Menjenguk Kapal Karam Karimun Jawa

Dari sekian banyak pulau di Indonesia, mungkin baru seperempatnya saja yang dijadikan tempat wisata penyelaman. Salah satunya yang terlewat adalah Kepulauan Karimun Jawa, di Jawa Tengah. Dengan potensi pulau yang notabene berpasir putih, wisata penyelaman bangkai kapal atau wreck dive, sudah sepantasnya lebih serius dikembangkan keberadaannya.

Perlu waktu enam jam menyeberangi laut untuk tiba di Kepulauan Karimun Jawa, bila berangkat dari Jepara, Jawa Tengah.  Tujuan kapal yang kami tumpangi saat ini adalah Pulau Kemojan, tempat basecamp kami nanti selama melakukan kegiatan ekspedisi di sana untuk beberapa hari.

Ibu Pepe, pemilik rumah yang kami jadikan tempat tinggal tersenyum ramah saat kami tiba dengan berbagai barang keperluan penyelaman. Buat ibu ini, hal itu bukanlah hal baru. Memang rumahnya yang juga berdekatan dengan kantor LSM ”Alam Karimun” selalu menjadi tempat persinggahan sebelum melakukan penyelaman di Karimun Jawa.

Baru dua hari kemudian kami bisa pergi ke Pulau Tengah, melakukan inti kegiatan kami, mengidentifikasi potensi wisata selam di sana. Sehari sebelum itu kami juga melakukan penyelaman di Pulau  Sintok sebagai pemanasan.

Pulau  Tengah ini ternyata sebuah pulau milik seorang jutawan yang ternyata bisa juga untuk disewakan. Ada enam cottage besar di sana. Dan ada sepasang suami-istri tua yang setia sebagai penunggu pulau tersebut. Pulau ini lumayan besar. Dengan pasir putih mengelilinginya, pulau ini terlihat jadi lebih indah di mata. Segera saja peralatan selam kami persiapkan saat seluruh tim tiba di sana. Segala macam BCD, Regulator, Fins, Snorkel dicek ulang kembali hingga akhirnya siap menyelam pukul 10 pagi hari itu.

Sistem sabuk digunakan untuk mengidentifikasi kehidupan biota laut yang ada di sekeliling pulau Tengah. Sistem sabuk membuat kami harus melakukan penyelaman berkeliling pulau tersebut, sampai memakan waktu sampai dua hari lamanya. Untung saja tak banyak masalah yang ditemui saat melakukan penyelaman di Pulau Tengah. Hingga akhirnya selesai juga dan melakukan penghitungan hasil akhir identifikasi tersebut.

Dengan menggunakan indeks yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata, kami semua yang melakukan identifikasi menyatakan bahwa potensi bawah laut yang ada di Pulau Tengah ini bisa dibilang layak sebagai daerah tujuan wisata selam. Dukungan visibility atau jarak pandang yang mencapai 20 meter dan jenis ikan yang rata-rata mencapai 30 jenis, makin menambah laiknya potensi wisata selam yang ada di sana. Belum lagi keindahan terumbu karang yang keberadaannya 80 persen masih bisa dibilang baik.

Maka sangat disayangkan bahwa daerah tersebut belum juga diseriuskan sebagai dive point tujuan wisata penyelaman di Karimun Jawa.

Kapal Karam

Selain di P. Tengah, ternyata tak jauh dari basecamp kami di Pulau Kemojan juga terdapat potensi yang tak kalah menariknya, yaitu penyelaman melihat bangkai kapal atau wreck.

Jenis kegiatan penyelaman melihat bangkai kapal ini pada umumnya hanya diminati oleh orang-orang tertentu saja, dan biasanya hanya bagi orang yang berminat pada sejarah kelautan atau yang mempunyai jiwa avonturir berlebih.

Cerita penyelaman bangkai kapal Indonoor di Kepulauan Karimun Jawa, sebenarnya bukanlah barang baru buat penduduk sekitar. Sebuah kapal pengangkut batu bara milik armada Belanda karam di perairan tersebut sekitar 60 tahun silam. Cerita yang ada menyebutkan bahwa kapal tersebut karam karena nakhodanya menyangka Kepulauan Karimun Jawa adalah pesisir pantai Semarang, Jawa Tengah. Dasar pantai-pantai di Karimun Jawa yang relatif rendah membuat kapal tersebut kandas dan akhirnya karam.

Pagi harinya pukul 6 kami sudah bersiap untuk menyelam. Segala perlengkapan penyelaman seperti BCD dan Regulator, pakaian selam, fins dan snorkel kami periksa ulang untuk meminimalkan risiko yang mungkin timbul. Baru pada pukul 9.39 pagi tim pertama bisa memulai penyelaman.

Buddy system diterapkan juga dalam penyelaman kali ini. Setelah masing-masing anggota tim masuk ke dalam air mulailah dive dilakukan. Visibility atau daya pandang yang ada pada waktu itu hanya sekitar delapan meter saja. Pumping atau penyesuaian tekanan udara di dalam tubuh terus dilakukan tiap kali penurunan beberapa meter ke bawah air. Hingga tak terasa sudah hampir 14 meter kami menyelam ke dalam laut. Dan sekarang mulailah terlihat bangkai kapal di bawah sana.

Suasananya terasa sangat sunyi dan misterius. Di pilar-pilar besi kapal yang sudah berkarat terlihat terumbu karang bewarna-warni berjuang hidup dan tumbuh terus.

Bangkai kapal ini terlihat terbelah dua, seperti bangkai kapal Titanic dalam film-nya yang sempat ramai di kota Jakarta. Panjang kapal itu hampir menyamai kapal-kapal fery di Indonesia yang mampu menyeberangi Laut Jawa menuju Sulawesi atau Kalimantan. Sekarang bangkai kapal itu terlihat cokelat kehitaman karena karat yang tumbuh di sana-sini.

Beberapa penyelam coba memutari badan kapal lewat bagian buritannya. Sisi belakang kapal ini agak lebih tinggi dari bagian badan lainnya. Sampai akhirnya ditemukan baling-baling kapal yang masih terlihat utuh dan baik keadaannya. Besarnya baling-baling itu mencapai tiga kali besar drum minyak tanah dan bewarna cokelat juga.Sebenarnya cukup terpana juga rasanya melihat kondisi baling-baling yang tampak masih baik saja setelah terpendam sampai 60 tahun lamanya.

Sesaat kemudian kami bergerak lagi mengitari sisi lain kapal. Kami menuju ke bagian geladak, yang terlihat masih memiliki pagar. Pagar-pagar cokelat hitam itu sudah mulai rapuh. Karat ada di sana-sini dan juga sudah ditumbuhi terumbu karang yang bewarna indah.

Agak tergoda juga saat melihat banyaknya rongga yang bisa membawa para penyelam masuk ke bagian dalam kapal. Tapi mengingat kesepakatan bersama di atas permukaan air sebelum menyelam karena keterbatasan alat, kami tidak memasuki rongga-rongga tersebut. Akhirnya kami lebih memilih tidak memasukinya meskipun hati ini agak menyesal tidak dapat melihatnya.

Tapi rasa sesal itu agak hilang saat melihat ikan-ikan berukuran besar yang hidup di sekeliling kapal karam tersebut. Ikan-ikan yang ada di situ bertubuh lebih besar daripada jenis ikan lain yang ada di bagian pulau lainnya. Seperti jenis Butterfly fish dan Napoleon. Masalah ini sempat menjadi pertanyaan juga, sebab dari penyelaman sebelumnya di pulau lain di Kepulauan Karimun Jawa ini kebanyakan hanya jenis ikan-ikan kecil saja yang ada. Atau mungkin karena mitos daerah kapal tenggelam tersebut yang dianggap angker, membuat banyak nelayan yang ada di sana segan untuk mengambil ikan yang ada di daerah kapal tenggelam tersebut.

Spread the love

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: