Rahang yang Tertinggal

Johan baru saja membuka mata. Tersadar sebentar dari tidurnya. Tangannya berusaha meraih sesuatu. Di antara mata yang masih terpejam, dia menggapai-gapai tak tentu arah. Akhirnya ditemukan telepon genggam di balik bantalnya.

Di antara sadar dan tidak, ia berusaha membuka kotak pesan di telepon genggam. Di antara beberapa pesan yang masuk, ada satu yang membuatnya tersentak. Pesan dengan huruf besar semua itu berisi, “TSUNAMI BRO, CEPAT BANTU.”

Cepat ingatan di kepalanya bergerak. Urat otak putihnya sontak berkedut. Ia berusaha menganalisis kata-kata “tsunami” yang dikirimkan temannya. Bukankah itu yang membuat ratusan ribu orang tewas seketika di Aceh dulu. Serangan ombak dari laut, karena adanya gempa di tengah samudera.

Matanya segera membuka. Ia terduduk dengan rambut masih acak-acakan. Dipelototinya pesan di telepon genggam itu. Ada satu pesan lagi terpisah dari pesan sebelumnya.

“Semua kumpul di sekretariat, sebelum siang ini ada satu tim bergerak ke TKP,” begitu pesan lanjutan dari Sio Gaho, kawan sesama aktivis.

Ingin ia cepat menelepon Sio. Tapi pulsanya ternyata sedang habis. Di antara kekesalan, ia segera menyalakan televisi di kamar. Tampak siaran masih mengenai kegiatan olahraga pagi. Tak lama di stasiun televisi lain, tiba-tiba melintas berita baris. Telah terjadi gempa yang disusul tsunami di bagian barat pulau tempat ia tinggal. Kekuatan gempa mencapai delapan Skala Richter. Cukup untuk meluluhlantakan bangunan gedung bertingkat lima.

Sambil terhuyung, kemudian Johan menuju dapur. Di sana ibunya sedang menggoreng telur. Johan mengambil air minum teh yang biasa dihidangkan ibunya.

“Apa dengar berita tsunami mom?” tanya Johan.

Ibunya menoleh, “Iya katanya, tapi belum tahu di mana.”

“Rasanya tak ada gempa semalam,” imbuh Johan.

“Kamu kalau tidur kayak kebo sih. Ibu saja terasa, seperti bergoyang gitu.”

Johan melirik jam, sekarang pukul sembilan pagi. Masih sempat kalau ia segera bergegas ke sekretariat. Segera ia kembali ke kamarnya. Suara televisi makin dibesarkan. Ia membolak-balik semua acara di televisi, sampai akhirnya mendapat berita mengenai tsunami yang menimpa daerahnya.

Makin jelas sekarang. Hampir seluruh desa di bagian barat pulau yang ditinggalinya habis tersapu tsunami. Ada liputan dari udara yang menggambarkan wilayah pesisir seperti habis disapu ombak. Banyak pohon yang bertumbangan dan rumah-rumah yang tak lagi utuh.

Saat ia melihat kembali telepon genggamnya, Sio kembali mengirimkan pesan. “Kau ke sini nggak?”.

“Tunggu sebentar,” balas Johan, melalui pesan pendek di telepon genggam.

Tak sampai dua jam ia sudah tiba di sekretariat. Puluhan teman-temannya sudah berkumpul. Masing-masing sibuk dengan obrolannya. Sio yang datang menyalaminya pertama. Seperti habis dikejar hantu, Sio menceritakan apa yang diketahuinya.

“Habis desa itu sepertinya Han. Kerabatku yang tinggal di sana belum membalas pesan yang kukirimkan. Ditelepon juga seperti putus sinyal,” urai Sio.

Kikin, perempuan manis yang dekat dengan Sio, datang menghampiri.

“Segera berkumpul. Akan ada briefing untuk bantuan tsunami,” ucap Kikin.

Tak banyak bicara, Johan dan Sio segera bergabung dengan yang lain. Alex, kali ini yang memimpin rapat. Lelaki dengan kacamata tebal itu berbicara lantang.

“Berita tentang tsunami, di bagian barat pulau ini sudah bukan hoax lagi. Kita harus segera menuju ke sana. Membawa bantuan dan menyelamatkan yang masih tersisa,” katanya pendek.

“Apa semua dari kita harus pergi?” tanya Kikin.

“Makin banyak orang makin baik,” suara besar Ito terdengar datang dari belakang.

“Lebih baik kirim beberapa orang dulu. Biar mereka menilai kondisi di sana. Nanti biar ada tim berikutnya yang membawa bantuan tambahan,” ujar Johan.

Semua mengangguk-angguk menyetujui usul Johan.

“Baiklah, cepat kita pilih siapa yang akan berangkat duluan,” tambah Alex.

“Aku berangkat, bareng Sio,” kata Johan, sambil menyikut Sio.

Sio hanya tersedak, dan kemudian menganggukkan kepala.

“Aku juga berangkat,” kata Ito.

“Siapa lagi yang bisa berangkat cepat. Kalau mereka naik motor, masih ada satu tempat lagi,” usul Alex.

Karena tak ada yang mengangkat tangan, akhirnya Alex menunjuk Ros. Perempuan satu itu memang dikenal keras kepala, tapi punya kecepatan luar biasa. Mulanya Ros hanya diam saja, kemudian dia menganggukkan kepala, dan semua mendesah lepas.

Setelah makan siang, keempat orang itu sudah naik motor. Lengkap dengan ransel kecil di punggung masing-masing. Isinya sedikit makanan, pakaian ganti, jaket, dan senter. Setelah diberi uang untuk tambahan, kedua motor itu bergerak pergi.

Di jalan tampak banyak jalan aspal menjadi penuh retakan. Bahkan ada yang menjadi terpisah, karena satu bagian menjadi makin tinggi. Ros yang berboncengan dengan Johan, berulangkali mengaduh, karena terpental akibat efek jalan bergelombang.

“Masih berapa lama lagi Johan? Pantatku sudah panas nih,” kata Ros.

“Dua jam lagi. Jalan jadi banyak rusak begini. Seingatku dulu tak seperti ini,” ujar Johan.

Motor Ito juga sempat oleng ke sana-kemari. Tapi karena kedua kakinya panjang, dia dengan cepat menstabilkan kembali motornya.

“Johan, ayo cepat jalan lagi, nanti keburu malam,” teriak Sio yang berboncengan dengan Ito di depan.

Johan segera menyusul. Tepat di samping motor Ito, ia berteriak. “Moga-moga tak ada jalan yang tertutup tanah longsor.”

“Semoga,” kata Ito sambil kembali melajukan sepeda motornya.

Sebelum gelap total menyapa, mereka sudah mencapai batas desa tujuan. Terlihat suasana porak-poranda. Banyak orang hilir mudik. Ada yang membawa kasur dan peralatan rumah tangga. Ada pula anak yang terlihat menangis terus-menerus di pinggir jalan.

Ros sempat menunjuk sebuah gereja yang bolong dindingnya. Tumpukan-tumpukan kayu tampak berserakan di sana-sini. Mereka akhirnya berhenti karena jalan terputus oleh erosi laut. Di depan mereka makin banyak rumah yang roboh. Sebagian kecil rumah yang masih berdiri, terlihat rusak dan bolong bagian dindingnya.

“Kita tidur di mana malam ini?,” tanya Ito memecah kebisuan.

Johan menoleh kepada Sio. “Katanya kau punya saudara di sini?”

“Rumahnya ada di depan lagi kalau tak salah. Sudah lama aku tak datang ke sini,” kata Sio berjalan mendahului, menyusuri pinggir laut.

Setelah mengunci sepeda motor, Ros, Johan, dan Ito berjalan menyusul. Tak berapa jauh di depan ada seorang anak perempuan sedang menimba air di sebuah sumur. Sio kemudian menghampiri dan bertanya sesuatu kepadanya.

Tak lama kemudian, Sio melambaikan tangan, dan mengajak berjalan lagi ke depan. Di depan sebuah toko besar, Sio berhenti. Ia melihat-lihat ke dalam. Tumpukan beras tampak sudah basah. Sementara di dalamnya, barang-barang jualan berserakan di mana-mana.

Sio masuk ke dalam toko dan memanggil-manggil. Tak ada jawaban yang ditunggu. Hanya sunyi senyap menyelimuti. Sio kemudian memutar ke belakang toko. Tak lama ia kembali lagi menemui Johan.

“Entah saudaraku ke mana. Bagaimana kalau kita tidur di toko ini saja dulu. Ini toko saudaraku,” kata Sio.

“Apa tidak lebih baik kita mencari dulu saudaramu itu. Mungkin ada di tempat pengungsian,” ujar Ito.

Ros sedang sibuk mencari senter di ranselnya.  “Ayo kita ke rumah orang itu. Sepertinya mereka masih bertahan di dalam rumah. Mungkin bisa kita tanyakan,” ajak Ros.

Di dalam rumah, dua orang anak perempuan menemui mereka. Setelah berbicara sebentar, akhirnya diketahui saudara Sio ternyata telah mengungsi ke atas bukit. Setelah pamit, mereka beranjak naik bukit.

Di atas bukit, tampak kerumunan orang bergerombol. Mereka berdiam di bawah tenda-tenda terpal plastik seadanya. Beberapa yang lain tampak memasak. Ada juga yang tidur-tiduran, sementara ada juga yang duduk-duduk saja. Satu sama lain tampak sibuk membicarakan sesuatu. Beberapa mata mengikuti gerak Sio yang berjalan didepan.

Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara memanggil. Sio menoleh cepat ke arah itu. Dalam samar-samar cahaya malam, ia bergegas menghampiri. Johan segera menyusul, sementara Ros dan Ito menunggu.

Tak lama Johan memanggil juga. Ros dan Ito kemudian menghampiri.

“Ini teman-temanku, Ros dan Ito,” kata Sio dengan suara serak seperti habis menangis.

Kerabat Sio tak mengeluarkan kata-kata apa pun, kecuali mengulurkan tangan yang disambut Ito dan Ros dengan lemah.

“Saudara Sio banyak yang meninggal dan belum ditemukan,” bisik Johan ke telinga Ito.

Ros, yang memiliki naluri perempuan lebih cepat memahami situasi. Ia segera mendatangi istri Ama Hia, kerabat Sio. Kemudian merangkulnya. Istri Ama Hia tampak terguncang, dan tak banyak bicara, hanya senggukan tangisnya yang terdengar.

“Kita menginap malam ini di sini Ros,” bisik Johan.

Mereka segera mengeluarkan makanan yang dibawa. Beberapa diberikan kepada keluarga saudara Sio. Makanan kering yang dibawa, tak cukup untuk semua. Akhirnya dengan perut agak lapar, semua tertidur di bawah terpal, ditemani angin yang berhembus semilir.

Background vector created by Sketchepedia – www.freepik.com

Menjelang pagi menyapa, Johan bangun lebih dulu. Ia kemudian membangunkan yang lain. Orang-orang juga mulai terbangun dan menyiapkan air panas. Tak jelas apa yang dimasak, namun semua bergegas pergi, setelah sinar matahari menyinari.

Baru terlihat suasana kamp pengungsian yang seadanya. Banyak tenda ternyata berdiri di sana-sini, memenuhi sisi-sisi datar bukit yang tak lebar. Sebagian memenuhi kebun-kebun yang sebelumnya ada.

Dengan ditemani Ama Hia, mereka berempat bergerak menuju sungai di dekat pantai. Menurut Ama, ia mau mencari orang-orang yang masih hilang. Kemungkinan mereka terseret arus tsunami dan tersangkut di pohon-pohon pinggir laut. 

Sampai setengah jam mereka berjalan menyisir pinggir laut. Beberapa orang kenalan Ama Hia tampak sedang mencari juga. Kebanyakan kehilangan sanak saudara, atau keluarga mereka. Bahkan ada seorang lelaki mengaku kehilangan 13 anaknya, dan belum ada satu pun yang diketemukan.

“Saya selamat karena terus berpegangan pada batang pohon kelapa,” ceritanya.

“Sayangnya hanya istri saya yang kuat berpegang kepada saya, yang lain anak-anak saya entah ke mana.”

Muka Ros tampak muram mendengar cerita itu. Sepanjang perjalanan mencari setelah bertemu orang itu, Ros terus diam saja.

Satu jam perjalanan, mereka mencium bau amis. Ama Hia segera bergerak cepat membuka jalan di antara pohon-pohon yang tumbang. Setelah menembus kawanan pohon bakau, terlihat sesosok mayat anak kecil tertelungkup.

Pelan-pelan mereka menghampiri mayat itu. Hanya Ama Hia yang berani membalik mayat itu. Terlihat bagian muka mayat sudah rusak, sementara tangannya patah.

Ros berteriak tertahan melihat kondisi mayat yang mengenaskan. Tangannya menutup mulut, dan membalikan badan dengan cepat. Sementara Ito dan Johan segera menghampiri Ama Hia.

“Bagaimana Ama, kita harus cepat membawa mayat ini ke desa,” ucap Johan.

“Kalian bawa  mayat ini, saya ingin mencari yang lain dulu,” kata Ama Hia dingin. “Sio kau ikut denganku,” tambah Ama lagi.

Ama Hia dan Sio bergerak menjauh, meninggalkan Ito, Johan, dan Ros yang berdiri bengong. Terlalu cepat semua datang kepada mereka. Sekejap lalu mereka berada dalam kenyamanan bersama di rumah orang tua, sekejap lain tiba-tiba berada di kondisi yang tak diharapkan sama sekali. Ingin rasanya ikut berlari saja menjauh. Namun seperti ada tangan yang mengikat kaki mereka, menahan untuk menjauh.

Hanya Johan yang bergerak lebih dahulu dari yang lain. Ia segera membuka ranselnya, dan mengeluarkan sarung. Kemudian ia meminta Ito mencari kayu panjang, untuk tandu.

“Masukan anak itu ke dalam sarung Ros,” kata Johan. “Nanti kita tandu pakai kayu.”

Ros yang sudah kembali sadar diri, segera merengkuh mayat anak itu. Lendir terasa mulai memenuhi sekujur tubuh mayat. Agak sulit mulanya mengangkat mayat, karena lendir membuat kulit menjadi licin. Tapi akhirnya mayat anak perempuan itu masuk juga ke dalam sarung. Johan dan Ito yang kemudian memanggulnya kembali ke desa.

Di desa orang-orang menjadi heboh karena mayat yang dibawa Johan dan Ito. Kemudian berbondong-bondong orang kembali ke tempat lokasi mayat ditemukan. Berharap menemukan kembali mayat-mayat lain, yang mungkin saudara atau kerabat mereka.

Hingga sore terkumpul 11 mayat. Beberapa merupakan anak dari Ama Hia. Istri Ama Hia tampak makin terguncang melihatnya. Ia hanya menangis saja. Sementara Ama Hia dan Sio, malam itu juga memandikan beberapa mayat, agar segera siap dikuburkan.

Malam harinya, Ito, Ros dan Johan mengadakan rapat tanpa ditemani Sio. Keputusannya mereka akan segera mengutus salah satu di antara mereka untuk kembali ke kota. Utusan itu bertugas memberikan kabar kepada teman-teman yang lain, dan memberikan daftar bantuan yang dibutuhkan.

Agar efektif dan efisien, Ros yang dikirimkan kembali ke kota. Sementara untuk masalah keamanan, Ros disarankan berangkat sepagi mungkin, agar tak terlalu sore sampai di kota untuk menemui teman-teman mereka.

Pagi hari kedua, hujan turun mengiringi. Kondisi kamp pengungsian makin tambah parah. Genangan air di mana-mana. Alas kaki juga makin terasa tebal karena tanah merah yang lengket. Satu keuntungan dari hujan itu, hanya stok air bersih jadi terisi kembali. Setelah sebelumnya menipis, karena habis terbagi-bagi.

Ros pergi ke kota setelah hujan berhenti. Sebelumnya, ia hanya makan sebungkus mi. Ito dan Johan juga hanya makan mi. Tak banyak makanan yang bisa dicari saat itu. Hampir semua ternak dan tumbuhan peliharaan penduduk juga tewas diterjang tsunami.

Setelah Ros pergi, Ito dan Johan segera mencari korban-korban tsunami yang lain. Diperkirakan masih banyak korban yang belum ditemukan. Setidaknya masih ada 33 nama yang didaftarkan hilang.

Kali ini daerah pencarian diperluas lagi. Makin banyak orang dikerahkan untuk mencari. Kebanyakan laki-laki. Mereka bergerak menyisir sungai dan pesisir. Mereka memperkirakan masih banyak mayat yang tersangkut di sana. Sebab daerah tersebut biasanya berupa lembah, yang menjadi incaran air untuk mengalir kembali ke laut.

Benar saja, lima korban kembali ditemukan. Semua ditemukan dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Salah satu mayat malah kehilangan matanya. Semua hanya mendesah saja melihatnya. Lama kelamaan, tampaknya semua mulai terbiasa dengan kondisi seperti itu.

Karena ingin memangkas waktu untuk makan siang. Mereka memutuskan untuk makan mereka tak perlu kembali ke rumah masing-masing di desa. Johan dan Ito yang hanya membawa sisa bekal mi rebus, memasaknya di pinggir sungai yang berbau amis. Saat makanan telah matang, mereka kesulitan memakannya, lantaran tak memiliki sendok atau garpu. Akhirnya diputuskan menggunakan tangan kosong saja. Meskipun agak mau muntah, karena tangan itu pernah dipakai untuk mengangkat mayat, namun tak banyak pilihan yang bisa dilakukan.

“Besok kita makan mi pakai kayu saja. Nanti dibentuk seperti sumpit,” usul Ito.

Johan mengangguk-angguk. Bodoh rasanya, karena ide itu baru datang setelah mereka sebelumnya makan dengan tangan kosong saja. Tangan yang hanya dicuci dengan air yang berada dipermukaan daun-daun. Karena ingin menghemat air bersih yang mereka punya.

“Apa kau tadi tak mual makan dengan tangan saja?,” tanya Ito.

“Mulanya mual sih, tapi lama-lama hilang dengan bau bumbu mi,” kata Johan enteng.

“Lama-lama bosan juga makan mi. Apa tak ada variasi? Pakai tumbuhan misalnya?,” tanya Ito.

“Mungkin bisa pakai daun katuk, sepertinya pernah melihat di dekat tempat orang-orang mengungsi,” ucap Johan mengingatkan.

“Ingatkan nanti kalau kembali ke tempat pengungsian,” timpal Ito lagi.

Usai makan mereka melanjutkan pencarian. Namun hingga sore datang, sia-sia saja mencari korban lain. Menjelang malam, rombongan pencari itu kembali ke desa, dan lokasi pengungsian masing-masing.

Sesudah mencari korban dua hari, badan rasanya pegal-pegal semua. Ito terus mengeluh badannya sakit. Pada rapat malam dengan penduduk desa yang lain, Ito memutuskan tidak hadir. Ia hanya rebah saja, dan menerawang ke langit yang penuh bintang.

Johan yang sendirian karena Sio terus sibuk dengan Ama Hia, bertemu kembali dengan lelaki yang kehilangan ke-13 anaknya. Ia yang bermuka agak mulai keriput, tampak menyendiri. Johan kemudian menghampiri, dan duduk di sampingnya.

“Sudah makan, Pak?” tanya Johan memecah sunyi.

Bapak itu menoleh dan tersenyum, lalu mempersilakan Johan duduk di sampingnya. Ia kemudian menceritakan banyak hal tentang keluarganya. Tentang anak-anaknya yang lucu-lucu. Tentang anak perempuan pertamanya yang akan masuk SMP. Tentang anak lelakinya yang mulai bisa berjalan. Terasa seperti cerita menyedihkan yang tak masuk di akal, lantaran semua tiba-tiba hilang.

Lalu Johan bilang kepada bapak itu kalau ia ingin menanyakan sesuatu hal. Tapi ia tak enak karena takut menambah beban si bapak. Karena penasaran bapak itu memaksa Johan tetap menanyakan apa yang ada dipikirannya tersebut. Akhirnya Johan mengalah, dan menanyakan dengan pelan-pelan.

“Apa Bapak tetap berniat memiliki anak, setelah kejadian ini?,” tanya Johan.

Bapak itu terdiam, kemudian tertawa keras-keras.

“Ya tentu saja. Kamu pasti belum pernah menikah. Kalau sudah menikah, kau akan tahu jawabannya,” kata bapak itu lagi.

Meskipun agak bingung dengan jawaban bapak itu. Johan merasa bersyukur juga. Bapak itu paling tidak sudah bisa tertawa. Namun sampai menjelang tengah malam, Johan tak bisa tidur karena jawaban bapak itu masih terus saja terngiang-ngiang di kepalanya.

Cerita pendek ini merupakan bagian dari e-book Monyet-Monyet Tsunami yang telah dipublikasi di Google Play Store.
Bagi yang berminat membeli dapat mengklik gambar atau tautan dibawah ini.

https://play.google.com/store/books/details/Sulung_Prasetyo_Monyet_Monyet_Tsunami?id=wyl-DwAAQBAJ

Sekarang sudah hari ketiga. Kabar dari Ros belum juga tiba. Padahal Johan sudah ingin sekali bertemu dengan teman-temannya. Kangen juga dengan makanan baru yang diharapkan datang bersama mereka.

Menjelang siang Johan dan yang lain masih mencari korban lagi. Ito terlihat mulai lelah, dan berjalan sempoyongan. Mungkin karena kurang makan dan kurang tidur. Tapi, ia tetap nekat membantu mencari korban. Padahal Johan sudah menyarankan agar ia istirahat saja dulu. Tapi Ito malah terus membuntuti dengan jalan agak tak teratur.

Siang ini lebih parah lagi. Makan siang ditiadakan agar pencarian korban bisa lebih banyak waktu. Ito terlihat kesal tapi hanya diam saja. Ia mengikuti menyusuri sungai dan pesisir lagi. Tapi ia tetap tak menjauh dari Johan, dan sebentar-sebentar memanggil agar ditunggu berjalan.

Entah sebuah keberuntungan atau bukan, mereka tiba-tiba menemukan sesosok mayat pria terbujur kaku di pinggir sungai. Bagian kakinya telah hilang, dan tubuhnya penuh dilumuri lumpur.

“Kau tunggu di sini To, aku akan kembali sebentar sambil membawa gerobak. Tampaknya kita tak akan kuat memanggulnya hanya berdua saja,” ujar Johan.

“Apa tak sebaiknya memanggil yang lain saja, untuk ikut bantu memanggul,” kata Ito lemah.

“Yang lain juga sedang sibuk dan entah ada di mana, tapi kuusahakan ada orang lain yang membantu,” kata Johan sambil mulai bergerak menjauh.

Tak sampai setengah jam, Johan kembali dengan gerobak dan seorang anak separuh baya. Bertiga mereka mencoba mengangkut mayat itu. Saat akan diangkat, kepala mayat itu terlepas. Johan yang duluan berteriak.

“Ambil kepalanya tuh To,” kata Johan.

“Aduh, baiklah,” Ito mengangkat kepala yang terlepas itu.

Saat diangkat, rahang mayat itu kemudian juga terlepas.

“Itu rahangnya To,” teriak Johan mengingatkan.

Ito kemudian terduduk. Tampaknya ia kelelahan sekali.

“Sudahlah Han, tinggalkan saja rahangnya. Aku capek sekali,” usul Ito.

Karena sudah terlalu lelah, Johan dan Ito juga tak mengangkat rahang itu. Sementara anak separuh baya itu juga menolak mengangkatnya. Akhirnya rahang itu ditinggalkan begitu saja, dan mereka bergegas kembali ke desa, dengan membawa mayat itu di gerobak.

Pukul dua siang, mereka sampai lagi di desa. Di sana tampak Ros sudah menunggu. Beberapa teman yang lain juga bergegas menjemput sehingga mayat itu bisa segera diperlakukan sewajarnya.

Satu per satu kawan-kawan Johan dipeluk oleh Ito. Banyak yang tidak mengerti dengan kelakuan Ito itu. Namun secara cepat mereka sadar dengan banyaknya kejadian dahsyat yang mungkin telah dilewati Ito selama beberapa hari terakhir ini sehingga mereka merasa maklum dengan tabiat Ito yang agak ganjil.

Usai makan, Ito mandi dengan menggunakan air sumur yang bercampur dengan air laut. Ia kelihatan mulai agak segar, namun tetap saja tak banyak bicara. Ito hanya bilang ia ingin pulang dulu ke rumahnya.

Menjelang sore, Ito dan Johan pulang kembali ke kota dengan membonceng truk bantuan bencana yang kebetulan akan kembali ke kota untuk menjemput bantuan. Sepanjang perjalanan Ito terlihat berusaha tidur. Tapi ternyata itu usaha yang sia-sia karena jalan banyak bergelombang dan rusak.

Ahh mengapa tak ada hal enak yang datang kepadaku berhari-hari terakhir ini?,” dengus Ito.

“Jangan jadi cengeng gitu, To. Nikmati saja yang ada,” sumbar Johan.

“Kau ingat nggak rahang yang tertinggal itu? Bagaimana harus menebus rasa salah karena tak mau membawanya?,” tiba-tiba Ito bertanya.

“Sudahlah, itu bukan salahmu. Kau sudah melakukan yang terbaik.”

“Apa mayat itu mau mengerti?,” tanya Ito lagi.

Johan hanya mengangkat bahunya.

Karena kesal, Ito akhirnya berdiri saja di pinggir truk. Ia banyak melayangkan pandangan ke hutan belukar yang dominan memenuhi pinggir jalan. Hingga pada sebuah kelokan yang bergelombang, Ito tak bisa menguasai keseimbangan badannya. Parahnya tiba-tiba rahangnya terbentur pinggir truk yang berbahan besi.

Usai terbentur Ito langsung rebah ke bawah bak truk.

“Kau tak apa-apa To?” kata Johan, sambil mengoyang-goyangkan tubuh Ito.

“Rasanya seperti habis kena upper cut.”

Johan meringis, turut ngilu karena membayangkan terkena upper cut petinju. ###

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *