Pesan Sihir Dalam Lukisan Goa

Cobalah pergi berjalan-jalan di sekitar kita. Kadang akan kita temui batu-batu pewarna. Seperti jenis Hematit, yang berwarna merah gelap. Coba gerus batu tersebut, dan dapatkan warnanya melalui air santan kelapa, sari tetes tebu atau bahan lainnya yang ramah lingkungan. Torehkan pada cadas di sekitar kita. Jadilah gambar dengan pewarna paling purba di dunia ini.

Seperti itu kira-kira proses gambar dalam gua tercipta. Selain warna yang menimbulkan makna. Konsep gambar dalam goa ternyata menyimpan banyak keingintahuan di dalamnya.

Seni art rock pada kajiannya memang menimbulkan banyak pertanyaan tertinggal. Apalagi itu bila menyangkut pertanyaan pesan apa yang terkandung didalamnya. Sebab berbagai makna bisa saja tertangkap. Namun memilah hasil definisi pesan tersebut, tetap dalam konteks keilmuan bukanlah sesuatu yang mudah.

Hasil penelitian Karina Arifin, dalam presentasinya mengenai seni cadas di Papua barat, juga terasa memperhatikan amanat tersebut. Wanita, yang kini menjadi staf pengajar di jurusan arkeologi UI tersebut, mencoba memberikan pemahaman mengenai kemungkinan keterkaitan persaudaraan yang terdapat didalamnya.

“Hal yang menarik adalah adanya bentuk-bentuk tertentu, seperti cap-cap tangan, yang terdapat hampir di seluruh dunia dimana seni cadas ditemukan,” ujarnya.

Padahal menurutnya diantara daerah satu dengan lainnya, diketahui tidak pernah ada kontak budaya sama sekali. “Sampai sekarang tidak diketahui dengan tepat mengapa bisa terjadi kesamaan ini.”

Kesamaan-kesamaan bentuk gambar yang menunjukan kemungkinan keterkaitan persaudaraan, juga tidak hanya terdapat pada gambar tangan saja. Tapi menurut ibu beranak satu ini, juga kadang terdapat pada gambar yang lain. Satu hal yang menarik adalah ditemukannya gambar-gambar bumerang di teluk Berau dan Bitsyari, di Papua sana.

“Padahal gambar bumerang yang ada sekarang ini, hanya dikenal berasal dari Australia saja,” tambah wanita berkacamata yang juga anggota Mapala UI ini bercerita.

Hal itu menurutnya kemungkinan kebenaran teori adanya penggabungan antara pulau Papua dan benua Australia pada paska jaman es, sekitar 10.000 tahun lalu. Dimana penurunan permukaan laut yang mencapai 75 meter pada saat itu, menghasilkan penggabungan kedua pulau tersebut. Proses ini kemudian dikenal dengan nama dataran Sahul. “Dengan demikian, sangatlah memungkinkan bila penduduk Australia utara dan penduduk Papua pada saat itu mempunyai kontak fisik maupun budaya,” kata peneliti, yang sejak tahun 1995 lalu menekuni banyak gambar gua di Papua itu menjelaskan.

Ilmu Sihir

Lain lagi yang diungkapkan Achmad Sopandi, pengajar pada jurusan Seni Rupa FBS Universitas Negeri Jakarta, mengenai lukisan gua. Lelaki bertubuh agak gempal ini coba menyampaikan penelitiannya mengenai warna pada lukisan purba. Menurutnya warna pada lukisan purba, mengandung banyak pesan di dalamnya.

“Warna purba bertutur perihal budaya asli kelompok pemakai dan pembuat warna itu sebagai contoh menarik, pesan-pesan konsep tradisi masyarakat prasejarah,” tulisnya dalam makalah yang disampaikan.

Setiap pewarnaan alami juga ternyata mengandung pesan persahabatan. Bisa juga upaya pencarian perlindungan. “Setiap warna memiliki arti perlambang tertentu,” ucapnya.

Seperti manusia pada jaman batu, menorehkan warna pada gambar berkaitan dengan semangat perburuan, agar pemburu binatang diberi kekuatan batin, atau juga sebagai tolak bala dari kekuatan roh jahat selama perburuan berlangsung.

Bahkan menurut Ipoi Datan yang menuliskan kajiannya dalam artikel Acheological excavation in Gua Sireh (Serian) and Lubang Angin (Gunung Mulu National Park) pada Jurnal Museum Serawak 1993 lalu menjelaskan, bahwa lukisan gua adalah salah satu bentuk ilmu sihir yang dilukiskan bagi mencapai kesuksesan dalam perburuan untuk mendapat seekor binatang yang diinginkan atau kematian musuh yang dibenci.

Mungkin ini juga yang masih terangkai kabut hingga kini. Apakah memang benar ada keterkaitan antara satu gambar dengan gambar lain? Atau memang benarkah ada keterkaitan antara gambar dengan perilaku kehidupan kaum pada masa itu? (Sulung Prasetyo)

Spread the love

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: