Pohon Iblis Akan Huni Monas

Rencana penggantian tanaman yang ada di taman sekitar Monas, Jakarta terus mengundang kontroversi. Salah satunya adalah penggantian pohon Mahoni dan Trembesi dengan pohon Pule atau Pulai. Meski berharga mahal, dan memiliki kemampuan baik secara lingkungan, pohon Pule ternyata terkenal juga sebagai pohon iblis.

Menurut beberapa data di internet, pohon Pule memiliki nama ilmiah Alstonia Scholaris. Nama ilmiah itu diberikan untuk menghormati seorang professor botani dari Edinburgh, Inggris, bernama C.Alston.

Pohon Pule juga ternyata terkenal di banyak negara. Untuk umat Hindu di India, pohon Pule dikenal dengan nama Saptaparni. Nama itu terkait dengan jumlah jari daun yang dimiliki pohon Pule. Bila diperhatikan daun pohon Pule memang cenderung lebar, berwarna hijau dan memiliki permukaan licin. Daun itu juga terlihat menjari, biasanya sebanyak tujuh arah. Oleh karena itu disebut Saptaparni. Sapta artinya tujuh dan parni adalah daun dalam bahasa Sansekerta.

Daun pohon pulai yang berjari lebih dari tujuh. (dok.wikipedia)

Pohon Obat

Pohon Pule terkenal memiliki banyak manfaat. Termasuk untuk mengobati masalah demam dan berbagai penyakit lain seperti bisul, dan gatal-gatal. Seperti juga yang dipercaya orang-orang Bali di Indonesia.

Menurut Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, I Nyoman Prastika semua bagian Pule dapat dimanfaatkan. Mulai dari akar, batang, kulit dalam dan luar, daun, sampai getahnya.

“Makanya di Bali dikenal istilah cara punyan Pule (seperti pohon Pule), batangnya jelek namun semua bagiannya dapat dimanfaatkan untuk obat,” ujarnya seperti dikutip dari BaliExpress.

Beberapa di antaranya bisa dimanfaatkan untuk mengobati demam, bisul, mencuci luka, lambung, diabetes, sakit gigi dan sebagainya.

Pohon Polusi

Selain dikenal sebagai pohon obat, Pule juga terkenal sebagai pohon yang baik bagi lingkungan. Hal itu disebabkan pohon itu memiliki tinggi lebih dari 40 meter dan sangat rindang. Sehingga mampu menjadi pelindung dari sengatan sinar matahari.

Pohon ini juga baik untuk meredam polusi suara perkotaan. Dengan jumlah pohon yang cukup, maka bisa menjadi benteng bagi penahan sebuah taman terdistorsi suara disekitarnya.

Pohon ini juga mampu menyebarkan bau yang sebagai dianggap orang menarik, namun sebagian lain tidak menyukainya. Bagi beberapa orang, bau yang dihasilkan pohon Pule bisa menumbuhkan kreativitas dan imajinasi. Bau tersebut biasanya muncul saat bunga pohon Pule berkembang pada bulan Oktober.

Karena bau yang menumbuhkan inspirasi itulah, maka pujangga terkenal India, Rabindranath Tagore selalu memberikan kalung daun pohon Pule atau Saptaparni kepada wisudawan di sekolah seni miliknya.

Namun bau tersebut bagi banyak kalangan juga terkait dengan nama tersembunyi dari pohon Pule, yang dikenal juga sebagai pohon Iblis.

Bunga pohon Alstonia Scholaris yang sering menimbulkan bau unik. Bau tersebut yang kadang disebut orang-orang sebagai pemanggil iblis dan pertanda buruk.
(photo: dok.gettyimages)

Pohon Iblis

Banyak yang percaya, bau yang muncul dari pohon Pule tiap bulan Oktober merupakan bau yang sangat tak enak dihirup. Bau yang membuat orang-orang menjadi pusing kepala, dan para penderita asma menjadi makin buruk kondisinya.

Maka banyak kemudian yang menganggap nama pohon Pule juga adalah juga pohon Iblis, karena bau tersebut. Namun sebagian yang lain menganggap nama pohon Iblis datang karena bentuk tubuh pohon yang tinggi menjulang.

Bagi orang Bali, atau penganut agama Hindu jenis pohon seperti itu disebut sebagai tenget atau sakral. Mitos sakral muncul juga karena pohon Pule yang tinggi besar dianggap ada penunggunya.

Dalam ulasan media The Hindu di India, menyebutkan kalau pohon Alstonia disebut pohon iblis karena siapapun yang duduk atau tidur-tiduran dibawahnya akan tidur selamanya.

  • Baca Juga :

Jerapah Putih Terakhir Kemungkinan Sudah Terbantai

Masa Depan Buruk

Secara umum bila mengobservasi keberadaan pohon Pule atau pohon iblis di Monas, maka kemungkinan akan muncul berbagai prospek dimasa depan. Dari sisi lingkungan keberadaan pohon itu jelas akan makin membuat rindang. Meski keputusan mengganti pohon Mahoni dan Trembesi tetap harus dipertanyakan. Mengingat pohon Trembesi terkenal sebagai salah satu pohon terbaik untuk menyerap karbondioksida penyebab pemanasan global.

Sisi lain adalah daya magis yang menjadi kepercayaan manusia. Kepercayaan tradisional tak bisa diindahkan, meski kita hidup di zaman serba modern seperti sekarang. Keberadaan sebuah nama merupakan juga perjalanan nasib dan cerita masa datang yang akan dijalani. Dengan kepercayaan orang-orang terhadap nama iblis dari pohon tersebut, maka dapat diprediksi keberadaan pohon Pule akan memiliki prospek buruk dimasa yang akan datang.

Termasuk penolakan orang-orang, seperti juga yang dialami warga kota Pingtung, Taipei. Dimana mereka menyesali penanaman pohon itu di taman tengah kota mereka. Sebab pohon itu menurut mereka sering mengeluarkan bau yang tak enak. Sehingga mereka merencanakan akan menuntut ganti rugi kepada dewan pemerintah yang berinisiatif menanamnya.

Sementara di Indonesia, khususnya di Jakarta, pretensi buruk penanaman pohon itu sudah terlihat dari awal penanaman. Berbagai pihak terus melancarkan kontroversi yang ada. Tak terbayangkan bila pohon ini akan terus membesar. Bisa jadi mungkin banyak orang tak suka bau yang diedarkan. Bahkan lebih buruk lagi, banyak orang yang terhasut oleh nama bawaan negatif dari Pohon Iblis ini.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *