Mendaki Bunda Merbabu dan Ayah Merapi

Spread the love


Gunung Merbabu itu seperti seorang bunda. Indah, menerima dengan apa adanya tapi bisa menerpa seperti angin kencang layaknya. Gunung Merapi, seperti ayah yang keras, pemarah dan siap melontarkan apa saja tapi tetap memberi nafkah dengan usaha sempurna. 

Menuju kedua gunung itu seperti pulang rasanya. Melihat kampung halaman dan bertemu ayah dan bunda kembali. Kalau dari pasar Selo, ayah ada dibagian timur, bunda ada dibagian barat. Sebagai seorang anak lelaki, wajar bila melangkah ke rumah bunda dulu. 

Bunda Merbabu

Di rumah base camp paling ujung pendakian Merbabu, isinya juga hanya seorang ibu juga. Bu Yati, ia minta dipanggil. Tak banyak kepo dengan tanya-tanya masalah puasa, dan sibuk dengan urusan panenan wortel di kebun depan rumahnya. 

Bu Yati juga yang cerita, kalau Merbabu seperti seorang ibu. Tenang, tak banyak meletus, tapi tetap subur karena mendapatkan abu dari Merapi. “Selama saya dari kecil Merbabu tak pernah meletus. Merbabu gunungnya ngalem mas, Merbabu itu ibunya, Merapi itu bapaknya,” ucap Bu Yati. 

Padahal kalau bisa mendaki sampai pos Sabana I saja, maka lansekap kering terhampar luas. Seperti ada emosi tersimpan didalam tanahnya. Menyimpan energi panas besar, tapi tak bisa dikeluarkan. Membuat pohon-pohon besar sedikit ada, dan tersisa padang rumput luas yang ternyata lebih kuat bertahan hidup. 

Padang rumput terus terhampar bahkan hingga pos Sabana II dan Jemblongan. Di pos Jemblongan, liukan bukit-bukit berambut padang rumput makin menjadi-jadi. Menyisakan potongan-potongan gambar bukit-bukit milik teletubbies, yang sempat populer jadi idola anak-anak kecil. Tempat bermain yang terlalu sempurna untuk seorang bunda mengasuh anaknya. 

Di lembahnya kemudian memutuskan bermalam. Seperti melakukan kebodohan, tapi kenikmatan yang ditawarkan terlalu menggiurkan. Pucuk Merapi, lengkap dengan garis batas lembah dikejauhan. Tepat dibawah puncakan Kenong, alas dan lembar parasit pelindung tidur dikembangkan. Melupakan bintang-bintang, dan nyenyak bersama kehangatan tepukan angin malam. 

“Semalam katanya sangat banyak bintang. Apa melihat?” kata seorang pendaki kepada Dadang, pagi harinya. 

Dadang seperti berpikir, dan memalingkan muka kepada Vico. Pendaki dari Palawa Universitas Pajajaran itu juga tak bisa menebak. Tak ada diantara kami bertiga, yang bangun semalam. Jadi pertanyaan pendaki yang sama-sama ingin ke puncak itu, tak memiliki jawaban. 

Selanjutnya, ia terus berjalan kembali. Mengajak kaki kembali melangkah mendaki. Angin kencang masih terasa, terus mengobrak-abrik rambut dikepala. Namun langit terlihat sangat biru, terlalu biru malah. Bahkan sampai kaki mencapai puncak, biru itu tetap tak mau pergi. 

Gunung Merapi dilihat dari gunung Merbabu. (Photo: dok. Sulung Prasetyo)

Ayah Merapi

Berbeda dengan Merapi diseberangnya. Seperti seorang ayah, Merapi memberikan kekerasan dan ketegaran didalamnya. Meski akhirnya hanya sampai pos II, tapi Merapi benar-benar menyisakan kekerasan saja rasanya. Batu-batu keras tajam masih setia menemani. Di ujungnya sesaat menjelang puncak, Merapi dipenuhi kebotakan merata. Putih bercampur kuning, diterpa sinar terbit matahari. 

Di bawah pos II, tanjakan-tanjakan tajam bisa membuat muntah siapa saja yang tak siap mengira. Dipenuhi batu-batu kerikil kecil, yang bisa menggelincirkan kaki tanpa alas yang baik. 

Jalur turun terus dipenuhi debu. Beterbangan, tiap usai kaki melangkah diatasnya. Membuat bandana penutup hidung harus selalu siap dikenakan. Untungnya kanopi pohon besar siap melindungi. Membuat sesaat lupa pada panas menjelang siang. 

Di pos I, ada sedikit ceruk yang mengantarkan mata pada pemandangan luas patahan sungai besar. Patahan yang tak rapi, khas buatan alam. Namun tampak menimbulkan garis tegas meliuk seperti ular. 

Bersama Mario, kenalan lama pendaki yang kebetulan kembali bertemu di ceruk, terkagum-kagum melihat liukan garis itu. Di ceruk ini, dua tenda kapasitas empat orang bisa dibuka. Bersembunyi dibelakang pendopo pos I, yang tiang empatnya seperti berasal dari kayu gunung itu juga. 

Di bawahnya lagi, di deretan huruf-huruf besar berbahan metal bertulis NEW SELO, tampak deretan kebun tembakau menghampar. Seperti siap memberikan kenikmatan bagi seorang ayah perokok. Kebun tembakau itu terus menurun hingga mencapai kaki Merbabu, dan tenggelam bersama kompleksitas perkampungan. Keruwetan masyarakat, yang menyambut bahkan sampai melintas Jogjakarta dan mencapai Jakarta kembali tepat dini hari setelahnya.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *