Kenangan Sore di Sungai Citarum

Menyenangkan rasanya bisa kembali melihat sungai. Apalagi lengkap dengan ombak berbuih dan pemandangan hijau dipinggir-pinggirnya. Di desa Bantar caringin, yang merupakan salah satu perkampungan di pinggir sungai Citarum, sekarang saya berdiri. Setelah menempuh sekitar empat jam perjalanan melelahkan, dari Jakarta menuju Bandung.

Udara pagi yang terik, membangunkan dari dingin malam pertama menginap di kampung tersebut. Mengantar mata pada sekelompok empang dibelakang rumah. Lengkap dengan deru air di kejauhan. Tak sabar rasanya hati, ingin menjemput sungai-sungai itu. Merasakan kembali riuh deru dan dingin arusnya.

Di kejauhan tampak sekelompok anak muda, riang mengangkat-angkat perahu. Akan mengarung mereka tampaknya. Memang, deru air sungai itu benar mengundang hasrat. Melecut niat petualang untuk mencobanya.

Namun, aroma sungai seperti menahan. Ada yang salah tampaknya, pada bau yang ditimbulkan sungai ini. Menimbulkan malas masuk ke dalam riaknya. Dan memutuskan langkah kaki, menanjak ke hulunya.

Sang Hyang Tikoro di sungai Citarum. (phoro: dok. sulung prasetyo)

Sang Hyang Tikoro kemudian melenyapkan kecewa. Deretan batu bergantung pada akar, menghias kiri kanan sungai. Di bawah deretan batu itu, bersusun cekungan yang menyimpan misteri. Katanya, Norman Edwin, petualang kawakan Indonesia, pernah mau mati didalamnya.

”Kalau batu-batu itu jatuh, berarti dunia akan kiamat,” ujar seorang teman, sambil menunjuk ke batuan yang terikat akar.

Siang kemudian menjelang. Pak Udeh, pemilik rumah tinggal sementara kami mulai menawarkan makan siang. Sayur lodeh, ikan asin plus sambal, membuat lidah berloncatan. Memanasi siang yang sudah panas.

Baru menjelang sore, kaki kembali mau melangkah keluar rumah. Mencoba mengamati kembali kehidupan pinggir sungai. Beberapa peladang tampak hilir mudik, bangga membawa kerbaunya. Mengingatkan pada sawah-sawah yang membentang sedikit, dipinggir sungai.

Ketika menyambangi sawah-sawah itu. Para petani tampak mulai mengemas peralatannya. Membasuh kaki pada aliran sungai, dan berjalan melenggang pulang ke rumah. Sementara diujung barat, matahari mulai jingga menenggelamkan diri. Di deretan pegunungan, di hulu sungai Citarum itu.

Menjelang malam, kami tinggalkan semua keindahan itu. Bersama deru motor, menuju Bandung. (Sulung Prasetyo)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: