Maju Melalui Perbedaan

Jangan ditanya berapa banyak akibat dari perbedaan di negeri ini. Hanya karena berbeda pemikiran, sebuah keluarga bisa dikucilkan dari masyarakat di sekitarnya. Perbedaan pendapat, membuat banyak insan bertengkar tiada henti. Perbedaan tingkah laku, kebanyakan menghasilkan intimidasi, teror dan ujungnya gelap mata untuk menghapuskan jejak orang yang berbeda dari muka bumi.

Sadis? Tanyakan itu pada suku Dayak, ketika terjadi pemusnahan etnik Madura di tanah Kalimantan berapa tahun lalu. Biadab? Silahkan cari tahu pada dua agama yang berbeda kala kerusuhan Ambon menggema. Tak berperikemanusiaan? Mungkin Amrozi, si pembom bar di Bali, bisa memberitahu jawabannya.

Karena perbedaan, seseorang merasa lebih benar dari yang lain. Lebih baik, dan bahayanya lebih berhak buat memusnahkan yang dianggap salah. Padahal kalau mau dirunut-runut, kuasa siapa itu semua? Selain pencipta alam ini. Pembuat mahluk hidup, dan penentu kapan berakhir hidup di dunia.

Padahal kalau mau jujur, keberagaman itu sebenarnya tak bisa dihindari di dunia ini. Siapa yang bisa mengelak, kalau ada kulit hitam, putih, kuning dan coklat di dunia ini. Siapa pula yang menafikan, kalau ada ratusan, ribuan bahkan jutaan pemikiran baru di alam ini. Semua saling bertumpuk-tumpuk, memberikan tesis dan anti tesis baru.

“Keberagaman itu given (berkah-red), tak bisa dihindari di dunia ini,” ujar Tirta N Mursita, M.Mgt, pengamat masalah multikulturalisme dari FISIP UI.

“Sekarang tinggal bagaimana kita mengaturnya untuk menumbuhkan sifat positif,” paparnya pada acara seminar “Multikulturalisme, Tantangan Vs Peluang”, yang diadakan di Depok waktu lalu.

dok: antarafoto.com

Cara untuk Maju

Arah positif dari keberagaman ini, dipahami oleh banyak perusahaan multinasional sebagai satu cara untuk lebih maju. I Made Dana, Senior General Manager PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, mengungkapkan kalau keberagaman seperti ini sebenarnya sudah dipahami ketika perusahaan yang bermarkas besar di Jepang tersebut, mulai melebarkan sayap ke beberapa negara lain. “Dengan dua pilar utama dari “Toyota Way”, kami berhasil menghapus masalah multikultur tersebut,” urainya.

Dua pilar utama itu sendiri merupakan kebiasaan untuk terus berkembang dan sikap respek terhadap orang lain. Dengan terus menanamkan nilai tersebut, pada kenyataannya perusahaan Toyota bisa mengembangkan sayapnya hingga memiliki 51 pusat manufaktur di 26 negara, serta melayani 170 jaringan importer dan distributor di 140 negara.

Lain lagi pandangan Mersedes Tanok, S.Psi dari PT General Motor Autoworld Indonesia. Selain menurutnya kalau keberagaman memang tak terhindarkan. Namun, apabila dimanfaatkan sebenarnya bisa mendatangkan keuntungan lebih banyak untuk perusahaan. “Seperti adanya market sharing dan kemungkinan jaringan distribusi baru,” ucapnya.

Sementara itu, Erli Sativani dari Martha Tilaar Group malah merasa perbedaan merupakan kunci sukses menuju keberhasilan yang diraih perusahaannya, saat terakhir ini. “Ketika sekitar tahun 2000, kita sempat guncang, karena adanya pergolakan politik di tanah air,” ceritanya. “Apalagi ditambah dengan serbuan produk kosmetika luar negeri,” lanjutnya.

  • Baca Juga :

Benih yang Jatuh di Tanah Gersang

“Lalu setelah tahun 2000, keadaan tambah parah karena adanya produk kosmetika Cina yang sedemikian murahnya,” imbuh wanita berwajah bersahabat ini.

Dengan bertubi-tubinya berbagai desakan tersebut. Maka mau tak mau, salah satu perusahaan nasional ini kemudian merombak diri untuk menghadapi saingan. “Kami percaya sejarah menyimpan peranan penting untuk kemajuan,” ucapnya. “Dan sejarah prestasi merupakan penanaman ingatan yang baik untuk perbaikan sejarah,” tambahnya.

Dengan dasar itu, citra sang pendiri perusahaan, Martha Tilaar terus diangkat dan dijadikan patron. Selain juga mengidentifikasi citra perusahaan melalui visi nasionalis yang kental. Hasilnya, 30 – 50 persen pasar kosmetik nasional, terus dipertahankan oleh grup tersebut sampai saat ini.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: