Hari Martin Luther King Jr Ingatkan Kesetaraan Abu-Abu Indonesia

“Saya memiliki impian bahwa suatu hari bangsa ini akan bangkit dan menjalankan makna sebenarnya dari pernyataan ikrarnya, bahwa semua manusia diciptakan setara.”

Demikian salah satu kata-kata dalam pidato yang pernah diucapkan aktivis kesetaraan dan kebebasan Amerika Serikat (AS), Martin Luther King Jr.  Kata-kata tersebut sedemikian tajamnya, membuat banyak orang di AS kala itu menjadi tergugah. Benarkah arah tujuan negara tersebut telah berjalan, sementara mungkin jutaan rakyat AS berkulit hitam merasakan tak adanya kesetaraan didalamnya?

Hanya Martin Luther King Jr dan jutaan rakyat berkulit hitam di AS saat itu yang bisa merasakannya. Saat dimana setelah ratusan tahun AS berdiri, masih terdapat perbedaan perlakuan diantara mereka. Dimana terdapat jurang perbedaan dalam dibidang pelayanan pendidikan, kesehatan, hukum dan hak asasi manusia didalamnya.

Hanya omong kosong bila kita mengatakan perbedaan itu tak pernah ada. Sebab bila memang perbedaan tersebut tak pernah ada, tak akan mungkin ada berbagai gerakan demonstrasi damai waktu itu. Bila perbedaan tersebut tak pernah ada, maka tak akan mungkin lahir kata-kata tajam dalam pidato Martin Luther King Jr yang berjudul ‘I Have a Dream’ tersebut. Maka pantas tiap-tiap tanggal 20 Januari publik Amerika Serikat (AS) merayakan hari Martin Luther King Jr. Karena tak jauh pada hari itu pembela kesetaraan dan kebebasan AS tersebut lahir kedunia. King sendiri lahir pada tanggal 15 Januari 1929.

Penangkapan Martin Luther King oleh FBI karena dianggap sebagai pengganggu keamanan negara. (Photo: dok.LATimes)

Rasisme Kesetaraan

Inti dari perjuangan Martin Luther King Jr adalah kesetaraan. Persamaan hak untuk warga kulit putih dan hitam di AS. Tak ada perbedaan dalam perlakuan hokum, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Rasisme menurut King adalah racun yang menyusupi manusia. Racun yang membuat hati manusia menjadi sakit. Menimbulkan rasa benci terhadap manusia lain, yang mungkin bukan salahnya juga terlahir sebagai berkulit gelap.

Rasisme juga merupakan bentuk kepongahan. Rasa lebih tinggi dari manusia lain. Merasa menjadi manusia paling mulia, sementara yang lain bukan. Padahal Allah menciptakan manusia itu sama. Rasisme sendiri merupakan bentuk penistaan terhadap ciptaan Allah.

Kini ketidaksetaraan bukan hanya berkisar pada masalah rasisme. Zaman bergulir, bukan lagi masa Martin Luther King Jr yang penuh dengan masalah rasisme. Isu kesetaraan juga bergulir pada hal-hal yang lebih hakiki selain warna kulit.

Isu kesetaraan kini tak hanya berkisar pada masalah pelayanan, namun juga kontribusi. Kalau di AS, orang-orang berteriak mengenai layanan publik yang berbeda. Di berbagai belahan dunia lain berteriak mengenai kontribusi yang berbeda.

Seperti masalah sumber makanan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) sudah berulang kali berteriak, mengenai tidak meratanya jumlah pasokan makanan di bumi ini. Ada beberapa negara yang berlebihan makanan, sementara beberapa negara lain justru kekurangan makanan.

Tak hanya tentang pangan, masalah kesetaraan juga merambah pada masalah lingkungan. Badan Dunia mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) jelas-jelas menyebutkan, negara-negara besar harus menjadi ujung tombak perubahan. Namun siapa juga yang tak gemas, kala AS justru menolak segala perjanjian mengenai pengurangan emisi gas karbondioksida penyebab perubahan iklim dunia saat ini.

Perempuan Papua di Sugapa, Papua masih memerlukan banyak bantuan dalam kehidupan sehari-hari. (Photo: dok. sulung prasetyo)

Kesetaraan Abu-Abu Indonesia

Di Indonesia sendiri, kesetaraan sepertinya masih berada di area abu-abu. Area yang berarti tak jelas, antara hitam dan putih. Terbukti dari beberapa kasus yang pernah terlihat oleh mata kepala penulis sendiri di Indonesia.

Tak perlu jauh-jauh dahulu, kita melihat kampung Ciptagelar saja di pedalaman Jawa Barat. Tepatnya didalam area Taman Nasional Gunung Halimun, kampung tersebut berada.

Di dalam kampung tersebut tak pernah ada sekolah. Jangankan sekolah tingkat menengah atau atas, sekolah dasar saja tak ada. Padahal di dalam kampung tersebut hidup ratusan jiwa warga Indonesia.

Terakhir kabarnya kampung Ciptagelar sudah memiliki bangunan sekolah dasar. Namun masalah baru kemudian timbul. Tak ada guru yang mau mengajar. Lantaran masih sulitnya akses masuk ke kampung tersebut. Kalau berjalan kaki, bisa enam jam dari jalan raya utama. Satu-satunya transportasi yang bisa masuk, hanya jeep bergardan empat yang harus siap melintas jalan berbatu besar penuh kelokan berbahaya.

Lain lagi masalah di pulau Morotai. Pulau yang berada di utara Halmahera tersebut teramat sulit mendapatkan layanan kesehatan. Satu-satunya layanan kesehatan yang bisa mereka dapatkan, harus melintas laut menuju Tobelo di Halmahera Utara.

Miris ketika kemudian mendengar kisah seorang nelayan yang pernah mengantar melihat Morotai, kala mengunjungi Tobelo. Ia bercerita pernah ada seorang ibu harus meninggal di perjalanan laut, ketika harus melahirkan secara tak wajar di atas perahu yang menuju ke Tobelo. Ibu itu meninggal karena tak ada layanan kesehatan yang memadai di Morotai, yang mampu menyelamatkan nyawanya dan anaknya.

Lain lagi masalah di Papua. Saat menyambangi salah satu kampung terdalam di Papua, tepatnya di desa Ugimba, Kabupaten Intan Jaya. jelas-jelas jurang kesenjangan kesejahteraan teramat jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

Di Ugimba, bahkan pakaian saja sulit dicari. Tak semua orang dan anak-anak berpakaian disana. Berulang kali mereka meminta pakaian yang saya bawa. Sampai akhirnya saya berikan juga pakaian-pakaian tersebut usai melakukan kegiatan disana.

Itu baru tiga kasus yang bisa diungkapkan. Masih teramat banyak sebenarnya yang bisa dijadikan contoh, bahwa kesetaraan di Indonesia masih merupakan barang langka. Kesetaraan di Indonesia sepertinya masih merupakan ketidakjelasan kata-kata. Sama tidak jelasnya seperti warna abu-abu, yang terlihat mata.

Patung Martin Luther King di Amerika Serikat (AS). (Photo: dokphoenix.org)

Mimpi Kesetaraan

Kembali lagi ke pidato Martin Luther King Jr, mungkin ada baiknya juga kini kita juga memiliki mimpi bersama. Mimpi yang juga diucapkan Martin Luther King Jr, namun malah menjadi kenyataan yang merubah negara.

Mari kita bermimpi satu saat nanti orang-orang di pedalaman Jawa Barat juga mendapatkan layanan pendidikan yang layak. Layanan pendidikan yang tak perlu melewati jembatan-jembatan rusak. Layanan pendidikan yang dipenuhi kecemasan karena langit-langit sekolah yang akan runtuh.

Mari kita juga bermimpi kalau satu saat nanti semua orang-orang di kepulauan-kepulauan terpencil di Indonesia bisa mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Dimana mereka tak perlu melintas ombak laut ganas, hanya karena ingin melihat kelahiran anak-anak mereka.

Mari kita juga bermimpi kalau satu saat nanti orang-orang di pedalaman Papua memakai baju selayaknya manusia. Tak perlu lagi mengemis-ngemis hanya untuk selembar kaos, yang mungkin sudah dibuang diperkotaan seperti Jakarta.

Mari kita bermimpi agar kesenjangan sosial di Indonesia terhapus tuntas. Tak ada lagi perbedaan layanan kesehatan, pendidikan dan kebutuhan dasar hidup hanya karena faktor jauhnya lokasi dari pusat kota. Tak ada lagi gunung-gunung terlalu tinggi, laut terlalu luas, hutan terlalu panjang, sungai terlalu lebar untuk dilalui para pelayan kesetaraan kehidupan. Sebab kesetaraan adalah tujuan dari negara ini juga, seperti termaktub dalam sila kelima Pancasila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

  • Baca juga :

Menggerus Separatis Papua Melalui Wisata

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *