Bergoyang di Jeram Kapuas

Awalnya perjalanan ini dimulai dengan kecemasan. Seperti ada yang berbeda dengan kegiatan serupa yang pernah dilakukan sebelumnya. Tidak seperti layaknya sebuah perjalanan ekspedisi dilakukan, kami menjalankan tanpa mengenal satu sama lain.

Meskipun tidak telak seperti orang baru yang tidak saling mengenal, anggota perjalanan ini dikabarkan akan dipenuhi oleh para ekspertis kegiatan alam bebas. Tujuannya jelas, menggali potensi arung jeram sebagai wisata di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Perjalanan dengan misi seperti ini, sebenarnya bukan pertama kali dilakukan disana. Puluhan tahun sebelumnya ada cerita dari Rully, anggota Mapala UI yang pernah melintas jeram Matahari, di hulu Kapuas . Ditambah laporan dari WWF Indonesia yang pernah berniat melakukan penelusuran dan pelatihan bagi penduduk lokal, pada tahun 2007 lalu.

Bahkan Lody Korua dari Arus Liar, yang kali ini juga menjadi peserta, pernah melintasi sungai hulu Kapuas, setelah melalui Mahakam tahun 1993 lalu. Tapi dulu, kata Lody ia tidak menggunakan perahu karet, melainkan dengan perahu kayu milik para penduduk setempat.

“Sekarang banyak yang berbeda,” kata Lody, sembari mengulang kembali memori dikepalanya.

Matanya yang mulai memutih seperti mencari-cari yang dulu ada, disekitar pinggir sungai yang dilintasi, mulai dari kota Putussibau, hingga Nanga Bungan. Pada akhirnya hanya meninggalkan perasaan kecewa, bagi Lody. Sebab terlalu banyak pohon yang hilang, menurutnya.

Untung, tuak-tuak dari pohon nira mampu meredamkan suasana. Membawa kami kembali untuk hanyut dalam petualangan menuju hulu sungai Kapuas . Bersama motoris perahu yang cekatan, memacu irama motor penggerak perahu, melawan arus dan jeram menuju hulu.

Nanga Bungan yang akhirnya menjadi tempat menginap, hanya berupa desa kecil yang terletak diantara pertemuan sungai Bungan dan Kapuas . Notabene isi kampung Nanga Bungan berisi keturunan Dayak Punan Hoovongan. Yang dikenal memiliki kemampuan meramu dan berkebun yang baik. Hanya sayangnya mereka tidak memiliki karakter seperti orang Dayak pada umumnya. Sehingga jangan harapkan ada rumah betang panjang, atau tattoo tradisional disini.

Gaya hidup berbeda sebagai orang Dayak itu juga yang kemudian menjadi polemik, bagi beberapa orang. Salahsatunya Hendricus Mutter, peserta dari Wanadri, sebagai salahsatu ekspertis gunung hutan di Indonesia .

“Seperti ada nuansa Dayak yang hilang,” katanya.

Meskipun malam sebelumnya, kami sudah disuguhi tari tradisional dan hidangan makan malam khas penduduk sekitar.

Proses menuju hulu sungai Kapuas. (Photo: dok. Sulung Prasetyo)

Jeram Matahari

Baru satu hari setelahnya, setelah menginap dulu di Nanga Bungan, keseluruhan tim berhasil menuju titik target kegiatan. Kali ini target kami adalah jeram Matahari. Merupakan jeram terbesar dan tersulit yang harus dilalui.

Perjalanan menuju jeram Matahari harus ditempuh sampai tiga jam menuju hulu, dari Nanga Bungan. Mengangkat dan menarik perahu melawan jeram yang mulai tampak patah dan berarus keras, sudah bukan menjadi hal asing yang selalu dilakukan. Beramai-ramai kami harus menarik empat perahu kayu, yang didalamnya berisi perahu karet, kayak dan body board khusus untuk sungai.

Terkadang harus juga melipir pinggir sungai, karena perahu kayu tak kuat membawa penumpang melawan arus dan jeram. Sesi-sesi melipir sungai dan mengangkat perahu kemudian sekaligus menjadi acara scouting jeram, seperti layaknya sebuah pengarungan sungai dilakukan.

Tercatat ada tiga rentetan jeram yang harus diwaspadai. Ada jeram Matahari, Pulas, dan Delapan. Jeram Matahari yang sekarang ada didepan mata, berisi hujaman arus pada satu lintasan diantara dua batu besar. Resiko besar bila perahu salah lintasan dan menumbuk batu. Bila terkena baru sebelah kanan, akan terjebak dibawahnya. Bila terkena batu sebelah kiri, bisa dipastikan perahu akan terbalik dengan sempurna.

Abo, skipper perahu dari Arus Sakti yang kini beroperasi di sungai Ae Manna, Bengkulu tampak cermat memperhatikan berbagai kemungkinan. Dengan dibantu Komar, akhirnya berdua mereka menjadi pengendali perahu pertama yang akan turun di jeram Matahari.

“ Ada arus balik yang berbahaya sebelum masuk jeram. Arus bisa bikin perahu terlalu mengarah ke kanan,” kata Komar sambil menunjuk batu tajam dibagian kanan jeram.

Kiki Murdyatmoko, Ketua perjalanan ini juga turut menikmati sensasi melintasi jeram Matahari pada kesempatan pertama tersebut. Usai melintas Kiki mengatakan sempat cemas, ketika perahu terasa terlalu miring ke kanan. Mungkin terbayang dikepalanya bila perahu harus terjerembab di bebatuan, kemudian perahu menjadi terjepit dan terus dihempas arus kuat dari belakang. Bisa putus kepala, bila terus tertimpa air sebanyak itu.

Untungnya perahu pertama melewati jeram Matahari dengan sukses. Meskipun terlihat keseluruhan perahu dan awak seperti hilang ditelan air, saat berada di titik utama jeram Matahari.

Keberhasilan tersebut menimbulkan kepercayaan diri bagi penduduk lokal untuk turut mencoba. Hingga lima kali percobaan melintas jeram Matahari kemudian dilakukan. Tiap-tiap kali melintas, berisi setidaknya dua orang penduduk lokal, yang diharapkan bisa mengembangkan wisata arung jeram disana pada masa mendatang.

Sawang, salah seorang penduduk yang ikut mencicipi sensasi melintas jeram Matahari mengaku senang dengan pengalaman itu. Sebab menurutnya pada saat dulu ia berhasil lolos dari maut, usai berenang secara tak sengaja di jeram Matahari, ia mulai berpikir untuk tidak bermain-main lagi dengan sungai.

Sayangnya tim perahu kayak dan Body Board memutuskan untuk tidak menuruni jeram Matahari tersebut. Mamal, salah seorang kayaker bilang kalau jeram Matahari terlalu serius untuk dilintasi perahu kayak.

“Kami akan datang lagi dengan tim rescue khusus kayak yang layak,” urai Mamal, usai kegiatan.

dok. Institut Pertanian Bogor (IPB)

Jeram Delapan

Setelah melewati jeram Matahari, rintangan berikutnya adalah jeram Delapan. Menurut pengamatan sesaat bentuk jeram Delapan sebenarnya tidak terlalu memiliki karakter yang sulit dilalui. Penurunan sungai membuat kondisi air menjadi bergelombang. Setidaknya ada tiga gelombang besar yang harus dilewati, untuk menyelesaikan jeram Delapan.

Untuk melewati jeram ini, saya mengambil alih posisi sebagai kapten kapal atau skipper. Ada enam awak dalam perahu yang sudah siap mengarungi jeram Delapan. Sementara awak perahu yang lain bersiap memberi pertolongan bila terjadi situasi darurat.

Perahu pelan saja melintas pembukaan jeram. Arus tampak kemudian menyatu membentuk garis seperti lidah. Arus besar itu yang kemudian saya ambil untuk mengarahkan perahu menuju gelombang yang pertama. Seperti dugaan sebelumnya, bukan gelombang pertama ini yang bisa bikin repot perahu. Denga mudah saja buritan perahu sudah melewati gelombang pertama tersebut.

Baru selesai melewati gelombang pertama, moncong perahu sudah disambut lagi dengan gelombang kedua. Kali ini gelombang terasa lebih besar. Hampir membuat perahu seperti berdiri saja layaknya. Untung tak ada awak perahu yang terlempar keluar. Perahu juga sempat miring, sebelum akhirnya lolos melewati gemombang kedua itu.

“Maju…maju”, teriak saya dengan lebih bersemangat.

Saya tah, gelombang ketiga ini yang paling dahsyat. Tinggi gelombang lebih dari yang sebelumnya. Sebelum memasuki gelombang ketiga, perahu seperti masuk ke dalam lorong air. Sekitar kami sekarang semuanya air. Perahu meluncur cepat, menuju dasar gelombang. Sementara teriakan saya semakin membahana. Mengajak awak mengerahkan segala tenaga untuk mendayung. Sebab perahu memerlukan dorongan kuat, agar bisa keluar dari gelombang terakhir ini.

Berhasil. Meski terasa seperti waktu sempat berhenti sejenak saat berada di puncak gelombang. Tapi kami berhasil melewati gelombang terakhir yang paling besar. Sesaat setelah buritan belakang perahu lepas dari puncak gelombang, semua awak berteriak gembira. Diiringi tepuk tangan dari para awak lain, yang berjejer dipinddir sungai. Menatap dengan cemas, sesaat sebelum kami melewati semua gelombang tersebut.

Perahu kayak ketika melintasi jeram Pulas, di hulu sungai Kapuas, Kalimantan Barat. (Photo: dok. Sulung Prasetyo)

Jeram Pulas

Posisi jeram Pulas setelah acara makan siang diselesaikan. Jeram itu sebenarnya berada dilokasi yang tak jauh dari desa Nanga Bungan. Desa dimana kami akan berdiam malam nanti.

Bentuk jeram Pulas terlihat sedikit memerlukan keahlian untuk melewatinya. Setidaknya kemampuan utnuk bermanuver, karena posisi arus utama berada ditengah antara dua batu besar. Setelah itu arus akan menurun, membentuk gelombang tak beraturan.

Saya memutuskan tak ikut turun di jeram ini. Melainkan memutuskan untuk menjadikan moment ini sebagai objek dokumentasi dari perjalanan tersebut. Terlihat perahu pertama mulai memasuki jeram. Tak sulit bagi perahu karet berpanjang empat meter tersebut melintasi jeram Pulas. Kesulitan hanya didapat saat bermanuver masuk ke arus diantara dua batu besar. Setelahnya mereka tinggal mengikuti arus untuk melewati jeram ini.

Yang agak mencemaskan justru ketika perahu kayak mencoba melintas jeram Pulas. Terlihat perahu kayak yang hanya berawak satu orang itu, seperti tenggelam ditelan ombak. Sampai akhirnya bisa selamat keluar, sesaat setelah melewati arus diantara dua batu besar.  

Secara umum hulu sungai Kapuas layak dijadikan sebagai area jualan wisata arung jeram. Alam yang masih alami, jeram yang menantang dan penduduk lokal yang bersahabat, diyakini menjadi menu utama trip wisata petualangan disana. Setidaknya itu bisa menjadi usaha yang lebih baik, ketimbang harus menebang pohon dan menghabisi hutan.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: