Balada Minah Ismail

Saya tiba di Bahorok saat hujan mulai mendera. Titik-titik air terdengar berat menjatuhi atap mobil. Tak lama hujan lebat turun dengan suasana gelap merudung.

Hujan membuat kaki berat melangkah. Rasanya ingin tetap berada di dalam mobil saja, ketimbang basah kuyup keluar. Tapi iming-iming kopi panas Medan, mengalahkan rasa malas itu. Dengan sigap, satu per satu dari kami beringsut keluar mobil. Kemudian berlari cepat menghindari hujan, menuju kedai di depan lokasi mobil diparkir.

Kedai itu terlihat sederhana saja. Dengan bangku-bangku panjang dan meja-meja berselimut plastik. Di atas meja tampak kue-kue di dalam toples berbagai warna.

Theo yang duduk pertama di sebuah kursi tersendiri dari kayu, disusul Ucok dan saya yang memilih sebuah bangku panjang tanpa sandaran. Tak lama duduk, Theo sudah mencomot satu singkong goreng.

“Kita tunggu Sindra di sini,” kata Ucok memecah kesunyian.

Mulut Theo tampak masih asyik mengunyah. Sementara saya sendiri sibuk melihat-lihat sekeliling kedai. Saya sempat berpikir, mengapa pemilik warung ini tak juga menampakkan mukanya? Apa kedai ini memang ditinggalkan tanpa ada yang menunggu?

“Sindra ada di mana sekarang?” tanya Theo.

Ucok tak menjawab. Hanya matanya tetap awas melihat keluar kedai. Tampak kemudian seseorang datang menembus hujan, dengan pelindung kepala sebatang daun pisang.

Seorang bapak tua tampak masuk. Sebentar ia menepiskan air yang merembes di bajunya. Kemudian ia terlihat tersenyum. Senyum lebar, di antara kerut wajahnya yang sudah kendor.

“Maafkan, tadi bapak melihat dulu keluarga di pengungsian. Jadi warung melompong tak ada yang menunggu,” ujar bapak itu.

Saya segera maklum, meski bertanya-tanya dalam hati mengenai pengungsian.

“Sejak banjir bandang bulan lalu, banyak orang tinggal di pengungsian. Sampai nanti siap tinggal di rumah-rumah baru lagi,” kata bapak itu lagi menguraikan, seperti mengerti isi benak saya.

Serentak bertiga di antara kami membulatkan mulut. Mengeluarkan kata “Ooh”, yang berarti semua maklum adanya.

Sebulan yang lalu memang beredar kabar sungai Bahorok meluap. Itu banjir terbesar yang pernah ada di sana. Sebelumnya, menurut cerita-cerita leluhur mereka, banjir tak pernah sampai sedahsyat itu. Namun, banjir bulan lalu, yang terjadi di malam hari, menghanyutkan rumah-rumah yang berada tak jauh dari sungai.

Sesaat saya bergidik membayangkan bencana tersebut. Hujan lebat di luar kembali mengingatkan saya, mengenai kemungkinan berulangnya lagi musibah itu.

“Apa sungai Bahorok jauh dari warung ini Pak?” tanya saya memastikan.

Bapak itu kembali tersenyum. “Ada di belakang warung. Tapi jauh di bawah,” urainya.

Ingin rasanya melongok sebentar ke belakang warung. Tapi hujan lagi-lagi membuat langkah tertahan.

Ucok juga bilang, agar nanti saja melihat sungai Bahorok, setelah hujan reda. Kemudian ia memesan kopi panas untuk kami bertiga.

Kepulan asap dan bau kopi yang menyengat sesaat membuat lupa pada bencana yang tadi diperbincangkan. Tapi petir yang tak henti menyambar seperti terus mengingatkan, dan memicu mulut untuk membicarakan hal itu lagi.

Ucok yang memiliki logat Batak asli, akhirnya yang angkat bicara. Ia mulai membicarakan ini dan itu kepada bapak pemilik warung. Kadang-kadang dengan menggunakan bahasa daerah Batak yang tidak saya pahami. Hingga akhirnya saya bertanya sendiri tentang masalah-masalah yang ingin saya ketahui kepada Bapak itu.

Berbagai macam cerita kemudian keluar dari mulut Bapak penjaga warung. Bapak itu kemudian saya ketahui bernama Siregar. Ia bilang sejak lahir sudah tinggal di sana. Saat sebelum hutan-hutan berganti menjadi perkebunan karet. Saat orangutan belum diberi rumah suaka seperti sekarang.

“Kasihan orangutan-orangutan itu. Katanya ada juga orangutan yang mati terseret banjir. Sekarang rumah suaka mereka pun hancur. Tak ada lagi yang mengurusi mereka. Orang-orang sibuk mengurusi diri sendiri,” kalimat-kalimat keluar dengan lancar dari mulut Pak Siregar yang mulai keriput.

“Wajar saja Pak, bagaimana mau menolong binatang, menolong diri sendiri saja sudah sulit,” suara Theo menanggapi.

“Sekarang cuma Sindra yang kadang-kadang datang ke rumah suaka orangutan itu. Dari dulu memang hanya dia yang paling peduli,” tambah Pak Siregar.

Mendengar tentang Sindra, kembali kami semua tersadar kalau sudah lama menunggu dia. Tapi sampai hujan sudah mulai reda, batang hidung Sindra tak juga muncul.

Ahhh…Sindra, ke mana kawan itu? Dari tadi sudah lama menunggunya,” gerutuan Ucok akhirnya keluar juga.

Mata Ucok kembali melihat keluar warung. Berharap ada seseorang yang datang, karena hujan hanya tertinggal gerimis.

“Apa Bapak tahu di mana rumah Sindra?,” tanya Ucok lagi.

Bapak itu menunjukan dengan sangat jelas, bahkan kemudian meminta seseorang yang baru datang ke warung itu untuk mengantarkan kami ke rumah Sindra.

Pemuda yang mengantar kami kemudian langsung pamit, setelah mengantar sampai di depan pagar rumah Sindra. Tak lama Sindra keluar dari rumahnya, setelah kami memanggilnya dari luar rumah.

Sindra ternyata seorang pemuda bertubuh atletis. Namun tinggi badannya lebih rendah dari Ucok. Rambutnya lurus, dengan kulit muka kecoklatan.

Setelah basa-basi, akhirnya kami ketahui kalau Sindra ternyata keturunan orang Jawa. Ayah dan ibunya merupakan transmigran yang dikirimkan pemerintah untuk membuka lahan baru di sana. Kini mereka hidup berkecukupan dari perkebunan karet.

“Lebih baik besok saja kita melihat suaka orangutan itu. Hari ini sudah terlalu sore. Kalau berjalan kaki lewat hutan butuh waktu dua jam. Bisa kemalaman di jalan pulangnya nanti,” urai Sindra.

“Apa tak ada jalan lain?,” tanya Theo yang tampaknya tak sabar.

“Bisa lewat sungai. Tapi baru hujan besar seperti ini, sungai Bahorok pasti besar lagi. Terlalu berbahaya kalau mau menyebranginya sekarang”.

Saya setuju dengan Sindra. Tak mau mengambil risiko menyebrangi sungai yang sedang meluap. Apalagi setelah tahu kalau Sindra tak punya pelampung apabila mereka tetap juga memaksakan diri menyebrangi sungai itu dengan perahu kayu secepatnya.

Akhirnya, untuk membunuh waktu senggang, kami melihat-lihat perkebunan karet yang berada tak jauh dari rumah Sindra. Kebun berusia tua itu menurut Sindra telah tumbuh sejak puluhan tahun silam.

Tampak batang-batang pohon karet berdiri berjajar rapi. Apabila kita melihat dari berbagai sudut, batang-batang pohon itu tampak seperti prajurit yang berdiri rapi dalam barisan. Namun bedanya, batang-batang pohon karet tampak berdiri miring.

“Itu karena angin yang biasa berhembus. Jadi arah pertumbuhan pohon karet mengikuti, hingga tumbuhan itu besar,” urai Sindra menjelaskan.

Tak puas hanya melihat-lihat kebun karet, saya dan Theo mengambil beberapa biji karet yang jatuh ke tanah. Setelah terkumpul beberapa biji, kami kemudian mengadunya. Permainan adu biji karet ini mengingatkan masa kanak-kanak dulu. Kemudian Ucok ikut serta, dan terlihat dirinya menjadi yang paling senang dan bersemangat dalam permainan itu. Saking kerasnya ia memukul, biji karet malah jadi hancur berantakan dan serpihannya melukai tangan. Kami kemudian pulang dengan tertawa-tawa, melihat Ucok terus meringis kesakitan.

Pagi sekali kami dibangunkan oleh Sindra. Kembali kopi khas Sumatera Utara mengepul di depan mata. Tak enak rasanya membuat tuan rumah sibuk sepagi itu. Segera saya bergegas mandi, dan bersiap untuk berkegiatan hari ini.

Orang tua Sindra melepas kami dari pintu depan rumah. Usai memakai sepatu, kami berpamitan dengan orang tua Sindra. Udara pagi ini terasa hangat, karena matahari tampak bersinar terang.

Saya, Theo, Ucok dan Sindra tetap memutuskan melalui jalur hutan menuju suaka orangutan. Kata Sindra kami harus melewati satu bukit, setelah itu turun lembah, baru kemudian melipir di satu punggungan dan turun menukik ke area suaka tersebut.

Sindra berjalan paling depan. Langkahnya sigap dan cepat. Saya di belakang Sindra, sementara Ucok dan Theo berjalan berurutan di belakang.

Bukit pertama kami lewati tanpa kesulitan. Butuh satu jam untuk mencapai puncak bukit. Theo tampak berkeringat, saya sendiri sedikit terengah-engah. Yang paling bisa disebut anak kota memang saya sendiri. Sementara Ucok dan Theo sudah sejak kecil tinggal di pedalaman Sumatera Utara. Jadi berjalan di hutan seperti ini, sudah bukan merupakan hal yang asing bagi mereka. Sementara saya hanya bermodal kebiasaan mendaki gunung di Jawa. Selebihnya, saya kebanyakan leyeh-leyeh di perkotaan.

Ucok hanya terkekeh saja melihat saya kelelahan. Ia kemudian menganjurkan Sindra untuk beristirahat sebentar di puncak bukit. Sekalian juga untuk melihat-lihat pemandangan. Hutan di daerah Bahorok masih terasa lebat. Tak banyak ruang kosong, dengan kanopi pohon terbuka yang bisa didapatkan.

Hingga akhirnya kami hanya duduk-duduk saja di bawah sebuah pohon besar, sambil mengatur napas kembali. Tak sampai setengah jam Sindra sudah kembali mengajak berjalan. Rasa-rasanya ia sudah tak sabar.

“Sudah lama juga saya tak melihat kondisi suaka orangutan itu setelah banjir bandang dulu. Saya hanya bisa melihat dari pinggir sungai Bahorok, belum pernah lagi melihat dari dekat,” kata Sindra bercerita sambil berjalan.

Kini di hadapan kami terdapat sebuah lembah. Sindra terus bercerita sambil menuruni lembah itu. Dulu ia sering datang ke suaka itu. Mungkin hanya Sindra yang paling mengenal seluk-beluk suaka itu, karena saking seringnya ia mendatanginya.

“Petugas balai konservasi saja jarang datang melihat suaka, Sindra malah lebih sering menengok. Sampai dibilang kuncen suaka si Sindra ini,” urai Ucok menyela dari belakang.

“Habis kasihan Mas sama orangutan itu. Mereka tak ada yang urus,” balas Sindra.

Saya sendiri hanya geleng-geleng kepala saja. Cerita lama kembali terulang, pegawai yang dibayar negara mengurus sesuatu justru lebih tak peduli ketimbang orang-orang di sekitarnya.

“Kadang saya membawa pisang berkarung-karung, kemudian saya bawa menyebrang untuk diberikan ke 0rangutan. Kasihan mereka kelaparan karena tak ada yang mengurus,” imbuh Sindra lagi.

Lain-lain lagi cerita Sindra, tanpa pernah ia menyalahkan petugas balai konservasi atau pemerintah. Saya mendengarnya dengan rasa takjub. Yang saya ingat, pernah melihat orangutan di kebun binatang. Kesan saya orangutan itu binatang pintar, yang paling mirip dengan manusia. Mungkin kalau teori evolusi Darwin benar, orangutan itu tinggal hanya satu tahap evolusi lagi untuk menjadi manusia.

Sedang asyiknya berpikir, tiba-tiba Sindra yang berjalan paling depan berteriak. “Hati-hati di depan ada Minah. Itu orangutan paling galak, yang mengganggu siapa saja yang lewat”.

Mendengar teriakan Sindra, kami berempat segera bersiap. Semalam sebelum tidur Sindra memang sempat bercerita. Ada seekor orangutan betina bernama Minah, sering mengganggu orang yang lewat. Ia biasa menunggu di pohon-pohon sebelum masuk ke daerah suaka orangutan. Sasarannya barang-barang yang kami bawa, karena ia mencari makan dengan cara seperti itu.

Sindra bilang, meskipun betina, tapi orangutan dewasa rata-rata memiliki tenaga yang kuat. Terutama lengan dan kakinya karena mereka terbiasa bergantung di dahan-dahan pohon. Satu lagi yang harus diwaspadai adalah gigitannya. Gigitan orangutan terkenal sangat sukar sekali dilepaskan. “Satu-satunya cara melepaskan gigitan orangutan cuma dengan memukul kepalanya, hingga gigitannya lepas,” urai Sindra mengajarkan.

Hal itu juga yang paling teringat di kepala saya. Dan sekarang tak ada lagi yang paling saya cari selain dahan pohon kuat sebagai senjata.

Minah kabarnya menjadi makin beringas setelah banjir bandang melanda Bahorok. Ia seperti preman yang berniat merampas barang bawaan orang yang melintas.

Sindra tampak beringsut maju ke muka. Wajahnya melihat-lihat ke rerimbunan pohon lebat di atasnya. Sementara Theo, saya, dan Ucok berjaga-jaga di belakangnya.

Saya juga mencari-cari posisi Minah berada. Agak sulit mencarinya karena Minah seperti pintar bersembunyi untuk mengelabui lawan. Hingga akhirnya tubuh Minah sedikit terlihat setelah Sindra melempari pohon di depannya dengan batu-batu kecil.

Terdengar Minah menggeram. Wajahnya terlihat sekilas dengan taring yang sengaja dikeluarkan. Ia tampak marah dan melompat-lompat pada sebuah dahan besar. Membuat dahan pohon pijakannya tampak bergoyang.

Sindra tetap menyarankan kami waspada. Ia memanggil nama Minah berkali-kali, dan berusaha mengusirnya. Tapi tampak Minah bergeming di tempatnya. Sindra mencoba mengelabuinya dengan melempar makanan ke arah menjauh dari posisi Minah sekarang berada. Umpan tersebut mengena, Minah tampak beringsut menjauh untuk mencari makanan tersebut.

Harus diakui strategi yang dilakukan Sindra sangat jitu. Ia mengalihkan perhatian Minah dengan melempar makanan menjauh. Dengan begitu Minah tak akan fokus kepada kami.

Saat Minah bergerak mencari, Sindra segera memberikan tanda agar kami bergerak cepat menjauh. Meski jalan terlihat mendaki, kami berhasil melewati adangan Minah dengan tangkas. Mungkin karena rasa takut juga. Sama seperti anak kecil yang ketakutan karena dikejar anjing galak.

Saya baru berhenti berlari setelah napas seperti mau putus. Ternyata tak hanya saya saja, Theo dan Ucok juga tampak tersengal-sengal. Mereka berhenti di belakang saya, dan bersandar pada sebuah pohon.

Iihhh…bahaya sekali si Minah itu. Kau lihat giginya yang tajam bertaring itu. Tak terbayangkan kalau sampai digigitnya,” kata Ucok dengan napas masih terengah-engah.

Kami hanya saling memandang. Setelah itu tertawa terpingkal-pingkal. Terutama saat menyadari kalau sendal gunung yang dipakai Theo rusak sebelah. Padahal ia sendiri tak menyadarinya.

Perjalanan kami lanjutkan setelah Theo membenarkan tali sepatu gunungnya dengan menggunakan lakban. Jalur sekarang terlihat menurun tajam, sebelum akhirnya masuk ke area suaka orangutan.

Saat menuruni bukit, saya baru menyadari kalau keputusan kami mendatangi suaka itu merupakan tindakan yang berbahaya sekali. Bagaimana tidak, dengan satu ekor orangutan bernama Minah saja kami sudah kewalahan menghadapi. Bagaimana nanti harus menghadapi sekelompok orangutan liar, yang jumlahnya bisa puluhan ekor.

Benar saja, saat mata akhirnya melihat sebuah kandang besi, tampak puluhan orangutan datang merubung dari berbagai arah.

Sindra hanya mengangkat dan mengibas-ngibaskan tangannya untuk membuka jalan. Orangutan yang berbulu merah itu tampak sedikit menyingkir. Memberi jalan bagi kami berempat. Pandangan mata mereka bermakna macam-macam, tapi tak pernah lepas dari tas-tas yang kami bawa.

Lokasi suaka itu tampak porak poranda. Kecuali satu kandang besi dengan beberapa orangutan di dalamnya. Sindra kemudian berusaha menghancurkan gembok kandang itu dan kemudian membiarkan orangutan di dalamnya keluar bebas.

“Setelah banjir tak ada yang memberi mereka makan. Jadi lebih baik dibiarkan bebas saja,” kata Sindra pelan.

Dengan masih berjalan dengan tak berjauhan satu sama lain, kami melihat-lihat lokasi lain di suaka tersebut. Tampak sebuah pondasi masih tersisa di pinggir sungai. Kata Sindra dulu di situ ada bangunan tempat petugas tinggal. Sekarang bangunan itu sudah hilang karena terbawa arus banjir sungai Bahorok. Sementara yang tersisa hanya pondasi saja, dengan lantai keramik putih mengkilap.

Tak ada bangunan-bangunan lain tersisa. Tampaknya semua sudah habis diterjang banjir. Bahkan, hingga pintu gerbang ke suaka sudah amblas terbawa air.

Puas melihat sekeliling, Sindra mengajak menuju sebuah tempat dengan pohon-pohon besar menaungi. Di antara pohon-pohon itu tampak tangga menuju sebuah rumah pohon. Sindra mengajak kami naik ke rumah pohon itu. Sementara ia naik ke rumah pohon di sebrangnya.

Tak lama ia mengeluarkan isi tas miliknya. Terlihat sesisir pisang kini ada di tangannya. Kemudian ia seperti memanggil sebuah nama.

“Ismail…Ismail,” teriak Sindra kencang.

Berulang kali Sindra memanggil nama itu. Tanpa maksud yang kami mengerti. Theo tampak menyenggol badan Ucok, menanyakan dengan bahasa tubuh, apa maksud Sindra tersebut. Ucok hanya mengangkat bahu.

Sudah lima menit Sindra berteriak-teriak. Tiba-tiba sekelompok orangutan di bawah kami berteriak menjerit-jerit. Suasana seketika dipenuhi keributan suara jeritan.

Tiba-tiba entah dari mana datangnya, muncul sesosok tubuh orangutan besar. Lebih besar dari Sindra. Bulu tubuhnya tampak juga sudah teramat panjang, hingga orangutan besar itu seolah memiliki surai di sekeliling wajahnya. Bulu panjang itu juga memenuhi tubuhnya, hingga ia tampak seperti memakai jubah.

Sebentar ia melihat kepada kami. Wajahnya tampak tanpa ekspresi apa pun, dengan pipi agak menghitam dan berbentuk pipih. Ia melengoskan wajah dari kami, sebelum akhirnya menghampiri Sindra.

Sekarang kami lihat Sindra seperti hendak diterkam oleh orangutan besar itu. Tapi dengan tenang Sindra justru mengangkat tangan, dan memberikan beberapa pisang.

Sekejap semua pisang-pisang habis dimakan orangutan besar itu. Lengkap dengan kulit-kulitnya yang hanya sedikit dilepeh dari mulutnya. Ia tampak kemudian menggeleng-geleng, saat Sindra menunjuk ke arah kami bertiga. Namun akhirnya ia beringsut juga seperti akan menghampiri kami.

Ingin copot rasanya jantung ini, saat orangutan besar itu benar-benar seperti akan menghampiri. Saya berteriak agar Sindra menghentikannya.

“Jangan takut, itu Ismail. Hanya ingin berkenalan,” teriak Sindra.

Ismail tampak kemudian bergantung-gantung, berpindah-pindah dahan. Pada dua buah sulur pohon, ia kemudian membentangkan kedua tangannya. Kini terlihat seluruh postur tubuh Ismail. Penuh keagungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan bernama orangutan.

Sepintas saja melihat Ismail seperti artis penyanyi, dengan rumbai-rumbai di tangannya. Sesaat juga terpikir kalau Ismail ini mirip seperti pesenam yang sedang bertarung di ajang olimpiade. Berdiri dengan tangan dan kaki terbuka lebar, bergantung pada dua buah sulur pohon. Namun saat melihat wajahnya, kembali saya tersadar bahwa Ismail adalah orangutan terbesar yang ada di suaka tersebut.

Theo hanya bisa bengong melihat atraksi yang diperagakan Ismail. Sementara Ucok justru bertepuk tangan. Saya sendiri terkesima campur kagum. Selain kagum pada Ismail, juga pada Sindra yang berhasil menjadi kawan bagi Ismail. Persahabatan yang sangat sulit dimengerti, namun bisa dipahami sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Di antara kebodohan-kebodohan saya dalam mencerna, Ismail terus bergerak menjauh. Ia kemudian tampak menghilang di antara rerimbunan pohon.

Di pinggir sungai kami berempat duduk istirahat. Sindra tampak ditemani seekor orangutan betina. Sementara Theo dan Ucok sibuk mencari batuan di pinggir sungai. Sambil menunggu waktu untuk kembali, saya sibuk mencatat cerita Sindra mengenai Minah dan Ismail. Berikut catatan yang berhasil saya buat.

Bohorok, 23 Desember 2007

Minah sebenarnya adalah orangutan betina yang cakap. Di antara orangutan lain di hutan itu, hanya Minah yang paling pintar. Minah mampu membuat sarang lebih rapi dari betina lain. Minah juga pintar mencari makanan dan air untuk keperluan keluarganya.

Karena kepintaran-kepintaran itu, Minah menjadi pilihan Ismail, orangutan paling besar dan paling ditakuti di kelompok orangutan hutan Bahorok. Ismail adalah pemimpin bagi mereka. Ismail juga yang dianggap sebagai penyelamat bila ada masalah-masalah diantara orangutan di sana.

Mulanya Ismail dan Minah kawin dan memiliki anak. Hingga satu saat datang Christine, seorang peneliti wanita ke hutan tersebut. Christine berniat meneliti mengenai kehidupan orangutan di hutan tersebut.

Untuk tujuan itu, Christine berusaha hidup sedekat mungkin dengan kelompok orangutan pimpinan Ismail. Christine bahkan hidup bersama mereka. Dia bahkan tinggal di sebuah rumah pohon, dekat dengan sarang-sarang sekelompok orangutan itu tinggal.

Namun seperti layaknya perempuan, Christine juga mengalami haid sebulan sekali. Kehidupan yang sulit di dalam hutan membuat darah haid Christine kadang merembes keluar tanpa bisa dikendalikan. Bau darah itu yang membuat birahi Ismail menggejolak. Hingga terjadi perkosaan yang dilakukan Ismail terhadap Christine.

Sulit digambarkan, pascaperkosaan tersebut Christine justru melanjutkan penelitian hingga pada sisi-sisi hubungan seksual antara mereka berdua. Hal itu yang kemudian membuat Minah menjadi cemburu.

Minah yang dibakar rasa cemburu kemudian merencanakan pembunuhan Christine. Pada sebuah kesempatan, ia mendapat peluang tersebut. Saat itu hujan teramat deras, dan membuat sungai meluap. Dengan jeritan-jeritan memilukan Minah berusaha memancing Christine keluar dari rumah pohon. Kemudian Minah menarik tangan Christine dan membawanya ke sebuah dahan pohon rapuh di atas sungai. Ismail yang mengetahui maksud jahat tersebut terlambat datang menolong Christine. Ia sudah jatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus sungai. Namun Christine tak sempat terselamatkan dari gulungan ombak sungai yang menggelora. Meski Ismail sempat ikut berenang di sungai, namun arus sungai terlalu cepat membawa Christine. Ismail selamat karena bisa meraih sulur-sulur pohon yang menjulur di pinggir sungai.

Setelah kejadian itu, Ismail teramat marah kepada Minah. Ismail bahkan mendiamkan Minah begitu saja. Setelah itu Minah yang penuh kasih berubah menjadi beringas. Terakhir Minah banyak menganggu manusia, yang dianggapnya menjadi sumber malapetaka bagi hidupnya.

Jakarta, 3 Oktober 2016

*******

Cerita pendek ini merupakan bagian dari e-book berjudul Monyet-Monyet Tsunami yang telah diterbitkan Google Playstore.
Bagi yang berminat membeli dapat mengklik gambar atau tautan dibawah ini.
https://play.google.com/store/books/details/Sulung_Prasetyo_Monyet_Monyet_Tsunami?id=wyl-DwAAQBAJ
Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: