Siap-Siap Mati Kalau Nekat Telusur Gua Saat Musim Hujan

Spread the love

Baru-baru ini ada berita mengerikan muncul di media. Berita tentang kematian beberapa mahasiswa kampus Unsika dan Polibisnis Karawang di goa Lele, Jawa Barat. Kejadian itu merupakan kesekian kalinya. Haram hukumnya menelusuri goa saat musim hujan.

Sebelumnya pernah terjadi juga, penelusur goa yang tewas saat masuk goa di musim hujan. Dalam catatan Indonesian Speleological Society (ISS), dari 97 kasus kecelakaan gua di Indonesia, 25 di antaranya terjadi karena banjir.

Catatan Musibah Goa Banjir

Salah satunya di Luweng Serpeng, Jawa Tengah.  Kejadiannya pada tanggal 19 Maret 2013. Waktu itu Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI) mengadakan Kursus Dasar dan Kursus Lanjutan (KDKL) Teknik Penelusuran Gua dan Lingkungan di kawasan karst Gunung Sewu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Pada tanggal 19 Maret 2013 peserta Kursus Lanjutan dibagi ke tiga lokasi gua yang berbeda, yaitu Luweng Ceblok, Luweng Ngingrong, dan Luweng Serpeng 2 untuk melakukan praktik teknik rigging, mapping dan pengambilan data sosmed.

Musibah kemudian menimpa kelompok 3 di Luweng Serpeng 2 yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia karena terjebak banjir. Luweng Serpeng 2 sendiri merupakan lubang pengeringan, dari sebuah area tangkapan air seluas 0,929 km2.

Sebelumnya terjadi juga kecelakaan goa karena banjir di goa Kiskendo, Jawa Tengah. Kecelakaan yang terjadi tanggal 10 Maret 2013 tersebut mengakibatkan 2 mahasiswa Teknik Sipil Universitas Diponegoro meninggal dunia karena terseret air bah di Gua Kiskendo saat melakukan survei. Gua Kiskendo merupakan gua yang memiliki aliran sungai.

Pada tahun 2001, ada kejadian serupa juga. Tenggelam karena nekat masuk goa saat musim hujan. Kejadiannya di goa Nyai, Jawa Barat. Saat itu tujuh mahasiswa Universitas SIliwangi meninggal dunia terjebak banjir di dalam Gua Nyai. Musibah terjadi ketika hujan lebat, air sungai bawah tanah di Gua Nyai dikabarkan terlalu cepat naik.

Menurut catatan ISS, tahun 1998 ada juga kejadian penelusur goa yang tewas karena terjebak di goa banjir. Kejadiannya tanggal 4 Maret 1998, di goa Sriti, Jawa Timur. Menurut informasi karena kejadian tersebut dua orang anggota Imapal Stieken Jaya Negara Malang. Korban diperkirakan meninggal dunia karena terseret arus air bah. Penyebab kecelakaan diperkirakan karena debit air cepat naik, akibat di permukaan telah turun hujan. Mulut gua Sriti sendiri berada di lembah dengan area tangkapan hujan yang cukup luas.

Catatan yang paling terakhir mengenai kecelakaan di goa saat musim hujan ada di goa Kedung Pawon, Jawa Timur. Pada tanggal 10 februari 1993, satu orang anggota Impala Universitas Brawijaya meninggal dunia karena tenggelam saat pemetaan gua Kedung Pawon.

Gua Kedung Pawon sendiri merupakan gua sungai bawah tanah sepanjang lorong. Panjang gua hampir 53 meter dengan ujung lorong kecil. Dibagian lokasi korban tenggelam memiliki kedalaman lebih dari 7 meter. Korban tidak menggunakan pelampung, membawa beban tacklebag serta tidak ada jalur tali pengaman.

Itu cuma beberapa kecelakaan yang tercatat. Masih ada beberapa kecelakaan lain yang tidak dipaparkan disini. Hanya dipilih yang murni memang orang-orang yang diperkirakan memiliki kemampuan cukup untuk aktivitas penelusuran goa.

Proses evakuasi Angkatan Laut Thailand terhadap korban didalam goa Tham Luang pada tahun 2018.

Analisa Butut

Meski tak semua goa akan banjir saat musim hujan, namun secara alami goa juga terjadi karena adanya gerusan aliran air didalamnya. Sama juga seperti gorong-gorong dibawah tanah, goa terjadi karena aliran air menciptakan goa. Selain goa juga terjadi karena patahan, atau rekahan karena gempa.

Dari berbagai kejadian kecelakaan, goa-goa yang terjadi karena gerusan air dan menjadi aliran air yang harus diwaspadai. Kebanyakan lokasi goa tersebut juga berada di area doline, atau merupakan titik terendah dari beberapa dataran tinggi disekitarnya. Sehingga air yang jatuh di bagian atas, akan mengalir sempurna ke satu titik, yaitu lubang goa tersebut.

Banyak juga penelusur goa yang merasa aman-aman saja, saat masuk ke goa di area doline seperti ini. Mungkin karena tak tahu, mungkin juga karena sudah bersiap dengan manajemen komunikasi pada orang di mulut goa dan darah hulu. Namun tetap saja, sebaik-baiknya kita memiliki tindakan preventif, selalu ada kejadian yang tak terduga di alam. Seperti turun hujan yang tak terduga, seperti jamaknya era perubahan iklim saat ini. Selain itu fungsi koordinasi komunikasi juga bisa saja terputus karena keterbatasan teknologi.

Ujung-ujungnya pasti human error kembali yang dipersalahkan. Namun apa saling menyalahkan tersebut akan mengembalikan nyawa korban yang sudah mati? Jadi satu-satunya upaya pencegahan yang paling utama merupakan hindari turun ke goa, saat musim hujan terjadi. Sebab goa itu juga tak akan kemana-mana. (Sulung Prasetyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *