Salju di Arab Bukti Perubahan Iklim

Mungkin dulu orang hanya mengenal daerah Tabuk di Arab Saudi sebagai arena perang pada masa Rasulullah Muhammad SAW saja. Tapi awal tahun 2020 ini, nama daerah Tabuk kembali menjadi trend di berbagai media. Lantaran kembali turun salju disana, pada awal tahun 2020 ini.

Berbagai kontroversi kemudian hadir mengenai kejadian turunnya salju di Tabuk termasuk. Bagaimana tidak? Tanah Arab yang semula dikenal sangat tandus dan dipenuhi gurun pasir, kini bisa dipenuhi oleh salju pula. Ada yang menganggap sebagai tanda akhir zaman, ada juga yang mengatakan kejadian tersebut sebagai tanda bahwa perubahan iklim memang benar terjadi. Namun satu yang paling pasti harus dilakukan adalah tindakan beradaptasi terhadap berbagai kemungkinan yang ada.

Kejadian hujan salju di Arab Saudi sendiri, bukan baru awal tahun ini terjadi. Tahun 2019 dan 2016 lalu sudah pernah pula turun salju di Arab Saudi. Waktu itu dunia juga memperbincangkan masalah tersebut. Namun makin ke tahun berikutnya, kejadian hujan salju di Arab Saudi terus meningkat waktunya.

Untuk tahun 2020 ini, kejadian hujan salju di awal tahun sebenarnya sudah diprediksi oleh dinas yang terkait di pemerintah Arab Saudi. Terbukti melalui ramalah cuaca yang dikabarkan oleh Hassan Karani, seorang meteorologist paling senior di dunia media di Arab Saudi.

Dalam laporannnya Karani mengatakan kalau hujan salju akan turun terutama di bagian utara barat dari Kerajaan Arab Saudi. Dan kenyataannya memang seperti itu, darah Tabuk yang berada di utara kini telah diselimuti salju.

Namun sayangnya Karani mengatakan masih belum menemukan alasan berdasarkan sains mengenai kejadian ini, dan berapa lama kemungkinan kita akan menghadapi masalah tersebut.

 “Yang jelas kita akan makin menghadapi dampak makin besar dari perubahan iklim di seluruh wilayah kerajaan”, urainya.

Perlu Beradaptasi

Sementara itu di kesempatan berbeda, Maha Akeel, Direktur Departemen Informasi Publik dan Komuniasi dari Organisasi Kerjasama Islam (OIC) mengatakan perlunya persiapan beradaptasi untuk menghadapi berbagai kemungkinan dampak perubahan iklim di Arab Saudi.

Dalam media www.arabnews.com, Akeel berpendapat seharusnya hingga 2030 mendatang pemerintah harus memfokuskan pada masalah lingkungan terutama melestarikan sumber daya alami.

“Pada tingkat komunitas dan individu kita harus makin menyadari dan melakukan berbagai praktek mengenai daur ulang, menghemat air dan makanan, serta menggunakan energi alternative”, ungkap Akeel.

Wilayah jazirah Arab sendiri menurutnya memang sudah lama diprediksi akan juga mengalami dampak dari perubahan iklim. Termasuk didalamnya pendangkalan di wilayah laut mati, serta makin menurunnya sumber air di hulu sungai Nil, serta terendamnya kota-kota di pinggir laut Mediterania. (Sulung Prasetyo)

Spread the love

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *