Gempa Bumi Bikin Paus Kesulitan Cari Makan

Bencana alam seperti gempa bumi ternyata membuat satwa laut juga menderita. Seperti mamalia paus, yang diperkirakan mengalami kesulitan mencari makan, karena gempa bumi yang terjadi. Demikian diungkapkan sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Otago, Amerika Serikat (AS), yang dipublikasi akhir Februari 2020.

Penelitian ini sendiri merupakan yang pertamakali dilakukan. Dimana tujuan penelitian berusaha mencari dampak dari gempa bumi terhadap upaya satwa laut mencari makanan.

Menurut hasil penelitian tersebut kaitan gempa bumi dan kemampuan paus mencari makanan terjadi dalam beberapa kemungkinan. Seperti misalnya mamalia paus dikenal sebagai satwa yang menggunakan suara sebagai komunikasi, untuk mencari mangsa dan navigasi juga bisa terganggu karena gangguan suara dari gempa bumi.

“Gempa bumi membuat suara bising yang sangat terdengar keras dibawah laut. Dimana suara tersebut kemudian bisa merusak sistem pendengaran dan lebih jauh membuat terjadinya modifikasi perilaku baru”, urai Dr Marta Guerra, ilmuwan yang menjadi penulis utama laporan penelitian tersebut.

Menurut Guerra harus dipahami bagaimana populasi paus merespon bencana seperti gempa bumi untuk mengukur daya kebertahanan satwa laut tersebut. “Kemudian kita bisa membantu merencanakan untuk membantu satwa laut tersebut bertahan”, tambah Guerra.

Kasus kesulitan paus mencari makanan karena gempa bumi, dilakukan pada saat kejadian bencana gempa di Koikura, Selandia Baru pada 14 November 2016. Pada saat itu terjadi gempa berkekuatan 7,8 skala richter. Gempa tersebut diperkirakan membuat banyak kehidupan laut yang terganggu, karena terjadi longsor dibawah laut. Diperkirakan sampai 850 ton sediment bergeser ke bagian laut lebih ke dalam.

Kejadian itu jelas merugikan bagi satwa laut yang hidup di perairan Koikoura, termasuk paus sperma yang sering ada disana. Sebab banyak bagian-bagian laut dalam yang terkubur karena longsor bawah laut. “Sementara dibagian-bagian yang terkubur itu sebenarnya banyak juga makanan yang diperlukan paus”, urai Guerra.

Untuk memastikan makin sulitnya paus mendapatkan makanan disana, lalu dilakukan pengamatan terhadap 54 paus yang hidup disana. Pengamatan dilakukan sepanjang Januari 2014 sampai Januari 2018.

“Dari pengamatan tersebut kami menemukan kalau paus jadi lebih banyak mencari makan dipermukaan air, ketimbang dibawah air”, ungkap Guerra.

Menurut hitungan, tingkat pencarian makanan paus dipermukaan air meningkat lebih dari 25 persen dari biasanya.

“Ada dua kemungkinan mengapa paus melakukan hal tersebut. Pertama kemungkinan oaus mencari makanan berupa plankton dipermukaan laut. Kedua, kejadian longsor membuat paus tidak terlalu sering mencari makanan dibawah laut, dan berusaha beradaptasi dengan keadaan baru tersebut”, papar Guerra.

Mengamati paus menjadi salah satu wisata yang diminati di Selandia Baru. (photo: dok. tripadvisor.com)

Setidaknya 40.000 ton biomas diperkirakan hilang karena kejadian longsor bawah laut tersebut. Yang mana berarti sebanyak itu juga potensi makanan bagi paus dan satwa laut yang lain hilang.

“Jelas paus akan makin sulit mencari makanan karena kejadian bencana seperti gempa bumi”, urai Guerra menjelaskan dipenutup laporan penelitiannya.

Dalam penelitian tersebut diperkirakan mulai berubah sejak terjadinya gempa bumi tahun 2016, dan kembali normal setelah musim panas tahun 2017-2018.

  • Baca juga :

Dunia Makin Sempit Buat Ular

Spread the love

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *