Budaya Indonesia dan Solusi Masalah Dunia

Spread the love

Berbagai budaya Indonesia seharusnya bisa menjadi solusi masalah lingkungan dunia saat ini. Termasuk jalan keluar dari masalah pemanasan global, melalui sikap dan dasar pemikiran dari budaya tradisional tersebut.
“Pada dasarnya budaya asli Indonesia terbukti memiliki falsafah yang pro lingkungan hidup,” ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.

“Dan kesemua kearifan lingkungan yang dimiliki budaya bangsa tersebut, apabila dirajut dan diberdayakan akan sangat bermakna dalam upaya penyelamatan bumi,” analisa Rachmat.

Beberapa budaya yang dimaksud Rachmat sendiri merupakan falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, Tri Hita Karana di Bali, dan Alam Terkembang jadi Guru di Tanah Minang, Sasi di Maluku, Awig-awig di Nusa Tenggara, Bersih Desa di Jawa, Nyabuk Gunung di Sunda, hingga yang paling modern pengelolaan sampah di Banjarsari Jakarta, Sukunan di Yogyakarta, Karah di Surabaya, Kassi-kassi di Makassar dan sebagainya.

Buku mengenai Hamemayu Hayuning Bawana yang memaparkan mengenai falsafah hidup orang Jawa terhadap lingkungan hidup disekitarnya. (dok.bukalapak)

Hamemayu Hayuning Bawana menurut penjelasannya, merupakan muara dari tiga pemikiran falsafah Jawa, mengenai hubungan manusia sebagai pemimpin dan lingkungan disekitarnya. Ketiga falsafah tersebut adalah Rahayuning bawana kapurba waskitaning manungsa (kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa), Darmaning manungsa mahanani rahayuning negara (tugas hidup manusia adalah menjaga keselamatan negara), dan Rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane (keselamatan manusia oleh kemanusiaannya sendiri).

Dengan dasar itu kemudian keraton Yogyakarta kini memberlakukan kebijakan tak membuka besar-besaran suatu daerah, kecamatan sebagai sentra bisnis serta kebijakan pemakaian hanya 20 persen kayu dalam rumah tangga, serta konservasi air dan penyatuan konsepsi wisata Yogyakarta dan Solo.

“Dengan kebijakan seperti itu diharapkan keberlangsungan bumi dapat terus terjaga,” papar Sunyoto, Rektor Universitas Widya Mataram pada kesempatan serupa.

Tradisi awig-awig di Bali. (dok.bali-travelnews)

Sementara menurut Koes Murtiyah dari keraton Surakarta, falsafah kearifan terhadap alam tersebut sebenarnya sudah ada semenjak ratusan tahun lalu. Termasuk kebijakan menanam pohon beringin dan berbagai falsafah dalam pembagian ruang-ruang keraton.

Hanya sayangnya, tambah Rachmat lagi. Kearifan-kearifan lokal tersebut kini terancam tereliminasi. “Norma dan etika terhadap lingkungan hidup kini terancam oleh gaya hidup materialis hedonis, yang konsumtif dan mengejar kesenangan semata,” ucap Rachmat.

Lihat juga :

Malu Terbang Hinggapi Petualang Eropa Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *