Ditimpuki Karena Meracuni Sungai Alas

Sekarang-sekarang ini harap berhati-hati, bila ingin berniat merusak alam. Setelah hutan di moratorium untuk penebangan, di sungai Alas Aceh Tenggara, meracuni sungai bisa berakibat cedera fatal karena ditimpuki warga.

Kalau mau bicara tentang kekayaan flora dan fauna, kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di provinsi Nangroe Aceh Darussalam merupakan salah satu jagoannya. Bagaimana tidak, ada 3500 jenis flora ada disana, belum lagi 130 jenis mamalia, 325 jenis burung dan 38 jenis satwa langka didalamnya.

Berbagai flora dan fauna tersebut tersebar di dataran tinggi pegunungan, dan lembah-lembah yang mengalir sungai jernih didalamnya. Salah satu sungai yang terkenal merupakan sungai Alas, yang terletak di bagian Aceh Tenggara.

Lawe atau sungai Alas berasal dari nama suku Alas yang bermukim di sana. Kata Alas berasal dari bahasa Alas yang berarti tikar. Nama tersebut menggambarkan tanah Alas yang membentang datar, seperti tikar, disela-sela bukit barisan.

Di pinggir-pinggir dan di dalam sungai Alas, hidup dan tumbuh bermacam-macam jenis tumbuhan, serta satwa. Termasuk yang paling mudah dilihat adalah kupu-kupu dan ikan jurung.

Jenis kupu-kupu di tepi sungai Alas, Aceh.

Kupu-Kupu

Seperti kupu-kupu, banyak terdapat dipinggir-pinggir sungai Alas. Kupu-kupu berwarna putih terlihat dominan. Sebagian kecil berwarna hitam, kuning dan coklat. Kupu-kupu berwarna putih akan terlihat bergerombol, dipinggir sungai. Diantara gerombolan tersebut, ada satu atau dua kupu-kupu berwarna lain.

Doni, warga sekitar yang sempat diwawancarai mengatakan kalau kupu-kupu yang berwarna putih sebenarnya memiliki pemimpin.

“Biasanya pemimpin kupu-kupu gampang terlihat bila sedang terbang berbaris. Yang berada paling depan adalah pemimpinnya,” kata Doni.

Kupu-kupu berwarna putih, memang terlihat yang paling senang terbang. Ada gerakan sedikit dari benda sekitar, mereka akan terbang. Angin berhembus kencang sedikit, gerombolan kupu-kupu putih itu akan terbang bersama dan berputar-putar, membentuk barisan.

“Ambil yang pemimpinnya, lalu bila kita berjalan membawa pemimpinnya, kupu-kupu yang lain akan mengikuti,” imbuh Doni lagi.

Sayangnya teramat sulit mencari pemimpin kupu-kupu putih tersebut. Sebab bila sudah berkumpul dengan gerombolannya lagi, sulit membedakan mana yang pemimpin dan bukan, karena semua memiliki warna yang sama.

Seorang penduduk di tepi sungai Alas, Aceh yang menggantungkan hidupnya dari mencari ikan Jurung.
(dok. www.chikrini.blogspot.com)

Siap Ditimpuki

Puas bermain dengan kupu-kupu, Daniel, penunjuk jalan tim kami menunjukan lokasi ikan Jurung berada. Ikan tersebut sudah terkenal keberadaannya di sepanjang sungai Alas. Banyak penduduk juga suka memakannya sebagai santapan sehari-hari.

“Tapi tak sembarangan bisa menangkap ikan Jurung disini,” kata Daniel mengingatkan.

Sebab berdasarkan hasil mufakat masyarakat disepanjang sungai, cara menangkap ikan Jurung, juga harus memperhatikan kelestariannya. Seperti hanya bisa menagkap ikan dengan pancing, jaring atau listrik saja.

“Bila kedapatan ada yang menebar racun di sungai untuk menangkap ikan, maka siap-siap saja ditimpuki warga,” tukas Daniel.

Kesadaran warga Alas untuk memperhatikan kelestarian ikan Jurung memang besar. Meskipun mereka menangkap ikan Jurung hampir tiap hari, namun cara menangkap menjadi peraturan tak tertulis yang harus ditaati. Bila menangkap dengan hanya menggunakan jarring, pancing atau listik, maka dianggap hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun bila menggunakan racun, maka bisa membunuh anak-anak ikan Jurung juga. Maka pantas bila penduduk marah, bila ikan Jurung diracun, karena berarti bahan makanan mereka untuk masa depan, otomatis akan hilang juga dengan musnahnya anak ikat yang turut mati diracun. (sulung prasetyo)

Spread the love

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: