Pohon Penolong

Barjo kembali menatap jeruji sel dengan hati kelu. Antara percaya dan tidak, ia akhirnya kini menjadi tahanan. Menjadi orang jahat, seperti para kriminal lain. Menjadi bagian yang buruk dari masyarakat. Menjadi sampah yang harus dibuang dan dihancurkan.

Pusing di kepalanya tak juga berkesudahan. Mulai dari proses interogasi di kepolisian, semua membuatnya linglung.

Ia sama sekali tak paham, bahwa semua yang dilakukannya salah. Tak ada maksud sedikit pun ia berbuat seperti itu. Justru ia ingin menolong orang-orang dengan pengetahuannya. Namun seperti ada tangan hitam besar yang menahan kebenaran tersebut.

Barjo ingat desanya yang miskin, sangat memerlukan terobosan-terobosan untuk membangun ekonomi. Namun sebagai penanam jagung, tak ada yang bisa diharapkan lebih. Masih untung bila jagung dapat tumbuh normal di daerah tandus seperti tempat Barjo tinggal.

Tak banyak yang bisa diharapkan dari desa itu. Air sangat kurang, karena bila hujan tiba, air langsung merembes di tanah dan hilang di antara batuan kapur di bawahnya.

Jangankan untuk mandi, untuk keperluan bertahan hidup, air harus dipertahankan mati-matian. Mereka harus mengantre dari dini hari, berebut bersama ratusan warga desa lainnya. Menunggu bertangki-tangki jeriken, sebelum air mereka dapatkan dari sumber mata air yang berupa kucuran kecil.

Bila musim hujan datang, baru bisa mereka menampung air di kamar mandi, dalam rumah yang mereka biarkan terbuka atapnya.

Jagung dan singkong, hanya dua jenis pohon itu yang bisa tumbuh subur di sana. Sisanya rerumputan meranggas, dan pepohonan yang tak pernah berbuah.

Dari jagung dan singkong, Barjo berusaha sekarang. Pengetahuannya untuk mengawinsilangkan berbagai jenis tumbuhan membawa mimpinya menghasilkan jenis jagung dan singkong unggulan. Jenis jagung dan singkong yang berbeda dari yang lain. Berbuah gemuk, dan memberikan hasil panen yang lebih banyak.

Usahanya selama puluhan tahun sebenarnya mulai menampakkan hasil. Terutama untuk jagung, ia berhasil membuat yang lebih manis rasanya. Selain itu, jagung tersebut juga menghasilkan biji-biji yang lebih gemuk. Apalagi semua itu dihasilkan dengan tanpa menggunakan pupuk berbahan kimia, sehingga pertanian organik yang banyak didengang-dengungkan orang sebenarnya sudah berhasil dilaksanakan olehnya.

Banyak orang di kampungnya juga mulai merasakan hasil kerja Barjo. Karena Barjo tak pernah sungkan membagi ilmunya. Semua orang di desa diajarinya sehingga kebun-kebun mereka menghasilkan panen melimpah, meskipun dengan air yang kurang.

Lambat laun ekonomi desa juga mulai membaik. Makin banyak pembeli datang karena singkong dan jagung dari desa mereka terkenal berkualitas sangat baik. Hasil penjualan meningkat, dan rumah-rumah di desa juga makin layak huni.

Kecemerlangan sudah tampak di depan mata, saat Bupati datang ke desa mereka. Dengan bangga Bupati memanen jagung di desa Barjo, sebagai tanda desa terbaik dalam masa panen tahun tersebut. Banyak wartawan datang meliput keberhasilan itu, dan berita segera tersiar ke mana-mana.

Marti, istri Barjo juga turut bangga terhadap suaminya. Sebab kemana mereka pergi, orang-orang selalu menyapa dengan ramah. Semua tiba-tiba menjadi terang benderang. Pagi hari menjadi lebih cerah, dan malam hari terasa lebih damai.

Namun semua itu luruh seketika, saat polisi tiba-tiba datang ke rumah mereka. Polisi membawa surat penangkapan Barjo. Meski terjadi adu mulut mengenai penangkapan itu, akhirnya Barjo tetap dibawa ke kantor polisi, dan menjalani proses interogasi.

“Saudara tersangka melanggar peraturan mengenai hak paten,” kata polisi yang menginterogasi Barjo.

Barjo hanya terdiam mendengar tuduhan itu. Dalam hatinya, ia tak mengerti sama sekali dengan yang dituduhkan.

“Saudara mengembangkan jenis tanaman yang hak patennya sudah dimiliki perusahaan atau orang lain. Saudara juga menjadi tertuduh karena membagi informasi pengetahuan ilegal tersebut, dan menjual hasilnya tanpa sepengetahuan pemilik paten. Hal itu dilarang undang-undang,” kata polisi itu menjelaskan lagi.

Namun berbagai penjelasan tersebut seperti bersliweran lewat simpang siur di kepala Barjo. Tak ada yang ia paham sedikit pun sebab musabab dirinya dianggap bersalah.

Barjo hanya menunduk sedih saat dipaksa menandatangani berita acara penangkapan. Kini ia termangu memandangi pintu sel yang baru ditutup. Bunyinya berdentang keras, mengingatkan hidupnya sudah berubah menjadi terbalik.

Sudah seminggu ini istrinya belum juga membesuk. Marti baru datang sehari setelah ia ditangkap, selanjutnya hanya sesekali ia datang. Selain istrinya ada seorang ahli hukum yang disewa istrinya juga datang.

Kedatangan ahli hukum itu justru membuat kepala Barjo makin pusing. Apalagi dengan iming-iming semua akan beres, bila disiapkan uang dalam jumlah besar, katanya untuk mengurus proses di kepolisian hingga persidangan nanti.

“Saya percaya Mas Barjo melakukan semua yang dituduhkan itu karena niat baik. Jadi sebenarnya kita masih bisa melakukan pembelaan dengan dasar kebaikan tersebut,” urai Sukma, sang pengacara.

“Nanti di pengadilan, Jaksa dan Hakim bisa mengerti akan hal tersebut, agar hukuman bisa makin ringan. Bahkan seharusnya juga bisa vonis bebas, karena sebenarnya Mas Barjo tidak tahu-menahu mengenai berbagai ketentuan tersebut”, urai Sukma lagi dengan nada tanpa beban.

Barjo sedikit agak tenang dengan penjelasan Sukma. Kunang-kunang di kepalanya setidaknya terasa makin berkurang. Ia membayangkan dapat secepatnya pulang ke rumahnya lagi. Bertani lagi seperti sebelumnya, dengan hati yang lebih damai. Dengan lesu ia tertunduk dan menghela napas panjang, berdoa agar semua seperti yang diharapkannya.

Malam itu sudah berbatang-batang rokok habis dihisap Barjo. Padahal sebelumnya ia sudah berhenti merokok. Namun karena urusan kali ini, dia seperti menemukan jalan buntu. Rokok menjadi pelepasan rasa pening yang terus menggayuti kepalanya. Sekarang ia hanya berharap istri dan keluarganya bisa membantu menyelesaikan masalah pelik ini.

Terhitung mulai malam tadi, sudah satu bulan istrinya tak datang membesuk. Semenjak tiga bulan ditahan pihak berwajib, perlakuan istri Barjo memang terus berubah. Makin lama istrinya makin jarang membesuk. Sudah beberapa kali juga Barjo menghubungi, namun selalu saja mereka bertengkar di telepon. Terakhir bahkan istrinya mengancam akan maminta cerai.

“Kita sudahan saja sayang. Aku sudah tak tahan dengan masalah ini. Kamu tak salah, keadaan yang salah.

Sent : 17 Maret 2002″

Begitu bunyi pesan pendek di telepon genggam yang dipegang Barjo. Hampir saja telepon genggam itu dibantingnya, kalau tak ingat telepon genggam itu dipinjamnya dari polisi yang berbaik hati kepadanya.

Makin hari kelakuan istrinya juga makin menjadi. Terakhir ia dengar dari adiknya yang membesuk, kalau Marti kini sering terlihat berjalan dengan lelaki lain. Sementara anak mereka, Wahyu sering ditinggalkan di rumah neneknya.

Tak habis pikir Barjo menghadapi kelakuan istrinya. Mengapa perempuan yang dulu sangat dipercayainya itu tega memperlakukannya seperti itu. Ia justru ditinggalkan saat sedang jatuh.

“Sudah Mas Barjo, semua pasti ada hikmahnya. Justru sekarang Mas Barjo tahu, istri macam apa dia itu,” kata Joni, narapidana kriminal yang kebetulan satu sel dengan Barjo.

Menurut Joni yang berulangkali masuk penjara karena merampok, sudah sering ia mendengar cerita seperti itu. Ditinggalkan istri saat masuk penjara.

“Ketimbang pusing, ceraikan saja Mas, toh masih banyak perempuan lain,” kata Joni lagi dengan nada meyakinkan.

Kadang-kadang Barjo terhenyak juga dengan saran-saran yang diberikan narapidana lain. Mereka yang kalau dari luar penjara, disebut penjahat dan dianggap berhati keji, justru terasa lebih bijak dalam menghadapi hidup.

Sambil merenung usai menuntaskan nasi setengah basi, jatah makan penjara, Barjo kembali mendesah dan rebah tidur. Kelelahan karena terlalu banyak berpikir membuatnya tidur cepat malam itu.

Usai kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan, Barjo dipindahkan ke rumah tahanan di tengah kota. Suasana menjadi berbeda karena lebih banyak orang yang menghuni rumah tahanan ketimbang penjara di kantor polisi.

Namun masalah di kejaksaan lebih berat. Karena pengacaranya justru meminta uang lebih banyak. Sebelumnya ia telah mengeluarkan uang hingga 200 juta. Dana itu diperlukan sebagai kompensasi pengganti dari perusahaan yang menuntut pasal hak paten tersebut. Di kejaksaan ia kembali dihadapkan pada masalah dana yang luar biasa tak terkira menurut perhitungan di kepalanya.

“Kita harus sediakan dana itu untuk ganti rugi yang diminta penuntut. Dengan begitu maka saya pastikan Mas Barjo dapat vonis bebas dari hukuman,” kembali pengacaranya Sukma menjelaskan.

Lama-lama Barjo melihat Sukma seperti drakula penghisap darah. Ia sudah menjual mobil yang dimilikinya. Kini terancam tanah dan rumah tempat tinggalnya akan hilang juga.

“Kalau Mas Barjo tak bisa menyediakan dana tersebut, bisa dipastikan baru enam tahun lagi bisa bebas,” suara Sukma terdengar seperti mengancam.

Enam tahun bukan waktu yang sebentar di penjara. Barjo terhenyak mendengar waktu hukuman yang terasa berat itu. Bahkan terasa amat berat untuk maksud baik yang ingin dia lakukan.

Tak banyak kini yang dilakukan Barjo selain berdoa. Sering-sering ke masjid dan memohon kepada Yang Maha Kuasa. Di saat ia sedang putus asa tiba-tiba terdengar panggilan untuk namanya. Ia tiba-tiba dibesuk di dalam penjara. Sempat bertanya-tanya sebentar siapa yang datang. Ternyata istrinya sedang menunggu di ruang besukan. Barjo menatap Murti dengan tidak percaya. Ia seperti melihat Murti yang berbeda kini. Murti yang dulu berjilbab, kini membuka jilbabnya dan memperlihatkan rambut pirang barunya. Saat Barjo ingin menyalami Murti, ia menolaknya dan hanya memberikan sepucuk surat ke tangan Barjo.

Dibukanya surat itu perlahan. Setelah dibaca pelan-pelan ternyata itu adalah surat persetujuan perceraian yang harus ditanda tangani Barjo. Dengan perlahan Barjo meremas surat tersebut dan membuangnya di tempat sampah. Murti ditinggalkannya begitu saja. Malamnya Barjo mengirimkan pesan singkat dari telepon genggam yang sengaja diselundupkan ke dalam sel penjara tinggalnya.

“Tak berpengaruh kau mau tanda tangani atau tidak surat itu. Cerita kita sudah selesai. Murti

Sent : 23 Juni 2002″

Barjo termangu-mangu membaca pesan singkat itu. Tak terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia berusaha tak menangis, namun hatinya berkata lain. Ternyata sudah usai semua, dan ia tak bisa mempertahankannya.

Menjelang sidang vonis, Barjo seperti sudah tak terlalu peduli dengan keadaan. Ia sudah seperti robot tak bernyawa. Harapannya seperti sudah putus, dan tak ada lagi yang bisa dipercayainya.

“Saudara Barjo, karena bertindak kooperatif dalam kasus ini, kami menjatuhkan hukuman tujuh bulan penjara dipotong masa tahanan,” kata hakim lugas.

Barjo seperti tak percaya mendengar vonis hakim tersebut. Dengan vonis serendah itu, maka berarti ia bisa segera bebas. Mengingat ia telah menjalani penjara selama enam bulan kini.

Di luar persidangan, adik Barjo datang menghampiri. Ia tertawa dan menyalami Barjo karena hukuman Barjo ternyata tak berat sama sekali.

“Jangan bingung Mas, dana ganti rugi itu sudah disiapkan. Mas Barjo pasti segera bebas,” ucap adik Barjo kalem.

“Dengan uang darimana kau membayarnya? Jangan-jangan kau menjual rumah dan tanah,” tanya Barjo lemah.

“Bukan Mas, itu uang dari menjual pohon jati yang 20 tahun lalu kita tanam bersama ayah. Apa Mas Barjo tak ingat kalau dulu ayah mengajarkan kita menanam pohon. Sekarang pohon itu sudah besar dan layak dijual. Saya jual lima pohon jati itu, cukup untuk membayar biaya kebebasan Mas Barjo,” urai adik Barjo.

Barjo terdiam mendengar penjelasan adiknya. Tak terpikirkan olehnya, kebiasaan mereka menanam pohon waktu kecil dulu  bersama ayah, ternyata bisa membuahkan hasil sekarang.

Cilodong, 22 Oktober 2016

Cerita pendek ini merupakan bagian dari e-book Monyet-Monyet Tsunami yang telah diterbitkan di Google Playstore.
Bagi yang berminat membeli bisa mengklik gambar atau tautan dibawah ini.
https://play.google.com/store/books/details/Sulung_Prasetyo_Monyet_Monyet_Tsunami?id=wyl-DwAAQBAJ
Spread the love

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: