Menggerus Separatis Papua Melalui Wisata

Ugimba, desa yang berada ditulang punggung Papua, dikuasai suku Moni. Suku Moni yang berdiam di kaki Pegunungan Tengah Papua itu, merupakan keturunan suku Dani. Secara turun-temurun, suku Dani yang suka berkelana akhirnya terdampar di Ugimba. Hingga kini turunan asli suku Dani masih memiliki peran penting, dalam politik adat desa Ugimba, dan beberapa desa serupa diseputar Pegunungan Tengah.

Suku Dani awalnya mendiami wilayah timur laut dan selatan Pegunungan Tengah. Area-area tersebut yang pada awal-awal masa penjelajahan, merupakan target awal kegiatan dimulai. Seperti Ekspedisi Wollaston, petualang dari Inggris. Ia memulai perjalanan untuk membuktikan adanya salju di Pegunungan Tengah Papua, melalui daerah Tsinga. Daerah itu sendiri berada dibagian selatan dari Pegunungan Tengah.

Suku Dani juga dominan berada di bagian timur laut, Pegunungan Tengah. Kota terbesar di area tersebut berada di Ilaga. Titik itu juga yang menjadi awal beberapa perjalanan legendaris ke Pegunungan Tengah Papua, termasuk ekspedisi sipil pertama dari Mapala UI. Dilanjutkan dengan kegiatan Ekspedisi Glasier Carstensz (CGE) oleh Universitas Nasional Australia (ANU). Pernah juga Reinhold Messner, pendaki legendaris yang kerap melakukan perjalanan seorang diri, memutuskan mendaki Pegunungan Tengah Papua, melalui kota Ilaga.

dok. ranggawaskita.wordpress.com

Separatisme

Tingginya interaksi suku Dani pada orang-orang pendatang, menghasilkan daya pikir yang lebih baik dari suku-suku lain di Papua. Suku Dani yang lebih pintar beradaptasi, menghasilkan produk-produk manusia yang lebih bervariasi dibanding suku-suku lain.

Sayangnya suku Dani, juga berisi riwayat-riwayat tak mengenakan dalam perjalanan bangsa ini. Seperti suku Dani di daerah Tsinga, pernah merasakan sakitnya dianggap sebagai golongan separatis Papua. Banyak cerita-cerita penganiayaan muncul ditengah-tengah masyarakat Tsinga.

Hingga akhirnya luka itu terus mengeras dihati. Membuat banyak orang Dani di Tsinga seperti menolak berbagai kebijakan yang didatangkan pemerintah. Seperti kasus pembuatan jalur alternatif pendakian gunung Carstensz Pyramid melalui Tsinga. Jelas-jelas ditolak oleh orang adat Tsinga.

“Masyarakat menolak, jadi kami tak bisa meneruskan niat itu,” kata Gunawan ‘Ogun’ Ahmad, dari Wanadri yang menjadi penanggung jawab kegiatan tersebut, pada sebuah kesempatan.

Pernyataan itu juga dibenarkan oleh Nurman Sanusi, pemimpin keamanan PT Freeport Indonesia. Nurman yang ditemui secara tak sengaja di garis batas PT Freeport dengan jalur pendakian Carstensz Pyramid mengatakan juga menyayangkan gagalnya pembuatan jalur pendakian alternatif dari arah Tsinga.

“Padahal strip bandara sudah dibangun Freeport didaerah itu,” ujar Nurman, akhir Agustus 2015 lalu.

Rasa sakit itu juga yang kemudian menjadikan fakta berkembangnya separatis dikalangan orang Dani, terutama di daerah Pegunungan Tengah. Banyak peristiwa penembakan terakhir ini terjadi di Pegunungan Tengah. Daerah seperti Puncak Jaya menjadi dua lokasi terakhir baku tembak, antara golongan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan militer Indonesia terjadi.

Dua tahun sebelumnya, tembakan kerap terjadi dilintasan PT Freeport Indonesia. Akibat kejadian itu, kini kendaraan yang melintas daerah tersebut, dilengkapi juga dengan dinding anti peluru.

Banyak isu mengatakan usai menyerang PT Freeport, gerilyawan-gerilyawan OPM banyak yang lari melintas daerah-daerah Pegunungan Tengah yang lain. Kebanyakan gerilyawan melintas daerah yang bersebrangan dengan posisi PT Freeport, setelah melalui daerah puncak Pegunungan Tengah terlebih dahulu. Beberapa desa dibagian utara Pegunungan Tengah, kemudian menjadi zona lintasan gerilyawan OPM. Salah satu daerah lintasan OPM tersebut merupakan desa Ugimba.

Desa Ugimba, yang kerap menjadi lokasi awal pendakian ke gunung tertinggi di Indonesia, Carstensz Pyramid. (Photo: dok. sulung prasetyo)

Wisata Menggelora

Bila melihat desa Ugimba terakhir bulan Agustus 2015 lalu, bisa dipahami mengapa daerah tersebut bisa menjadi lintasan OPM. Salah satu jawaban pasti merupakan masih adanya keturunan asli suku Dani di daerah itu. Beberapa nama dengan menggunakan marga Waker, Wenda, dan Murib mengindikasikan keberadaan suku Dani di Ugimba.

Kini Ugimba terus berbenah. Ada keinginan mengemuka untuk menghapus citra sebagai kantung-kantung OPM diwilayah itu. Aksi utama yang ditampilkan adalah dengan menggelar upacara kemerdekaan 17 Agustus di Ugimba. Upacara yang dianggap bersejarah, karena baru pertama kali dilakukan setelah 70 tahun Indonesia merdeka.

Sebelumnya, upaya penggerusan nilai-nilai separatisme dilakukan dengan melakukan pembangunan. Bangunan-bangunan pemerintah didirikan. Meskipun terlihat masih apa adanya, tapi terlihat adanya geliat harapan.

“Sayang masyarakat masih suka menerapkan adat palang memalang tanah yang akan dilintasi para investor. Sudah seharusnya adat itu tak diberlakukan bila untuk pembangunan,” ujar Kornelis Kobagau, Kepala Distrik Ugimba, usai upacara 17 Agustus 2015.

Kornelis juga yakin keamanan sudah kondusif kini didaerah Ugimba. Sehingga bila ada wisatawan mau datang melewati daerah itu untuk mendaki gunung Carstensz Pyramid, maka dijamin tak akan ada masalah.

Menurut Kornelis peluang wisata didaerah mereka cukup banyak, tak hanya mendaki Carstensz Pyramid. Disana juga ada air terjun, sungai yang indah, hutan tropis, budaya dan berbagai yang lain.

Secara bisnis, pengembangan program wisata didaerah itu tak sedikit jumlahnya bagi kontribusi daerah. Seperti untuk pendakian ke gunung Carstensz Pyramid saja, operator bisa mengeruk ratusan juta rupiah, lantaran harga satu pendaki dari luar negeri bisa senilai US$ 9.000.

Sebagian dari tarif tersebut terserap juga oleh penduduk, yang mau menjadi porter perjalanan ke puncak Carstensz Pyramid. Nominalnya tak murah, harga seorang porter bisa mencapai Rp 7 juta per paket, yang dijalani selama 7-14 hari.

“Biaya porter disini termahal yang ada di dunia,” kata Hendricus Mutter, pemandu pendakian dari Carstensz Adventure menuturkan.

Namun dibalik semua harga yang melangit tersebut, ada potensi menggerus dukungan OPM melalui pengembangan pariwisata. Dengan makin banyaknya turis datang, maka makin segar perputaran ekonomi masyarakat sekitar. Dengan ekonomi yang membaik, maka orang Ugimba bisa membeli pakaian dan kebutuhan sesuai yang diinginkan. Bisa juga menutupi berbagai kesenjangan, yang semula menjadi alasan mendukung separatisme. Sehingga akhirnya semua memilih menolak separatis, dan memilih pengembangan wisata sebagai bintang baru perubahan yang diinginkan.

  • Baca juga :

Lupakan Gunung Tertinggi, Gunung Rendah Juga Banyak yang Indah

Spread the love

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: