Menelusuri Lorong Bawah Tanah Sawarna

Tali kernmantle putih bermerk ‘rivory’ sudah gagah terpasang, pada dua buah tambatan yang disatukan.  Satu persatu pengaman pada tubuh sudah terpakai. Chest harness dan sit harness, satu buah jummar tergantung foot loop yang terkait oleh sebuah webbing. Sementara croll dan autostop terkunci mati pada sebuah maillon besar di perut. Sekarang sudah siap untuk menuruni lorong dalam didepan mata. Lorong gelap selebar setengah meter yang merupakan pintu masuk ke lembah dalam gelap bumi Sawarna, Bayah, Jawa Barat.

Keseluruhan anggota tim berjumlah tiga belas orang. Dengan tim penelusuran sepuluh orang dan sisanya tim non teknis. Semua genap berkumpul di rumah Pak Aip, Sekdes Desa Sawarna dengan berbagai rute tempuh masing-masing.

Menuju Sawarna

Perjalanan menuju Sawarna bisa dipilih menjadi dua pilihan jalur alternatif. Bisa melalui jalur barat, yaitu melalui Rangkasbitung  menuju arah Malingping. Pemandangan indah pinggir pantai akan terlihat ketika melewati Malingping menuju tujuan selanjutnya, Pasar Bayah.

Ke Sawarna bisa juga melewati Bogor, naik bus menuju Pelabuhan Ratu. Tiba di terminal Pelabuhan Ratu terus naik bus sampai pertigaan Cibayawak atau Pasar  Bayah dengan biaya 5000 perak.

Dari Pasar Bayah perjalanan dilanjutkan menaiki mobil jeep bergardan empat menuju Desa Sawarna. Kendaraan jeep yang hanya ada sampai pukul lima sore ini memang kendaraan yang paling cocok untuk jalur menuju Sawarna.

Kondisi jalan terlihat agak menyedihkan, membuat badan terus terguncang sampai dua jam ke depan. Rute jalan dimulai dengan melewati pesisir pantai putih Pulau Manuk. Kemudian melewati jembatan berbadan sebelah yang bikin tegang mata yang melihatnya. Setelah lewat  jembatan baru akan memasuki daerah hutan suaka alam yang konon masih sering terlihat macan didalamnya.

Seperempat perjalanan jeep akan menukik turun menuruni jalan sempit berbatu gamping dan berlumpur tebal, pertanda pintu gerbang menuju Desa Sawarna. Hamparan pohon kelapa hijau berbadan bengkok akan memberikan salam selamat datang kepada anda. Lautan biru berbatas horison dan berpantai putih akan terlihat jelas di mata saat menyelesaikan turunan tajam. Itulah Pantai Ciantir. Pantai kebanggaan penduduk Sawarna.

pantai Ciantir di Bayah, jawa Barat.

Penelusuran

Setelah melepas lelah dan bersih –bersih badan, briefing untuk kegiatan esok hari dilakukan. Diputuskan besok kami akan menelusuri Gua Bayah yang mempunyai pintu masuk vertikal sejauh 30 meter kebawah. Leader yang di percayai memimpin perjalanan ini adalah Ucup. Pukul 8 pagi besok kami akan memulai perjalanan.

Selesai makan malam kami mulai beranjak mencari lapak untuk istirahat. Ada beberapa anggota tim yang memutuskan memilih  tidur di bawah naungan bintang malam dipinggir Pantai Ciantir nan indah.

Delapan anggota tim sudah bergerak menuju pintu masuk gua setelah sarapan pagi selesai di lahap. Perjalanan menuju pintu masuk gua ternyata juga tidaklah mudah. Kami harus menyeberangi sungai Cisawarna yang membelah desa ini. Sungai berwarna coklat ini  berarus cukup kuat, cukup membuat kaki goyah karena batuan licin dan berat beban yang dibawa.

Selesai menyeberangi sungai, lautan tanaman padi yang mulai menguning memenuhi pandangan. Berjalan di pematang sawah ternyata juga perlu keahlian khusus, jangan sampai kita terpeleset dan masuk lumpur di dalam sawah.

Lewat pematang sawah jalan kemudian mendaki ke arah bukit, letak pintu gerbang gua berada. Setelah mendaki tanah licin yang menuju puncak bukit selama 15 menit tibalah kita di pintu masuk sempit gua, yang berbentuk seperti bibir berlebar setengah meter.

Tambatan segera dipasangkan pada sebuah akar pohon yang kebetulan mencuat keluar. Dipadu dengan tambatan lain pada celah bolong dinding maka terbentuklah sebuah ‘Y’ anchor, sebagai pengaman utama untuk menuruni gua ini.

Ucup sebagai pemimpin perjalanan mulai bergerak kisaran pukul sepuluh pagi. Disusul orang kedua, Sabitha, seorang pengarung jeram perempuan yang mencoba mengenali keindahan sebuah gua.

Agung “gaung” sutiastoro, yang melihat adanya friksi tali pada dinding gua, memutuskan membuat sebuah runner tambahan dengan bermodal sebuah webbing pendek dan sebuah carabiner yang bertumpu pada celah bolong dinding gua di arah lawan tali menjulur. Terlihat tali lepas dari friksi setelah bagian atas tali di kaitkan pada runner itu.

Semua dari kami berkumpul di dasar gua pukul setengah dua siang. Agung memutuskan naik kembali keatas, setelah mendengar ada anggota tim yang sakit dan minta diantarkan segera ke kota. Ditemani Tajid, mereka bertiga segera membawa si sakit ke kota terdekat.

“Cuma ada gelap ketika menuruninya. 15 meter kebawah ada sebuah teras. Teras selebar cukup untuk berdiri empat manusia dewasa. Tali agak friksi pada dinding gua. Seharusnya dibuat loop disana, tapi sisi dinding tidak menyisakan celah untuk tambatan…. 15 meter lagi turun ke bawah akan melihat serakan batuan gamping ….. itulah dasar”, tutur Ilham menjelaskan.

Dasar gua memang berupa serakan batuan gamping berdasar miring menuju sebuah ruang besar berluas setengah ruangan belajar sebuah sekolah dasar. Lilin dinyalakan untuk membantu penglihatan dan menghemat bahan bakar helm karbit. Sambil menunggu anggota tim yang lain, beberapa orang terlihat melakukan kegiatan fotografi dalam gua. Sampai akhirnya seluruh anggota tim lengkap berjumlah sepuluh orang.

Menemukan Satwa Aneh

Chamber (ruang besar dalam gua) itu terbagi dalam dua ruang. Sebuah yang lebih agak keatas lebih besar dari yang satunya. Terlihat batuan-batuan besar berserakan di dasar gua. Stalagtit menghias atap gua. Di dinding gua curtaincurtain berusia muda yang berbentuk seperti gigi sapi menjuntai sampai dasar gua. Ada juga terlihat ornamen ‘batu bintang’ yang berkilau bila di terpa sinar. Rime stone terlihat tersusun rapi membentuk lipatan dan garis-garis alami di dasar gua bagian kanan.

Ternyata ada sebuah crack lagi terlihat masuk menurun. Adi coba melemparinya dengan batu mencoba mengira kedalaman. Sampai enam detik berselang sebelum akhirnya batu tersebut jatuh menimpa air di bagian dasar gua.  Tapi karena lorong tersebut tak ada dalam rencana perjalanan awal, kami memutuskan tidak menuruninya.

Kami makan siang di ruang yang lebih kecil di sebelah chamber besar tersebut. Snack-snack dan minuman dingin-pun dibuka. Menandai keberhasilan kami menuruni celah 30-an meter itu dengan selamat.

Selesai makan, kami segera bergegas bergerak menuju bawah. Udara tambah sesak dan panas di lima belas menit ke bawah gua. Terus ke bawah, terlihat banyak ornamen stalagmit, stalagtit, column, rimestone, dan curtain yang terlihat lebih jelas karena serupa tirai di dinding gua. Ada juga setumpukan guano  atau kotoran kelelawar menutupi sampai setengah bagian gua.

Sedang nikmat-nikmatnya menikmati pemandangan di bawah gua terdengar bunyi bergedebuk di belakang. Ternyata Ilham sang fotografer terjatuh di sebuah liang sedalam setengah meter. Ia tidak bisa menguasai keseimbangan ketika melewati pinggir liang itu, dan terpaksa harus meringis-ringis menahan sakit luka lecetnya. Untunglah liang itu tidak terlalu dalam, sehingga Ilham tidak mengalami luka yang cukup serius.

Terus sampai setengah jam perjalanan, kami menemukan penurunan batuan yang terlihat tajam . Tapi ini masih bisa dilalui dengan sangat berhati-hati.

“Hey…binatang apa ini”, teriak Juferdy sambil menunjuk seekor binatang aneh yang belum pernah kami temui dimanapun. Boy sang penelusur gua senior segera mengamatinya, dan hasil dari pengamatannya itu menyimpulkan, bahwa selama ia menjadi penelusur goa dari tahun ’98 belum pernah ia menemukan binatang seperti ini. Sedikit deskripsi tentang binatang ini adalah berbentuk seperti laba-laba tetapi mempunyai kaki lebih banyak, mungkin sampai delapan pasang. Badannya hanya sebesar penghapus pensil dan kakinya sepanjang jari telunjuk orang dewasa. Berwarna hitam selang-seling dengan warna coklat tanah. Bersungut dan tidak mempunyai mata. Setelah di foto sebentar oleh Boy untuk keperluan dokumentasi kembali kami meneruskan perjalanan.

Jenis satwa didalam goa Sawarna, Bayah, jawa Barat.

Sampai di bagian bawah ruangan terpecah dalam tiga lorong. Bersepuluh kami di bagi dalam dua tim mencari jalan keluar yang paling benar. Tim pertama kearah kiri yang menemukan lorong sempit, sampai harus merangkak. Lorong ini ternyata terus menuju keatas. Tim pertama memutuskan meneruskan perjalanan tanpa menunggu tim kedua yang menuju ke arah kanan.

Tim pertama terus bergerak penasaran menelusuri lorong sempit itu. Tak sampai setengah jam mereka akhirnya melihat sinar yang merupakan jalan keluar dari gua itu. Lorong itu ternyata tembus ke entrance gua di bagian tenggara bukit.

Tim kedua yang menuju ke kanan jalur terus menuju ke bawah menemukan aliran sungai bawah tanah. Sungai ini kalau di turuni mempunyai kedalaman sampai sebatas lutut kami. Dipinggir kiri dan kanan sungai ini banyak terdapat tanah lumpur sedalam betis.Sungai bawah tanah ini kalau diikuti terus ternyata tembus ke entrance gua di sebelah timur bukit.

Pulang

Kalau di tilik secara keseluruhan kebanyakan gua yang ada di Sawarna merupakan gua karst (batu gamping) berumur Miosen awal.  Seperti gua lalay ini terjadinya bermula dari adanya retakan pada batu gamping akibat pengaruh tektonik. Retakan tersebut selanjutnya berfungsi sebagai jalan air yang melarutkan batu gamping tersebut sesuai dengan sifat fisiknya yang mudah larut air. Air yang melarutkan batu gamping tersebut mengendap dan menghasilkan berbagai ornamen gua. Pada bagian dasar gua ini merupakan sungai bawah tanah yang berlumpur dengan tebal 10 – 15 cm. Panjang gua di perkirakan sampai 1000 m.

Dari keseluruhan lorong yang terlihat ruang di dalam gua ini hampir rata-rata beruang besar semua. Hanya sedikit tempat yang kami temui yang tingginya sampai menyentuh kepala.  Dan variasi lorong-lorong yang terpecah-pecah membuat gua ini semakin menarik.

Pukul empat sore seluruh kegiatan selesai. Kami beranjak kembali menuju base camp dan tiba menjelang maghrib. Setelah sebelumnya sempat bersih- bersih dulu di sungai yang kami temui sebelum tiba di base camp.

Malamnya empat orang anggota tim memutuskan kembali lebih dahulu ke Jakarta menyusul anggota tim yang sakit, yang menunggu di pertigaan Cibayawak. Sambil menunggu antrian untuk mandi kembali kami memperbicangkan tentang gua yang kami telusuri tadi siang. Dan pengalaman –pengalaman kami malam sebelumnya.

Desa ini memang sebenarnya menyimpan potensi alam yang sangat menarik. Pantai Ciatir yang indah dengan pasir putihnya. Persawahan yang menghijau. Gua-gua yang masih banyak belum di eksplorasi. Membuat kami menyayangkan perhatian pemerintah daerah yang terasa amat minim untuk meningkatkan potensi ini. Desa ini adalah intan yang terpendam dalam lumpur, yang apabila tidak diasah tidak akan terlihat kemilaunya.(Sulung Prasetyo)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: