Mampir ke Banyumas Cicipi Duren Segede Kepala

Spread the love

Selain menyisakan jejak kehilangan, buah langka ternyata juga bisa membawa pencerahan. Buah Kemang, Gandaria atau Kukusan bisa saja dianggap hilang, tapi durian Bhinneka Bawor justru berjaya, ditengah kegamangan kondisi keanekaragaman hayati nusantara.

Rasanya tak percaya kalau nama Kemang berasal dari nama buah. Rasa-rasanya tak pernah mendengar atau melihat bentuk buahnya. Berarti benar itu buah langka, yang sekarang hanya tinggal nama tempat belaka.

Bukan hanya sendiri saja yang merasa asing mendengar nama Kemang sebagai nama buah. Randy F Herlambang juga menyangsikan hal itu. Randy yang sejak kecil tinggal di Bogor, hingga sekarang menetap di Depok, bahkan tak percaya kalau buah itu memang benar ada.

“Kalau Gandaria pernah dengar, dan ingat-ingat buahnya, tapi Kemang? Buahnya seperti apa?” ujar Randy sambil mengerutkan keningnya.

Tak cuma Randy, beberapa orang lain juga seperti tak percaya. Bahkan seorang teman lain justru menambahkan, “Kalau buah Kukusan pernah dengar juga?”.

Wah, makin banyak ternyata jenis buah yang kini makin langka kelihatan dipasaran. Lalu mengingat-ingat lagi, bagaimana kini dengan nasib Jamblang dan Kecapi yang rasanya dulu pernah memenuhi lidah masa kecil.

Daerah Banyumas, Jawa Tengah. (dok.google map)

Buah Langka

Cuma Jatna Supriatna, pakar biodiversitas Indonesia yang bisa menjelaskan bagaimana rasa buah Kemang. Menurutnya buah Kemang beraroma wangi dan terasa manis. Bahkan dia juga tahu, kalau buah itu masih ada bila mau menyusuri kota Bogor didaerah pinggiran.

Cuma sayangnya sekarang buah-buah itu makin hilang lantaran berbagai sebab. Salah satunya kurang lahan untuk menanamnya. Seperti Kemang, mungkin sudah sulit mencari lahan di Jakarta untuk menanam buah tersebut.

Sementara beberapa buah juga makin langka karena tak mampu bertahan di lingkungan yang makin berubah. Seperti fenomena pemanasan global dan perubahan iklim yang menggejala saat ini. Membuat beberapa buah tersebut justru mati karena suhu terlalu panas, atau musim yang sulit ditebak.

“Sekarang buah manggis saja sudah tak bisa ditanam di Jakarta lagi, setidaknya harus di Bogor, karena harus menyesuaikan suhu temperatur tumbuh,” urai Jatna.

Kondisi itu menurut Jatna sangat mungkin sekarang ini. Jatna, yang merupakan Kepala Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia itu menjelaskan kalau suhu yang makin panas, akan membuat makin banyak penguapan, sementara suhu makin lembab maka bisa membusukan bunga bakal buah.

Durian bawor bisa panen sebesar kepala manusia dewasa bahkan lebih. (photo: dok.tokopedia)

Duren Langka

Itu juga yang dialami Sarno Ahmad Darsono, seorang pekebun buah khususnya duren langka dari Banyumas, Jawa Tengah.

“Terlalu kering mematikan pembungaan, sementara kalau terlalu lembab maka bisa membusukan bunga,” urai Sarno.

Kondisi itu jelas merugikan bagi pengusaha dan pekebun buah duren seperti dirinya. Sebab banyak produk buah lokal di kebun menjadi tak pasti jumlah panenan. Padahal buah yang kini ditangani Sarno tak kalah dengan produk luar negeri, yang kini menjadi idola di pasar Indonesia.

Awalnya Sarno hanya ingin mengembangkan jenis durian dari Indonesia. Rasa tak ingin kalah dari produk Thailand, membuat Sarno mengembangbiakan berbagai jenis duren lokal. Semua gen lokal tersebut kemudian digabung satu persatu, hingga akhirnya menghasilkan jenis duren Bhinneka Bawor.

“Besar duren Bawor tak kalah dengan jenis Montong, bahkan rasa lebih manis, legit, tak lengket ditangan, daging buahnya tebal dan ada pahit-pahitnya sedikit,” urai Sarno.

Tambah Sarno sebenarnya jenis duren Indonesia lebih banyak dari yang ada di Thailand. Pandangan orang-orang yang menganggap buah duren lokal Indonesia tak ada yang sebesar Monthong juga salah besar. Sebab banyak durian lokal seperti jenis Kumbokarno, Cane, dan Matahari yang memiliki buah berbadan besar.

“Bahkan pernah ada orang yang mau membayar hingga dua juta rupiah untuk tiga buah durian seberat 36,5 kilogram, yang berarti rata-rata satu buah seberat 12 kilogram,” imbuh Sarno lagi.

Kini buah duren hasil okulasi Sarno sudah mendunia. Sudah banyak pesanan bibit buah tersebut yang tersebar diberbagai negara dunia. Tercatat di Tiongkok, Australia, Papua Nugini, Selandia Baru, Inggris dan Jerman ia pernah mengirimkan baik buah atau bibit duren Bhinneka Bawor.

Namun sayang menurutnya khusus untuk daerah terlalu dingin seperti di Inggris perkembangan pertumbuhan pohon duren Bawor kurang berhasil baik. Sementara di beberapa lokasi yang tersebar diseluruh Indonesia, pertumbuhan duren Bawor terhitung baik.

“Biasanya musim pada bulan Februari sampai April, jumlah buah yang bisa distok mencapai satu ton per hari,” tambah Sarno lagi.

Sayangnya musim hanya bulan tersebut yang paling tinggi menghasilkan buah. Sementara pada bulan-bulan setelahnya panen duren Bawor terhitung menurun, meskipun tak bisa dibilang tak ada sama sekali.

Masalah itu juga yang kemudian menjadi pekerjaan rumah bagi Sarno dan pekebun duren Bawor yang lain. Sebab hampir tak mungkin bisa meraih pasar lebih besar, bilamana pasokan dirasa tak terlalu stabil.

  • Baca juga:

Pelesiran di Pantai Gombong Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *