka kita juga dapat mengetahui apa saja jenis karya sastra yang termasuk dalam fiksi. Berikut ini beberapa jenis fiksi dalam karya sastra:

1. Novel

Pengertian novel adalah suatu karangan fiksi yang menceritakan seorang tokoh utama dengan pro dan kontra di dalam ceritanya, mulai dari awal hingga akhir. Novel biasanya merupakan kisah panjang yang memiliki klimaks atau ending.

2. Roman

Pengertian Roman adalah suatu karya fiksi yang menceritakan mengenai beberapa tokoh dalam alur ceritanya. Roman mengandung banyak hikmah dalam ceritanya dan cenderung mengarah pada cerita klasik.

3. Cerita pendek

Pengertian cerita pendek atau cerpen adalah suatu karangan fiksi yang isinya jauh lebih sedikit ketimbang roman maupun novel. Namun, cerpen memiliki daya tarik tersendiri karena bisa menjadi pembelajaran awal bagi para penulis dalam membuat sebuah karya tulisan.

IV. Komponen Penulisan Fiksi

Setidaknya ada enam komponen yang harus dipersiapkan ketika seorang penulis akan mulai melakukan penulisan fiksi. Komponen tersebut merupakan : Ide, Tema, Plot atau alur cerita, Penokohan atau karakter, Latar atau setting lokasi, dan Penutup cerita.

1. Ide

Sebuah penulisan fiksi dimulai dari ide. Sebuah percik pemikiran yang tak harus diperoleh dari tempat yang megah, atau tak selalu harus dengan latar belakang yang heboh. Ide bahkan bisa didapatkan ketika kita sedang nongkrong di toilet. Bisa didapatkan setelah melakukan perenungan secara mendalam pada sebuah kasus. Yang paling penting tangkap dulu ide yang muncul tersebut. Baik dengan melalui catatan-catatan kecil, atau rekaman audio di dalam telepon genggam.

Ide yang menarik bisa berbentuk banyak hal. Bisa melalui kejadian sejarah, cerita perjalanan, atau hikmah dari sebuah kejadian tragis dipinggir jalan.

Jika memilih sebuah cerita dengan latar belakang sejarah dan politik nyata, maka konsekuensi logisnya akan membutuhkan riset yang panjang, besar, serius, dan mendalam.

Ide bisa saja diperoleh dari tempat yang ‘sederhana’, dari rumah sendiri. Bisa juga dari keluarga, sekolah, kampus atau dari jalan-jalan yang dilalui setiap hari.

Contoh:
Ketika sedang melakukan perjalan arung jeram ke sebuah daerah terpencil, tiba-tiba mobil yang kita kendarai dihentikan seseorang. Mulanya kita berpikir kalau orang tersebut ingin merampok. Namun ternyata orang tersebut, seorang lelaki yang membutuhkan bantuan karena istrinya ingin melahirkan. Lokasi desa yang jauh di pedalaman membuat proses kelahiran yang tak normal menjadi makin beresiko tinggi. Akhirnya kendaraan dipinjam untuk membawa ibu tersebut ke kota, agar bisa melahirkan di klinik yang lebih lengkap perlengkapan medisnya. Namun apa daya, ibu tersebut justru meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Dari contoh diatas sebenarnya kita bisa menggali sebuah cerita mengenai beratnya perjuangan menjadi seorang ibu. Kalau kita mau agak rajin menjelajah sedikit ke desa tempat ibu itu tinggal, mungkin kita bisa meriset berbagai kehidupan yang tak mudah bagi seorang wanita mengandung disana. Hingga akhirnya kita bisa menyuguhkan cerita mengenai sisi tragis yang dialami seorang wanita ketika akan melahirkan didesa terpencil. Sampai pada akhirnya kita bisa menyampaikan pesan mengenai perlunya perbaikan sarana kesehatan di desa-desa terpencil.

2. Tema

Tema diperlukan untuk makin membuat fokus seorang penulis dalam melahirkan sebuah karya. Dengan tema maka kita akan memiliki koridor cerita yang efisien dan efektik. Tak bertele-tele menceritakan hal yang tak perlu, serta pemakaian kata yang saling berguna untuk sampai pada tujuan akhir, sebuah nilai moral yang akan disampaikan.

Misalnya, ingin membuat sebuah kisah asmara dengan latar belakang masa reformasi di Indonesia. Kisah utama yang seharusnya disuguhkan adalah cerita cinta pasangan tersebut, sementara kondisi masa reformasi menjadi latar belakang cerita yang menghiasi karya penulisan tersebut.

Tantangan dari penulisan fiksi ini merupakan cara meramu latar belakang dan tema utama sebuah cerita. Jangan sampai penulis terlalu menceritakan kisah cinta yang tak perlu, sementara kondisi era reformasi yang menarik justru hanya selewat mata saja. Perpaduan tema utama dan latar belakang, harus seimbang dan saling terkait sehingga menjadi sebuah jalinan kisah yang menarik.

3. Plot

Sejak awal seorang penulis sudah harus menyiapkan kerangka plot. Yang paling umum adalah plot 3 babak yang dikenal dalam novel dan film konvensional.

Tetapi tentu saja setiap karya yang bagus tak harus selalu mengikuti konsep tiga babak ini. Seperti pada novel-novel Virgina Woolf dan James Joyce sama sekali tidak mengikuti konsep ini. Dari pemikiran tokohnya, bisa saja meloncat pada realita keseharian lantas meloncat lagi ke pemikiran tokohnya.

Plot yang sudah harus Anda siapkan untuk sebuah cerita pendek ataupun novel kita-kira seperti sinopsis untuk diri Anda:

Babak 1: Protagonis, seorang lelaki jatuh cinta pada seorang perempuan dengan latar belakang era reformasi.

Babak 2: Suasana memanas, karena konflik dari keluarga perempuan yang tak menyetujui kisah cinta tersebut. Ditambah dengan kondisi makin kritis yang dihadapi negara karena situasi politik era reformasi yang memanas.

Babak 3: Akhir cerita. Situasi negara yang mengalami guncangan politik mencapai puncak. Bagaimana kelanjutan kisah pasangan ini tetap bertahan atau berpisah?

4. Karakter

Hal berikutnya yang perlu disiapkan merupakan pembentukan karakter atau tokoh cerita. Tokoh atau karakter dalam cerita yang dibuat harus dibuat sesuai dengan konteks. Jangan membuat karaktek tokoh masa 90-an, namun dicampur dalam setting cerita masa penjajahan Jepang di Indonesia.

Jika Anda menulis tentang seorang anak guru yang lahir di sebuah desa di Jawa Tengah, maka bahasa, tingkah laku, dan bahasa tubuh yang dideskripsikan harus sesuai dengan yang sudah dipaparkan sejak awal. Tentu saja, jika tokoh ini kemudian mendapat pendidikan, memberontak dengan keterbatasan yang dimilikinya, maka bisa membuat perkembangan kepribadian sang tokoh. Mulai dari seorang anak guru di desa yang berbahasa sederhana, kemudian karena pendidikan dan karena kegemarannya membaca maka dia mulai berbicara dan berlaku yang memperlihatkan jangkauan yang lebih luas.

Kebanyakan cerita yang ada menampilkan tokoh-tokoh yang saling bersebrangan. Konflik diantara perbedaan karakter tokoh tersebut menjadi bahan yang terus menerus menarik untuk digali.

5. Latar atau Setting Lokasi

Penentuan lokasi kejadian dalam cerita fiksi juga perlu dipersiapkan. Komponen setting lokasi menjadi penting karena berkaitan dengan logika dan penggambaran suasana kejadian.

Seperti contoh plot asmara di masa reformasi diatas. Setting lokasi kejadian harus dijelaskan berada dimana. Apakah di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi atau di luar negeri. Semakin detail setting lokasi kejadian, maka semakin baik. Seperti tak hanya di Kalimantan, namun lebih detail di Palangka Raya. Lebih detail lagi, makin lebih baik. Palangka Raya bagian mana? Di tengah hutan? Di desa pinggir sungai? Di pesisir pantai?

Pada akhirnya mempersiapkan setting lokasi, juga akan menguntungkan bagi penulis. Karena berarti menambah kaya bahasan cerita yang akan dipaparkan.

6. Akhir Cerita

Ini adalah hal pelik. Pembaca Indonesia umumnya menyukai akhir yang bahagia. Mereka sering marah dan kecewa jika sebuah cerpen atau novel diakhiri dengan kematian, perpisahan atau kekalahan. Namun, anda harus jujur pada diri sendiri apakah cerita ini layak untuk diakhiri dengan kebahagiaan atau dengan kepedihan. Jangan memaksa diri.

Kalaupun sejak awal sudah merencanakan mengakhiri dengan sebuah kesedihan, tak bisa mendadak saja membuat akhir yang sedih itu tanpa logika. Harus menyelipkan tanda-tanda itu di babak 1 dan 2, tanpa menghilangkan daya kejut yang kadang menjadi daya tarik penutup dari sebuah cerita.

V. Teknis Menulis Cerita Pendek

Cerpen sesuai dengan namanya berarti singkatan dari “Cerita Pendek”. Sebenarnya, tidak ada rumusan yang baku mengenai apa itu cerpen. Kalangan sasterawan memiliki rumusan yang berbeda-beda. Yang pasti dalam cerita pendek, dari segi kuantitas kata terdiri dari 500 sampai dengan 20.000 kata. Memiliki satu plot, watak, dan kesan.

Pertama, cerita pendek harus pendek. Seberapa pendeknya? Sebatas rampung baca sekali duduk, duduk ketika kita menunggu bus atau kereta api, atau sambil antre karcis bioskop. Cerita pendek harus ketat dan ringkas, tidak mengobral detail, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita atau menampilkan problem. Dan karena harus pendek, maka jumlah tokohnya terbatas, peristiwanya singkat, waktu berlangsungnya tidak begitu lama, kata-kata yang dipakai harus hemat, tepat dan padat, tempat kejadiannya pun juga terbatas, berkisar 1-3 tempat saja.

Kedua, cerita pendek mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Di dalam cerita pendek tak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa yang berbeda-beda.

Ketiga, cerita pendek harus ketat dan padat. Setiap detil harus mengarus pada satu efek saja yang berakhir pada kesan tunggal. Oleh sebab itu kata dan kalimat harus dibuat seirit mungkin. Membuat tulisannya menjadi ekonomis adalah salah satu keterampilan yang dituntut bagi seorang cerpenis.

Keempat, cerita pendek harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan. Itulah sebabnya dibutuhkan suatu keterampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup. Ya, meskipun merupakan hasil dari imajinasi dan fantasi tetapi harus juga logis atau masuk akal.
Kelima, cerita pendek harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karena ceritanya seperti masih berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung berhenti di situ.

Karena pendeknya, kita biasanya tidaklah menemukan adanya perkembangan di dalam cerita. Tidak ada cabang-cabang cerita. Tidak ada kelebatan-kelebatan pemikiran tokoh-tokohnya yang melebar ke pelbagai hal dan masalah. Peristiwanya singkat saja. Kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh, pun tidak berkembang, dan kita tidak menyaksikan adanya perubahan nasib tokoh, atau tokoh-tokoh ini ketika cerita berakhir. Dan ketika konfik yang satu itu terselesaikan, kita tidak pula tahu bagaimana kelanjutan kehidupan tokoh, atau tokoh-tokoh, cerita itu.

Sebuah cerpen meskipun singkat tetap harus mempunyai pertikaian dramatik, yaitu perbenturan kekuatan yang berlawanan. Baik benturan itu terlihat nyata ataupun tersamarkan. Sebab inilah inti suatu cerpen.

Di dalam cerita yang singkat itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, atau bisa juga sampai sekitar empat orang paling banyak. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh itu diungkapkan di dalam cerita. Fokus atau, pusat perhatian, di dalam cerita itu pun hanya satu. Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikan saja.

Namun pada kenyataannya banyak juga cerpenis terkenal yang melanggarnya. Misalnya, Edgar Allan Poe sering membuat ujung cerita yang tidak rampung, melambai-lambai ditiup angin alias misterius. Barangkali karena judulnya “misteri” maka pembaca justru senang berteka-teki dengan ujung cerpen yang tidak jelas atau tidak rampung tersebut.

Ernest Hemmingway-peraih Nobel sastra atas novel The Old Man and The Sea gemar membuat cerpen yang panjang-panjang dan memaparkan secara detil sekali karakter atau pemandangan alam pada cerpen-cerpennya. Sehingga boleh-boleh saja kita menambah kurangkan prinsip-prinsip tersebut sepanjang masih bisa dipertanggungjawabkan hasilnya.

Perlu ditegaskan pula bahwa cerpen bukan penggalan sebuah novel. Bukan pula sebuah novel yang dipersingkat. Cerpen itu adalah sebuah cerita rekaan yang lengkap: tidak ada, tidak perlu, dan harus tidak ada tambahan lain. Cerpen adalah sebuah genre atau jenis, yang berbeda dengan novel.

V.1. Komponen Dalam Sebuah Cerpen

1. Tema

Tema merupakan gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.

Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.

Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.

Cerpen yang baik dan benar biasanya menyajikan berbagai persoalan yang kompleks. Namun, selalu punya pusat tema, yaitu pokok masalah yang mendominasi masalah lainnya dalam cerita itu. Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas. Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.

2. Alur atau Plot

Alur atau plot merupakan rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Atau sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar.

Semua peristiwa yang terjadi di dalam cerita pendek harus berdasarkan hukum sebab-akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa. Jakob Sumardjo dalam Seluk-beluk Cerita Pendek menjelaskan tentang plot dengan mengatakan, “Contoh populer menerangkan arti plot adalah begini: Raja mati. Itu disebut jalan cerita. Tetapi raja mati karena sakit hati, adalah plot.”

Dalam cerpen biasanya digunakan plot ketat artinya bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tak bisa dipahami. Adapun jenis plot bisa disederhanakan menjadi tiga jenis, yaitu:

a. Plot keras, jika akhir cerita meledak keras di luar dugaan pembaca. Contohnya: cerpen-cerpen Anton Chekov, pengarang Rusia legendaris, cerpen-cerpen Trisnoyuwono yang terkumpul dalam Laki-laki dan Mesiu, cerpen-cerpen Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulannya Kejantanan di Sumbing.

b. Plot lembut, jika akhir cerita berupa bisikan, tidak mengejutkan pembaca, namun tetap disampaikan dengan mengesan sehingga seperti terus tergiang di telinga pembaca.
Contoh, cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam, cerpen-cerpen Danarto dalam Godlob, dan hampir semua cerpen Guy de Maupassant, pengarang Perancis menggunakan plot berbisik.

c. Plot lembut-meledak, atau plot meledak-lembut adalah campuran plot keras dan lembut. Contoh: cerpen Krawang-Bekasi milik Gerson Poyk, cerpen Bulan Mati karya R. Siyaranamual, dan cerpen Putu Wijaya berjudul Topeng bisa dimasukkan di sini.

d. Plot Campuran, tips dalam menyusun alur yang baik pada cerpen Anda salah satunya adalah buat paragraf pembuka yang menarik! Paragraf pembuka ini harus cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona. Jangan pula membuat “twist ending” (penutup yang tak terduga) yang dapat terbaca terlalu dini, usahakan supaya pembaca tetap menebak-nebak sampai saat-saat terakhir. Jika Anda membuat cerita yang bergerak cepat, misalnya cerita tentang kriminalitas, jagalah supaya paragraf dan kalimat-kalimat Anda tetap singkat. Ini adalah trik untuk mengatur kecepatan dan memperkental nuansa yang ingin Anda sajikan pada pembaca.

3. Penokohan

Yaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata hingga pembaca merasakan kehadirannya. Dalam cerpen modern, berhasil tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan citra, watak dan karakter tokoh tersebut. Penokohan, yang didalamnya ada perwatakkan sangat penting bagi sebuah cerita, bisa dikatakan ia sebagai mata air kekuatan sebuah cerita pendek.

Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam; sifat lahir (rupa, bentuk) dan sifat batin (watak, karakter). Dan sifat tokoh ini bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui:

> Tindakan, ucapan dan pikirannya
> Tempat tokoh tersebut berada
> Benda-benda di sekitar tokoh
> Kesan tokoh lain terhadap dirinya

Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.

Selain itu, jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita. Jika ternyata dialog tersebut tidak mampu mendukung tema, ambil langkah tegas dengan menghapusnya.

4. Latar atau Setting

Yaitu segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita. Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema dan plot cerita, karena latar harus bersatu dengan tema dan plot untuk menghasilkan cerita pendek yang gempal, padat, dan berkualitas.

Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.

Karena Anda hanya memiliki jumlah kata-kata yang terbatas untuk menyampaikan pesan Anda, maka Anda harus dapat memilih setting cerita dengan hati-hati. Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak.

Sebagai contoh, beberapa setting yang paling menakutkan bagi sebuah cerita seram bukanlah kuburan atau rumah tua, tapi tempat-tempat biasa yang sering dijumpa pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka. Buatlah agar pembaca juga seolah-olah merasakan suasana cerita lewat setting yang telah dipilih tadi.

5. Sudut Pandangan Tokoh

Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh dalam cerita. Jadi sudut pandangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.
Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:

Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya.

Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul” misalnya.
Sudut pandang campuran, di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.

Sudut pandangan yang berkuasa. Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandangan ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendensi. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.

V.2. Struktur Cerpen

Setelah mengerti betul definisi cerpen, karakteristik cerpen dan unsur-unsur yang wajib ada dalam membangun cerpen, maka sejatinya Anda sudah sangat siap untuk menciptakan sebuah cerpen. Sebelum menulis cerpen ada baiknya Anda mengetahui struktur cerita. Umumnya anatomi cerpen, apapun temanya, di manapun settingnya, apapun jenis sudut pandangan tokohnya, dan bagaimanapun alurnya memiliki anatomi sebagai berikut:
Situasi (pengarang membuka cerita)
# Peristiwa-peristiwa terjadi
# Peristiwa-peristiwa memuncak
# Klimaks
# Anti Klimaks
Atau,
# Perkenalan
# Pertikaian
# Penyelesaian

Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang. Kelemahan utama penulis cerpen pemula biasanya di struktur cerita ini. Cerpenis-cerpenis pemula biasanya banyak yang terjebak berpanjang-panjang ria dalam menulis pembukaan cerpennya. Mereka menceritakan semua, seolah takut para pembaca tak mengerti apa yang akan atau sedang mereka ceritakan. Akibatnya sering satu sampai dua halaman pertama karya mereka masih belum jelas akan menceritakan tentang apa. Hanya pengenalan dan pemaparan yang bertele-tele dan membosankan. Konflik yang seharusnya dibahas dengan lebih jelas, luas dan lengkap, sering malah disinggung sambil lalu saja. Pengakhiran konflik pun dibuat sekedarnya. Tahu-tahu sudah penyelesaian. Padahal inti dari cerpen adalah konflik itu sendiri. Jadi jangan sampai pembukaan cerpen menyamai apalagi sampai menelan konflik tersebut.

Tips Membuat Cerpen Menjadi Menarik
Agar cerpen Anda memikat pembaca, trik-trik berikut ini bisa dipertimbangkan baik-baik:

1. Moral Cerita
Carilah ide cerita yang menarik dan tidak klise. Mengulang ide cerita semisal “Bawang Merah dan Bawang Putih” adalah pilihan yang kurang tepat, karena akan tampak sangat klise dan menjadi tidak menarik pembaca.

Salah satu hal yang menyebabkan karya-karya cerpenis legendaris tetap populer hingga kini adalah cerpen mereka mampu menyampaikan pesan –moral cerita- yang kuat kepada pembaca. Maka, buatlah ide cerita Anda agar memiliki moral atau pesan yang tinggi. Hanya saja, memasukkan pesan kedalam cerita adalah hal lain. Butuh keterampilan –berbeda tiap penulis –untuk itu. Contoh buruk penyampaian moral cerita bisa Anda lihat pada tayangan sinetron religi. Karakter bersorban, bergamis, tiba-tiba muncul menyitir isi kitab suci dihadapan karakter antagonis yang langsung bertobat setelah mendengar nasehat itu. Pesan yang baik bukan merupakan dialog (ucapan karakter) yang berisi ayat-ayat suci, nasehat-nasehat kebajikan dalam cerita. Tetapi pesan yang bersifat tidak harfiah, atau muncul tersurat berbentuk teks dalam cerita. Moral cerita adalah kesimpulan yang ditarik dalam persepsi pembaca begitu selesai membaca. Moral ini bersifat holistik, sebagai ruh, spirit, sosok imajiner yang tersebar secara merata, utuh, pada semua elemen cerita; Karakter, setting, konflik & resolusi.

Buatlah lead, paragraf awal dan kalimat penutup cerita yang semenarik mungkin. Alinea awal dan alinea akhir sangat menentukan keberhasilan sebuah cerpen. Alinea awal berfungsi menggiring pembaca untuk menelusuri dan masuk dalam cerita yang dibacanya. Sedangkan kalimat akhir adalah kunci kesan yang disampaikan pengarang. Kunci kesan ini sangat penting, karena cerpen yang memberikan kesan yang mendalam di hati pembacanya, akan selalu dikenang.

2. Judul menarik
Buat judul cerita yang bagus dan menarik. Sebagaimana buku, cerita yang bagus tidak semuanya dibaca orang. Salah satu penyebabnya adalah kalimat pembuka yang buruk dan judul yang mati, tidak menggugah rasa ingin tahu pembacanya. M. Fauzil Adhim dalam bukunya Dunia Kata menjelaskan beberapa hal yang seyogyanya diperhatikan dalam menulis judul; Pertama, judul sebaiknya singkat dan mudah diingat. Kedua, judul harus mudah diucapkan. Dan yang ketiga, kuat maknanya.

3. Gambarkan bukan ceritakan!
Cerpen yang baik itu menggambarkan, bukan menceritakan. Show, don’t tell. Cerpen bukan sebuah kronolgis laporan. Tetapi mampu menampilkan, atau membuat pembaca aktif dan ikut hadir kedalam suasana cerita.

Gunakan dialog. Pembaca menyukai karakter berdialog dengan sesamanya. Pembaca merasa dilibatkan dalam cerita. Cerita lebih hidup dengan dialog, hingga membaca menjadi pengalaman yang mirip dengan menonton drama atau sinema. Narasi umumnya diselipkan sekedar pengantar transisi antar adegan. Pembaca bisa menjadi pasif oleh sebab kebanyakan narasi, dimana kisah melulu diceritakan oleh narator (penulis). Penulis yang baik ibarat sutradara dibelakang layar, tidak boleh berjejak didalam cerita. Biarkan karakter berinteraksi dengan pembaca lewat dialog-dialognya.

4. Buat kejutan
Buatlah kejutan-kejutan yang muncul tiba-tiba (bedakan dengan faktor kebetulan), jangan terjebak pada cerita yang bertele-tele dan mudah ditebak. Memberi Twist Ending adalah resep menulis yang tak pernah basi. Sebuah kejutan, akhir yang tak terduga. Tanpa kejutan diakhir cerita, ibarat sayur tak bergaram. Namun lakukan dengan sempurna. Sempurna karena pembaca tidak bisa menduga namun menerima kejutan itu masuk diakal, tidak klise, apalagi diada-adakan. Hindari akhir yang datar, apalagi mengambang. Pembaca menyukai kejutan; ‘ oh, ternyata..‘

5. Mengandung kebenaran
Cerpen harus mengandung kebenaran, keterharuan dan keindahan. Elizabeth Jolley, mengatakan, “Saya berhati-hati agar tidak membuat kesalahan. Sungai saya tidak pernah mengalir ke hulu.” Gabriel Garcia Marquez, sastrawan besar dari Kolumbia yang meraih nobel itu berkata, “Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi, padahal tidak satu pun baris dalam semua karya saya yang tidak berpijak pada kenyataan.”

6. Keep on your style
Ingat bahwa setiap pengarang mempunyai gaya khas. Pakailah gaya sendiri, jangan meniru. Gunakan bahasa yang komunikatif. Hindari gaya berlebihan dan kata-kata yang terlalu muluk.
Perhatikan teknik penceritaan. Teknik yang digunakan pengarang menyangkut penokohan, penyusunan konflik. pembangunan tegangan dan penyajian cerita secara utuh. Jangan sampai pembaca sudah jenuh di awal cerita. Untuk menghindari kejenuhan pembaca di awal cerita bisa kita gunakan teknik:
in medias res (memulai cerita dari tengah)
flash back (sorot balik, penyelaan kronologis)
Setelah Anda selesai menulis cerpen, jangan terburu-buru untuk mempublishnya. Endapkan terlebih dahulu dan Baca ulang! Ya, BACA ULANG! Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali. Perbaiki kembali cerpen Anda. Perhatikan setiap tanda baca dan aturan berbahasa yang baik, tetapi tetap tidak kaku. Jangan bosan untuk membaca dan mengedit ulang cerpen yang telah anda selesaikan.

Setelah cerpen kita selesai, maka sebaiknya Anda minta pendapat orang lain yang di anggap lebih tahu dan berpengalaman serta tidak sungkan untuk memberikan masukan kepada Anda tentang: isi cerita, gaya bahasa, dll. Bila perlu, mintalah pendapat pada 2 – 3 orang yang di anggap memahami tentang cerpen.

Akhirnya, saat Anda berniat menggoreskan pena menulis cerpen ingatlah pesan J.K. Rowling, siapa tahu ada manfaatnya, “Mulailah menulis apa saja yang kamu tahu. Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.” Lalu saat menulis cerpen ingat pesan Edgar Allan Poe, agar cerpenmu berbobot, “Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.”

Lampiran 1. Contoh Cerita Pendek

Pohon Penolong

Barjo kembali menatap jeruji sel dengan hati kelu. Antara percaya dan tidak, ia akhirnya kini menjadi tahanan. Menjadi orang jahat, seperti para kriminal lain. Menjadi bagian yang buruk dari masyarakat. Menjadi sampah yang harus dibuang dan dihancurkan.

Pusing di kepalanya tak juga berkesudahan. Mulai dari proses interogasi di kepolisian, semua membuatnya linglung.

Ia sama sekali tak paham, bahwa semua yang dilakukannya salah. Tak ada maksud sedikit pun ia berbuat seperti itu. Justru ia ingin menolong orang-orang dengan pengetahuannya. Namun seperti ada tangan hitam besar yang menahan kebenaran tersebut.

Barjo ingat desanya yang miskin, sangat memerlukan terobosan-terobosan untuk membangun ekonomi. Namun sebagai penanam jagung, tak ada yang bisa diharapkan lebih. Masih untung bila jagung dapat tumbuh normal di daerah tandus seperti tempat Barjo tinggal.

Tak banyak yang bisa diharapkan dari desa itu. Air sangat kurang, karena bila hujan tiba, air langsung merembes di tanah dan hilang di antara batuan kapur di bawahnya.

Jangankan untuk mandi, untuk keperluan bertahan hidup, air harus dipertahankan mati-matian. Mereka harus mengantre dari dini hari, berebut bersama ratusan warga desa lainnya. Menunggu bertangki-tangki jeriken, sebelum air mereka dapatkan dari sumber mata air yang berupa kucuran kecil.

Bila musim hujan datang, baru bisa mereka menampung air di kamar mandi, dalam rumah yang mereka biarkan terbuka atapnya.

Jagung dan singkong, hanya dua jenis pohon itu yang bisa tumbuh subur di sana. Sisanya rerumputan meranggas, dan pepohonan yang tak pernah berbuah.

Dari jagung dan singkong, Barjo berusaha sekarang. Pengetahuannya untuk mengawinsilangkan berbagai jenis tumbuhan membawa mimpinya menghasilkan jenis jagung dan singkong unggulan. Jenis jagung dan singkong yang berbeda dari yang lain. Berbuah gemuk, dan memberikan hasil panen yang lebih banyak.

Usahanya selama puluhan tahun sebenarnya mulai menampakkan hasil. Terutama untuk jagung, ia berhasil membuat yang lebih manis rasanya. Selain itu, jagung tersebut juga menghasilkan biji-biji yang lebih gemuk. Apalagi semua itu dihasilkan dengan tanpa menggunakan pupuk berbahan kimia, sehingga pertanian organik yang banyak didengang-dengungkan orang sebenarnya sudah berhasil dilaksanakan olehnya.

Banyak orang di kampungnya juga mulai merasakan hasil kerja Barjo. Karena Barjo tak pernah sungkan membagi ilmunya. Semua orang di desa diajarinya sehingga kebun-kebun mereka menghasilkan panen melimpah, meskipun dengan air yang kurang.

Lambat laun ekonomi desa juga mulai membaik. Makin banyak pembeli datang karena singkong dan jagung dari desa mereka terkenal berkualitas sangat baik. Hasil penjualan meningkat, dan rumah-rumah di desa juga makin layak huni.

Kecemerlangan sudah tampak di depan mata, saat Bupati datang ke desa mereka. Dengan bangga Bupati memanen jagung di desa Barjo, sebagai tanda desa terbaik dalam masa panen tahun tersebut. Banyak wartawan datang meliput keberhasilan itu, dan berita segera tersiar ke mana-mana.

Marti, istri Barjo juga turut bangga terhadap suaminya. Sebab kemana mereka pergi, orang-orang selalu menyapa dengan ramah. Semua tiba-tiba menjadi terang benderang. Pagi hari menjadi lebih cerah, dan malam hari terasa lebih damai.

Namun semua itu luruh seketika, saat polisi tiba-tiba datang ke rumah mereka. Polisi membawa surat penangkapan Barjo. Meski terjadi adu mulut mengenai penangkapan itu, akhirnya Barjo tetap dibawa ke kantor polisi, dan menjalani proses interogasi.

“Saudara tersangka melanggar peraturan mengenai hak paten,” kata polisi yang menginterogasi Barjo.

Barjo hanya terdiam mendengar tuduhan itu. Dalam hatinya, ia tak mengerti sama sekali dengan yang dituduhkan.

“Saudara mengembangkan jenis tanaman yang hak patennya sudah dimiliki perusahaan atau orang lain. Saudara juga menjadi tertuduh karena membagi informasi pengetahuan ilegal tersebut, dan menjual hasilnya tanpa sepengetahuan pemilik paten. Hal itu dilarang undang-undang,” kata polisi itu menjelaskan lagi.

Namun berbagai penjelasan tersebut seperti bersliweran lewat simpang siur di kepala Barjo. Tak ada yang ia paham sedikit pun sebab musabab dirinya dianggap bersalah.

Barjo hanya menunduk sedih saat dipaksa menandatangani berita acara penangkapan. Kini ia termangu memandangi pintu sel yang baru ditutup. Bunyinya berdentang keras, mengingatkan hidupnya sudah berubah menjadi terbalik.

Sudah seminggu ini istrinya belum juga membesuk. Marti baru datang sehari setelah ia ditangkap, selanjutnya hanya sesekali ia datang. Selain istrinya ada seorang ahli hukum yang disewa istrinya juga datang.

Kedatangan ahli hukum itu justru membuat kepala Barjo makin pusing. Apalagi dengan iming-iming semua akan beres, bila disiapkan uang dalam jumlah besar, katanya untuk mengurus proses di kepolisian hingga persidangan nanti.

“Saya percaya Mas Barjo melakukan semua yang dituduhkan itu karena niat baik. Jadi sebenarnya kita masih bisa melakukan pembelaan dengan dasar kebaikan tersebut,” urai Sukma, sang pengacara.

“Nanti di pengadilan, Jaksa dan Hakim bisa mengerti akan hal tersebut, agar hukuman bisa makin ringan. Bahkan seharusnya juga bisa vonis bebas, karena sebenarnya Mas Barjo tidak tahu-menahu mengenai berbagai ketentuan tersebut”, urai Sukma lagi dengan nada tanpa beban.

Barjo sedikit agak tenang dengan penjelasan Sukma. Kunang-kunang di kepalanya setidaknya terasa makin berkurang. Ia membayangkan dapat secepatnya pulang ke rumahnya lagi. Bertani lagi seperti sebelumnya, dengan hati yang lebih damai. Dengan lesu ia tertunduk dan menghela napas panjang, berdoa agar semua seperti yang diharapkannya.

Malam itu sudah berbatang-batang rokok habis dihisap Barjo. Padahal sebelumnya ia sudah berhenti merokok. Namun karena urusan kali ini, dia seperti menemukan jalan buntu. Rokok menjadi pelepasan rasa pening yang terus menggayuti kepalanya. Sekarang ia hanya berharap istri dan keluarganya bisa membantu menyelesaikan masalah pelik ini.

Terhitung mulai malam tadi, sudah satu bulan istrinya tak datang membesuk. Semenjak tiga bulan ditahan pihak berwajib, perlakuan istri Barjo memang terus berubah. Makin lama istrinya makin jarang membesuk. Sudah beberapa kali juga Barjo menghubungi, namun selalu saja mereka bertengkar di telepon. Terakhir bahkan istrinya mengancam akan maminta cerai.

“Kita sudahan saja sayang. Aku sudah tak tahan dengan masalah ini. Kamu tak salah, keadaan yang salah.

Sent : 17 Maret 2002″

Begitu bunyi pesan pendek di telepon genggam yang dipegang Barjo. Hampir saja telepon genggam itu dibantingnya, kalau tak ingat telepon genggam itu dipinjamnya dari polisi yang berbaik hati kepadanya.

Makin hari kelakuan istrinya juga makin menjadi. Terakhir ia dengar dari adiknya yang membesuk, kalau Marti kini sering terlihat berjalan dengan lelaki lain. Sementara anak mereka, Wahyu sering ditinggalkan di rumah neneknya.

Tak habis pikir Barjo menghadapi kelakuan istrinya. Mengapa perempuan yang dulu sangat dipercayainya itu tega memperlakukannya seperti itu. Ia justru ditinggalkan saat sedang jatuh.

“Sudah Mas Barjo, semua pasti ada hikmahnya. Justru sekarang Mas Barjo tahu, istri macam apa dia itu,” kata Joni, narapidana kriminal yang kebetulan satu sel dengan Barjo.

Menurut Joni yang berulangkali masuk penjara karena merampok, sudah sering ia mendengar cerita seperti itu. Ditinggalkan istri saat masuk penjara.

“Ketimbang pusing, ceraikan saja Mas, toh masih banyak perempuan lain,” kata Joni lagi dengan nada meyakinkan.

Kadang-kadang Barjo terhenyak juga dengan saran-saran yang diberikan narapidana lain. Mereka yang kalau dari luar penjara, disebut penjahat dan dianggap berhati keji, justru terasa lebih bijak dalam menghadapi hidup.

Sambil merenung usai menuntaskan nasi setengah basi, jatah makan penjara, Barjo kembali mendesah dan rebah tidur. Kelelahan karena terlalu banyak berpikir membuatnya tidur cepat malam itu.

Usai kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan, Barjo dipindahkan ke rumah tahanan di tengah kota. Suasana menjadi berbeda karena lebih banyak orang yang menghuni rumah tahanan ketimbang penjara di kantor polisi.

Namun masalah di kejaksaan lebih berat. Karena pengacaranya justru meminta uang lebih banyak. Sebelumnya ia telah mengeluarkan uang hingga 200 juta. Dana itu diperlukan sebagai kompensasi pengganti dari perusahaan yang menuntut pasal hak paten tersebut. Di kejaksaan ia kembali dihadapkan pada masalah dana yang luar biasa tak terkira menurut perhitungan di kepalanya.

“Kita harus sediakan dana itu untuk ganti rugi yang diminta penuntut. Dengan begitu maka saya pastikan Mas Barjo dapat vonis bebas dari hukuman,” kembali pengacaranya Sukma menjelaskan.

Lama-lama Barjo melihat Sukma seperti drakula penghisap darah. Ia sudah menjual mobil yang dimilikinya. Kini terancam tanah dan rumah tempat tinggalnya akan hilang juga.

“Kalau Mas Barjo tak bisa menyediakan dana tersebut, bisa dipastikan baru enam tahun lagi bisa bebas,” suara Sukma terdengar seperti mengancam.

Enam tahun bukan waktu yang sebentar di penjara. Barjo terhenyak mendengar waktu hukuman yang terasa berat itu. Bahkan terasa amat berat untuk maksud baik yang ingin dia lakukan.

Tak banyak kini yang dilakukan Barjo selain berdoa. Sering-sering ke masjid dan memohon kepada Yang Maha Kuasa. Di saat ia sedang putus asa tiba-tiba terdengar panggilan untuk namanya. Ia tiba-tiba dibesuk di dalam penjara. Sempat bertanya-tanya sebentar siapa yang datang. Ternyata istrinya sedang menunggu di ruang besukan. Barjo menatap Murti dengan tidak percaya. Ia seperti melihat Murti yang berbeda kini. Murti yang dulu berjilbab, kini membuka jilbabnya dan memperlihatkan rambut pirang barunya. Saat Barjo ingin menyalami Murti, ia menolaknya dan hanya memberikan sepucuk surat ke tangan Barjo.

Dibukanya surat itu perlahan. Setelah dibaca pelan-pelan ternyata itu adalah surat persetujuan perceraian yang harus ditanda tangani Barjo. Dengan perlahan Barjo meremas surat tersebut dan membuangnya di tempat sampah. Murti ditinggalkannya begitu saja. Malamnya Barjo mengirimkan pesan singkat dari telepon genggam yang sengaja diselundupkan ke dalam sel penjara tinggalnya.

“Tak berpengaruh kau mau tanda tangani atau tidak surat itu. Cerita kita sudah selesai. Murti

Sent : 23 Juni 2002″

Barjo termangu-mangu membaca pesan singkat itu. Tak terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia berusaha tak menangis, namun hatinya berkata lain. Ternyata sudah usai semua, dan ia tak bisa mempertahankannya.

Menjelang sidang vonis, Barjo seperti sudah tak terlalu peduli dengan keadaan. Ia sudah seperti robot tak bernyawa. Harapannya seperti sudah putus, dan tak ada lagi yang bisa dipercayainya.

“Saudara Barjo, karena bertindak kooperatif dalam kasus ini, kami menjatuhkan hukuman tujuh bulan penjara dipotong masa tahanan,” kata hakim lugas.

Barjo seperti tak percaya mendengar vonis hakim tersebut. Dengan vonis serendah itu, maka berarti ia bisa segera bebas. Mengingat ia telah menjalani penjara selama enam bulan kini.

Di luar persidangan, adik Barjo datang menghampiri. Ia tertawa dan menyalami Barjo karena hukuman Barjo ternyata tak berat sama sekali.

“Jangan bingung Mas, dana ganti rugi itu sudah disiapkan. Mas Barjo pasti segera bebas,” ucap adik Barjo kalem.

“Dengan uang darimana kau membayarnya? Jangan-jangan kau menjual rumah dan tanah,” tanya Barjo lemah.

“Bukan Mas, itu uang dari menjual pohon jati yang 20 tahun lalu kita tanam bersama ayah. Apa Mas Barjo tak ingat kalau dulu ayah mengajarkan kita menanam pohon. Sekarang pohon itu sudah besar dan layak dijual. Saya jual lima pohon jati itu, cukup untuk membayar biaya kebebasan Mas Barjo,” urai adik Barjo.

Barjo terdiam mendengar penjelasan adiknya. Tak terpikirkan olehnya, kebiasaan mereka menanam pohon waktu kecil dulu  bersama ayah, ternyata bisa membuahkan hasil sekarang.

Cilodong, 22 Oktober 2016

Cerita pendek ini merupakan bagian dari e-book Monyet-Monyet Tsunami yang telah diterbitkan di Google Playstore.
Bagi yang berminat membeli bisa mengklik gambar atau tautan dibawah ini.
https://play.google.com/store/books/details/Sulung_Prasetyo_Monyet_Monyet_Tsunami?id=wyl-DwAAQBAJ
Spread the love

One comment

  • Saya terkagum membaca artikel ini karena setelah membaca artikel ini pikiran saya menjadi terbuka. Saya sadar, selama ini saya terlalu tertutup dengan hal-hal yang baru dan merasa sudah tahu. Hal ini berimbas kepada saya yakni saya menjadi orang yang Sok Tahu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: