Pengalaman Mendaki Gunung Keramat Jawa

Banyak gunung dikeramatkan di tanah Jawa. Beberapa menjadi incaran orang-orang yang ngelmu. Juga menjadi incaran pendaki untuk memuaskan hasratnya.

Seperti di gunung Karang, Banten aura magis juga tercium sejak awal menyinggahinya. Di awal pendakian menuju puncak, biasanya harus berhenti di sebuah petilasan. Situs ini merupakan warisan purbakala. Berbentuk sebuah rumah dengan dua kamar didalamnya. Satu kamar berisi alas karpet dan sesuatu benda yang ditutupi kelambu putih.

Menurut juru kunci, petilasan tersebut dulunya tempat bertapa Pangeran Langlang Bumi, dari kerajaan Banten. Ia seorang pangeran yang dikenal suka menjelajah hutan dan pegunungan. Lantaran hobi suka memasuki hutan itu, maka ia juga sering menyambangi daerah gunung Karang.

Setelah menanyakan maksud dan tujuan, juru kunci kemudian mengangguk-angguk. Ia bergumam sebentar, kemudian mengeluarkan tasbih dari balik kantong bajunya. Ia juga membenarkan sebentar letak kain pengikat kepalanya. Mukanya terlihat berkerut, dan tubuhnya bersandar pada tembok yang dingin.

Ia kemudian membaca berdoa membaca ayat-ayat Al Qur’an. Sepertinya membaca ayat kursi, dengan modifikasi bacaan surat Al Fatihah beberapa kali. Hingga lima belas menit ia membaca doa, yang diamini kawan-kawan lain.

Usai berdoa ia memberikan wejangan agar kami selamat dalam perjalanan. Menurutnya agar kami memperhatikan jalur, karena kini banyak jalur yang menyesatkan. “Jangan lupa mampir ke sumur tujuh, biar berkah dan dikabulkan doanya,” kata juru kunci itu lagi.

Sumur tujuh, yang berada dekat puncak gunung Karang memang sudah lama dikenal sebagai lokasi mencari berkah dan peruntungan. Sedikit berisi magis dan kepercayaan spiritual. Namun ternyata tak lekang dimakan zaman, karena hingga saat ini masih saja dipercaya dan dilakukan orang-orang.

Beberapa peziarah juga sempat ditemui saat menempuh jalur pendakian di dalam hutan. Tampak serombongan orang, ada juga yang hanya berisi seorang wanita dan pemandu. Menurut penuturan, mereka baru saja menyambangi lokasi sumur tujuh yang berada tak jauh dari puncak gunung.

Alun-alun Suryakencena. (Photo: dok.sabigaju.com)

Suryakencana

Kabar paling terakhir, gara-gara urusan mengunjungi situs ritual, kawasan hutan di gunung Gede Pangrango di Jawa Barat hangus terbakar. Diperkirakan daerah yang terbakar seluas sampai lima hektare.

“Kebakaran ini berasal dari sisa api unggun masyarakat yang tengah berziarah, dan saat ini telah diamankan 10 orang peziarah di kantor resort PTN Gunung Putri,” ujar Herry Subagjadi, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) waktu itu.

Herry menjelaskan kegiatan ziarah di alun-alun Suryakencana, yang berada dekat dengan puncak gunung Gede memang sangat populer diakukan oleh masyarakat sekitar gunung. Menurutnya kegiatan ziarah saat ini sulit dicegah karena berkaitan dengan keyakinan dan spiritual masyarakat.

“Meskipun TNGGP sudah melarang namun pada umumnya mereka tetap  memaksa naik dengan sembunyi-sembunyi dan melalui jalur ilegal, sehingga kami sulit untuk mengawasinya,” urai Herry melalui pesan di telepon seluler.

Cerita mengenai peziarah di kawasan gunung Gede memang sudah beredar sejak lama. Banyak yang melintas menuju area gunung Sela yang berada tak jauh dari kawah gunung. Menurut cerita para sukarelawan di gunung Gede, banyak juga peziarah yang berada di alun-alun Suryakencana. Kebanyakan mereka menziarahi goa-goa dikaki gunung Gumuruh yang berbatasan dengan Suryakencana.

Arca Semar kadang disembah oleh pengunjung gunung Arjuno, Jawa Timur.
(Photo: dok. sulung prasetyo)

Arca Semar

Lain lagi cerita di gunung Arjuno, Jawa Timur. Gunung yang berada dekat kota Malang itu juga menjadi lokasi mencari pesugihan atau ilmu magis. Beberapa orang kerap berada disekitaran kaki hingga badan gunung, dengan maksud selain mendaki gunung.Bahkan pernah ditemui seorang calon dukun, yang masih berdiam di rumah-rumah kayu ditengah hutan gunung Arjuno.

“Mari saya ramal masa depan anda, bila benar saya ingin anda datang lagi dan memberikan sedikit rejeki untuk saya,” kata Moejiono, sambil memberikan kartu nama dengan profesi paranormal didalamnya.

Sepanjang perjalanan menuju puncak gunung Arjuno, juga ditemukan banyak situs-situs yang berkaitan dengan ritual-ritual magis. Salah satunya arca Semar, yang berukuran tak sampai setinggi anak umur lima tahun.

Patung berbentuk tokoh Semar, dibalut dengan kain putih, dan berada disebuah altar. Didepan arca tergeletak berjenis-jenis sajian, termasuk kembang-kembang dan rokok.

 “Jangan naik gunung sendiri kesini. Suka ada pencari ilmu yang jahil, dan menyesatkan mata pendaki yang sendirian, dan dijadikan tumbal untuk ilmu yang mereka cari,” urai Moejiono.

Situs terakhir yang bisa ditemui di jalur Arjosari, gunung Arjuno adalah candi Sepilar. Situs itu bisa ditemui setelah melewati tangga dengan patung-patung besar dikanan-kiri tangga menanjak. Patung-patung itu juga dibalut dengan kain bermotif hitam putih ala di Bali.

Candi Sepilar sendiri hanya berbentuk dua pilar yang dijadikan satu. Celah sempit ditengahnya dipercaya bisa mengabulkan doa orang yang melewatinya. “Kalau sulit terasa melewatinya, biasanya karena doa tersebut akan dikabulkan tapi tak dalam waktu singkat,” penjelasan seorang yang sedang berdoa disampingnya. 

  • Baca juga :

Mendaki Bunda Merbabu dan Ayah Merapi

Spread the love

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: