Mencicipi Kebekuan Bromo

Spread the love

Pelataran parkir Cemoro Lawang menjadi pintu gerbang terakhir sebelum masuk ke hutan pasir Bromo. Kampung disini terasa sangat dingin. Membuat jemari tangan membeku. Mungkin karena saat musim kemarau kami datang kesana. Sekejap menikmati sunset di punggungan gunung yang menjalar-jalar, hingga pandangan akhirnya kelam menggambarkan malam.

Harus pagi-pagi bangun kalau melihat matahari terbit disini. Untung mobil jeep yang dipakai cukup handal tampaknya. Menembus pagi, melewati lautan pasir dan berhenti sejenak di puncak gunung Pananjakan.

Gunung bertinggi 2702 meter itu seperti memanjakan mata dengan panorama indah. Bila kita melihat arah timur, sebersit merah surya memburai memenuhi horizon. Hingga akhirnya sinar tersebut memenuhi pemandangan, pelahan terkuak keindahan deretan gunung-gunung di kawasan Bromo yang terkenal itu.

 Di bagian paling kiri berdiri gunung Bromo, dengan kawahnya yang berupa kaldera. Asap putihnya yang terus mengepul, mengantarkan mata melihat juga gunung Semeru yang terletak paling jauh. Gunung tertinggi di tanah Jawa itu angkuh berdiri, menyampaikan aroma petualangan yang tak terhingga. Gunung batok juga tak kalah menambah keindahan lansekap, apalagi bila kita mengintip sebuah pura hindu yang berdiri disana.

Tak perlu lama-lama berada di puncak Pananjakan, karena lebih indah bila kita menerobos lautan pasir kembali dan menjumpai gunung Bromo dari dekatnya. Puluhan tangan tiba-tiba memenuhi jendela kaca mobil. Rupanya mereka menawarkan kertas dengan nomor-nomor di dalamnya.

“Itu nomor dan nama pemilik kuda, itu kalau anda ingin ke kawasan puncak Bromo dengan naik kuda,” terang Pak Joni, pengendara jeep yang kami sewa.

Pacuan kuda di Bromo. (phoro: dok.suara.com)

Kuda-kuda itu tampaknya cukup gagah untuk membawa kaki ini hingga batas tangga Bromo. Mendaki tanah pasir, dan menemui penglihatan yang mulai samar karena debu. Puncak Bromo akhirnya bisa didaki setelah melewati ratusan anak tangga. Memang agak terengah, namun sebenarnya biasa saja buat yang menyukai jenis perjalanan petualangan alam bebas. Tiba di batas atas anak tangga, terkuak pemandangan kawah yang menggelora.

Kepulan asap putih terlihat terbang pelahan ke langit, memenuhi langit dengan putih. Beberapa turis asing yang sempat kami temui di Pananjakan terlihat juga disini. Saling menebarkan senyum, sebagai tanda betapa berbahagianya mereka ada di negeri indah ini.

Menjelang siang kembali ke penginapan merupakan keputusan yang terbaik. Berbersih sebentar dari debu pasir, dan melanjutkan dengan makan pagi yang terlupa.

  • Sayang kalau dilewatkan :

Anjangsana ke Kampung Kreatif Dago Atas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *