Badui yang Terus Bergeser

Spread the love

Kalau kita menyempatkan singgah ke Badui akhir-akhir ini, pasti akan ada sedikit rasa perubahan. Baik itu dalam pandangan sekilas maupun dalam konteks pergeseran budaya. Kalau ini tak cepat-cepat dtanggapi, jangan salahkan kalau kita akan kehilangan juga warisan budaya yang satu ini.

Semenjak orang-orang Badui di kawasan barat pegunungan Halimun di ketahui publik. Semakin banyak orang berkunjung ke daerah tersebut. Keunikan budaya yang dimiliki komunitas ini, memang mengundang decak kagum banyak orang yang kadung tergerus modernisasi sekarang ini. Bagaimana tidak, dengan derasnya arus globalisasi dan informasi saat ini, notabene sebagian besar dari kita cenderung mengikuti arus.

Namun tidak untuk orang Badui. Kearifan yang mereka punya dari dahulu kala, ternyata tetap mereka pertahankan hingga kini. Bahkan dari pola budaya, yang tergambar dari berbagai upacara kesenian, gaya berpakaian, tata cara hidup dan mencari penghidupan, terlihat masih kuatnya budaya leluhur yang mereka pertahankan.

Baca Juga :

Kampung Naga Tak Selalu Indah

Berbeda dengan kampung Ciptagelar yang lebih menerima arus globalisasi. Badui dengan keras tetap memperthankan gaya tradisionil mereka. hidup bersama dan serasi dengan alam.

Itulah kemudian yang menjadi kekuatan orang Badui dalam menjalani hidup. Selain itu juga kemudian menjadi karakter budaya yang banyak dikagumi hingga saat ini.

Namun kekuatan karakter tersebut lambat laun tampaknya makin menunjukan pergeseran berarti. Meskipun hal ini memang belum terlihat secara frontal. Tapi, banyak hal-hal kecil yang tampaknya sepele makin hari kelihatannya makin menunjukan ikon pergeseran yang nyata.

Salah satu ikon pergeseran tersebut adalah mulai adanya warung-warung kecil di daerah badui dalam. Seperti di Cibeo saja contohnya. Salah satu kampung yang merupakan wilayah Badui dalam tersebut, kini terlihat mulai menularkan irama konsumerisme di dalamnya. Warung kecil seadanya yang menjual beraneka ragam makanan kecil, pada dampaknya akan memperlihatkan pergeseran itu juga.

Warga badui tampaknya sekarang mulai juga melihat peluang-peluang usaha wisata didalamnya. Selain jualan kecil-kecilan sejumlah penganan. Orang badui sekarang juga mulai menjual apa saja keunikan khas mereka.

Duren-duren yang menjadi salah satu aroma khas disana, sekarang juga mulai dijadikan komoditi wisata dengan harga selayaknya.

Beberapa teman yang memperhatikan hal ini, terlihat mulai miris juga. Satu sisi tak ada yang patut dipersalahkan. Karena hal itu adalah kewajaran yang dihadapi manusia. Namun disisi lain mereka menolak. Karena takut akan kehilangan Badui yang mereka cintai, lengkap dengan keluguan tradisi adatnya.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *