Sorga Lingkungan

Meskipun hari sudah menjelang tengah malam, pengajian tahlilan di rumah Haji Somad belum juga usai. Sudah 40 hari ini tahlilan atas kematian Haji Somad terus-menerus dilakukan. Orang berdatangan mengaji silih berganti. Beberapa muka yang akrab dikenal oleh keluarga Haji Somad juga datang. Begitu juga muka lain yang tampak asing, turut hadir. Namun demi kepentingan mengirimkan orang terkaya dikampung itu, keluarga Haji Somad terus menerima mereka dengan senang hati.

Tak putus-putus api di dapur dinyalakan. Untuk memasak air kopi, menanak nasi, membuat sayuran dan lauk pauk, bagi para tamu yang terus berdatangan bagai banjir di musim hujan. Meski sudah 40 hari, tamu-tamu seperti tak kunjung habis. Semua bergantian menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Nyi Komah, istri Haji Somad. Bila Nyi Komah kelelahan, Aji, anak sulung Haji Somad menggantikan ibunya menerima tamu dan mengurusi berbagai keperluan tahlilan.

Arwah Haji Somad sendiri tanpak bimbang melihat dari arah luar pagar. Sempat arwah itu melihat-lihat kamar istri dan anak-anaknya. Tapi lama-kelamaan arwah Haji Somad merasa sedih sendiri, karena istri dan anaknya setiap disambangi justru merasa ketakutan. Bahkan pernah Nyi Komah justru berteriak-teriak, saat Haji Somad sengaja menampakkan wujudnya di samping tempat tidur istrinya.

Hingga kemudian arwah Haji Somad memilih berdiam diri saja di pepohonan kebun belakang rumah. Kadang-kadang ia juga melihat-lihat tempat ia kecil dulu, sekolahan di masa mudanya. Sempat juga ia mendatangi pesantren ngajinya kala dirinya masih muda. Haji Somad hanya manggut-manggut saja melihat para santri di sana masih rajin mengaji Yasin, bila malam Jumat tiba.

Arwah Haji Somad bukan hantu penasaran yang bergentayangan. Tapi ia memang diberi waktu 40 hari sebelum masa panggilan oleh malaikat tiba. Sebelumnya ia sudah lolos ujian awal setelah dikuburkan. Ketika ditanya siapa Tuhannya, siapa rasul dan apa agamanya, Haji Somad dengan lancar bisa menjawab.

Malam ini malam terakhir ia bisa kelayapan ke mana-mana. Nikmat dari Tuhannya akan segera berakhir. Tepat di malam ke-40 setelah kematiannya, ia akan dijemput malaikat lagi. Ia akan dihadapkan kepada Tuhan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di bumi.

Berarti nalam ini merupakan malam terakhir arwah Haji Somad  bisa melihat istri dan anaknya. Rasa sedih kembali menggerayanginya. Ia lihat-lihat lagi sudut-sudut rumahnya yang penuh dengan orang-orang. Dengan cermat ia perhatikan tiap detail-detail foto serta barang-barang miliknya yang terakhir kali.

Benar saja, menjelang adzan shubuh berkumandang, dua malaikat menjemputnya. Tampak seperti berkas sinar yang mengangkatnya ke angkasa. Roh Haji Somad hanya pasrah saja. Ia sudah sangat yakin akan nasibnya. Bahwa Tuhan akan menerima semua amalannya. Ia telah banyak bersedekah kepada orang miskin. Menyekolahkan anaknya hingga sukses. Menjaga keluarganya dengan kasih sayang. Membangun masjid, berulangkali beribadah haji, dan tak terhitung sumbangannya kepada anak yatim piatu.

Mungkin ada beberapa dosa kecil yang pernah ia lakukan. Seperti mencuri jambu milik tetangganya waktu kecil dulu. Juga berkelahi dengan lelaki pesaingnya saat ingin mendapatkan cinta Nyi Komah dulu. Tapi ia yakin, Tuhan akan memaafkan dosa-dosanya itu. Mungkin ada beberapa dosa lain, seperti tak sengaja berbohong, lupa salat, malas berpuasa, sedikit suudzon dengan tetangganya yang akan berutang.

Tapi Haji Somad sangat yakin sekali semua dosa itu sudah hilang terhapuskan oleh zakat yang ia bayarkan, atau oleh salat sunat yang kerap ia lakukan tiap malam. Lagi pula Tuhan itu Maha Pengampun, pasti semua kesalahannya sebagai manusia bakal dimaafkan. Seandainya ia harus mengalami hukuman, pasti juga tak akan terlalu berat, karena Haji Somad yakin semua dosa-dosanya tidak terlalu berat.

Ternyata Haji Somad tak langsung dihitung pahala dan dosanya. Setelah diangkat menuju singgasana Tuhan, ia kembali ditidurkan hingga hari kebangkitan nanti tiba. Haji Somad tidur dengan tersenyum karena ia tidak disiksa di alam kubur. Haji Somad tertidur dengan nyenyak hingga tiba hari kebangkitan yang dijanjikan.

Tak terhitung berapa lama Haji Somad tertidur. Ia terbangun saat sangkakala ditiupkan oleh malaikat. Haji Somad terbangun dengan segar dan melihat orang-orang lain juga terbangun bersamanya. Satu dua wajah dikenalnya dulu di dunia. Mereka saling menyapa dan tersenyum satu sama lain.

Namun saat Haji Somad berdiri menunggu penghitungan amal ibadahnya, tiba-tiba ada sebuah tangan memberikan kitab dari belakang. Haji Somad terkesiap.

“Celakalah aku, mengapa kitab amal perbuatanku diberikan dari belakang,” ucap Haji Somad.

Menggigil badan Haji Somad. Ia telah ditakdirkan tidak masuk sorga. Kitab amal perbuatan yang diberikan dari belakang adalah keburukan. Lama Haji Somad terpekur memikirkan kesalahan-kesalahannya. Ingin ia bersujud memohon ampun, namun ia tahu semua sudah terlambat dilakukan.

Saat ia bertemu Yang Kuasa, ia menanyakan hal ihwal kitab keburukan tersebut. “Ya Allah, dosa apakah hamba hingga diberikan kitab amal dari belakang. Hamba sudah menjalankan semua perintah-Mu, dan menjauhi semua larangan yang Kau berikan”.

Allah hanya tersenyum, ia menyuruh malaikat untuk membuka kitab tersebut. “Bagaimana cara kau mencari nafkah Haji Somad?”

Sebelum mulut Haji Somad menjawab, tangan Haji Somad telah berbicara. “Saya menggunakan tangan saya untuk membuka hutan, menggali bumi, dan mengambil batubara di dalamnya,” ucap tangan Haji Somad.

“Benarkah seperti itu kaki Haji Somad?” kembali Allah bertanya.

“Benar ya Allah. Kakiku bergerak untuk merusak bumi. Kakiku menginjak hutan yang rusak, dan membuat lubang-lubang pertambangan yang tak ditutup lagi. Membuat binatang mati terperosok di dalamnya, dan sumber air masyarakat menjadi tercemar,” suara kaki Haji Somad terdengar.

“Tapi ya Allah, aku telah menyedekahkan hartaku untuk anak yatim, orang miskin dan janda yang telantar,” balas Haji Somad.

“Berapa orang yang telah kau beri sedekah? Seribu, sejuta, satu juta orang?,” tanya Allah.

“Tahukah kau akibat perbuatanmu? Ratusan juta orang di bumi menjadi sengsara. Ratusan juta orang tersiksa karena asap hutan yang kau bakar. Ribuan juta orang tersiksa karena alam menjadi tak menentu musimnya. Itu semua sebagian besar diakibatkan karena batubara yang kau gali,” sabda Allah lagi.

“Amal perbuatanmu sangat banyak, tapi tak cukup untuk menutupi kesalahanmu terhadap orang lain. Kamu akan masuk sorga, tapi harus membayar dosamu dulu di neraka.”

Haji Somad tertunduk. Ia tak percaya dengan yang dikatakan  Allah. Ia merasa tak adil, hingga ia diseret oleh malaikat menuju neraka.

Dalam perjalanan menuju neraka, ia melihat Hamid. Tetangganya yang miskin juga sedang dibawa oleh malaikat. Namun Hamid dibawa menuju sorga.

“Ya malaikat, mengapa Hamid dimasukkan ke sorga? Amal ibadahnya tak lebih banyak dari semua yang pernah kulakukan,” tanya Haji Somad tak puas. “Izinkan aku bertemu Allah lagi, untuk menanyakan hal itu,” pinta Haji Somad.

“Ya Haji Somad, kukabulkan permintaanmu. Mari kita bertemu kembali dengan Allah untuk keadilan,” ucap malaikat.

Saat kembali bertemu Allah, Haji Somad langsung menanyakan perihal Hamid yang masuk sorga.

“Ya Haji Somad, apa kau tahu apa yang dilakukan Hamid saat di dunia?” tanya Allah.

“Dia miskin ya Allah. Orang miskin tak bisa banyak melakukan apa pun. Bahkan, naik haji saja dia tak mampu,” urai Haji Somad.

“Hamid telah menjalankan perintah-Ku. Ia tak pernah merusak bumi, seperti dirimu. Ia bersepeda setiap hari ke tempat kerjanya. Ia tak membuang-buang air saat wudhu, ia membantu menanami hutan yang gundul, dan ia juga membantu orang yang kesusahan karena kebanjiran,” urai Allah.

Haji Somad tak percaya dengan semua yang baru didengarnya. Semua kesombongannya seperti menguap. Ia yang suka menghambur-hamburkan kekayaan, dan bersukaria dengan tiga istri simpanannya, serta membuang-buang bensin untuk pergi ke rumah ibadah sejauh-jauhnya, telah membuatnya menjadi seseorang yang tak disukai Allah.

*******

Cerita pendek ini merupakan bagian dari e-book berjudul Monyet-Monyet Tsunami yang telah diterbitkan oleh Google Playstore.
Bagi yang berminat membeli dapat mengklik gambar atau tautan dibawah ini.
https://play.google.com/store/books/details/Sulung_Prasetyo_Monyet_Monyet_Tsunami?id=wyl-DwAAQBAJ
Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: