Secuil Mimpi dari Dalam Bui

W.H.Y. Why. Kata tanya berbahasa Inggris itu dipelajari Mario ketika mengikuti sekolah singkat, ditempat ia tinggal sekarang.

Why? Mengapa saya ada disini? Mario terus merenung-renung. Merasakan tidur kepanasan, karena isi sel penjara terlalu penuh orang. Sekarang, ia harus tidur terhimpit di pojok ruangan. Hanya dibatasi tembok rendah, menuju kamar mandi.

Why? Mengapa saya ada di pojok ini? Pojok yang setia mendengar suara yang keluar dari isi perut teman satu sel. Pojok yang setia menerima segala bau yang keluar bersama isi perut itu. Sialan sebenarnya, tapi mau kata apa.

Awalnya ia hanya buruh kasar, yang sedang bekerja pada proyek pembangunan mall. Disana juga semua bermula. Saat matanya menangkap sosok wanita bernilai paling sempurna. Melintas setiap hari, keluar masuk toko sepatu di seberang tempat ia bekerja.

“Nilainya sembilan Jon”, ucap Mario yakin.

Joni, sahabatnya sesama kuli cuma meringis. Sebab ia ingat bagaimana Mario tak pernah bercerita tentang satupun wanita yang pernah hinggap dihatinya.

Yo wis. Kalau memang cocok, hajar saja “, cuma itu komentar sedikit yang keluar dari mulut Joni.

Mario manggut-manggut. Antara ingin dan tak mengerti. Selama ini tak pernah ia berhasil mendekati wanita. Dulu pernah waktu sekolah, ia suka dengan salah seorang murid. Tapi jelas-jelas perempuan itu tak mengindahkannya. Cinta bertepuk sebelah tangan, kalau kata lagu Dewa 19. Band musik favorit Mario, yang penuh dengan lagu-lagu patah hati.

“Bagaimana caranya?”, tanya Mario lugu.

Joni menatap tak percaya. Wajah Jawa-nya seperti tak percaya. “Yaa..piye kowe toh. Gimana kek, minta ketemu, kasih bunga, ajak jalan, nonton, bilang kalau kamu suka dia”, sembur Joni menjelaskan dengan tak sabar.

“Tapi kalau dia nolak gimana?”, tanya Mario lagi.

Joni melempar cetok semen ditangannya. Matanya kembali menatap Mario. Awalnya gemas, kemudian bola mata itu menari senang. “Kowe tenang saja. Kalau gagal, saya ada kenalan dukun. Cinta ditolak, dukun bertindak”.

Syahdan, sudah ketiga kalinya Mario berusaha mengajak gadis penjual sepatu pergi bersamanya. Tapi selalu menemui kegagalan. Pertama, yang paling tolol, gadis itu lari ketakutan karena Mario mengatakan sesuatu dengan tergagap. Kali kedua, gadis itu seperti berusaha akan lari lagi, tapi Mario berhasil membuatnya tak bergerak. Tapi kali ini justru Mario yang pergi begitu saja, karena mulutnya tak berhasil mengeluarkan satu kata apa pun. Dan kali ketiga, membuat semuanya berubah kacau. Saat itu gadis itu sudah bersiap akan lari, tapi tangan kekar Mario berhasil menangkapnya. Membuatnya meronta-ronta. Justru pemandangan itu membuat banyak orang jadi ingin tahu. Sialnya si gadis malah berteriak kencang, ketika tahu banyak orang yang memperhatikan. Setelah itu, hanya ada gelap dikepala Mario. Tak lama setelah banyak orang mengerubutinya, memberikan hantaman tanpa alasan yang jelas.

Saat membuka mata, Mario sudah berada di dalam ruang penjara. Setelah berteriak-teriak, baru ia diberitahu telah ditahan di kantor polisi, dengan kasus pelecehan seksual.

“Kau bisa dihukum lebih dari lima tahun, kalau tak mengakui perbuatanmu”, itu kata-kata polisi yang menginterogasinya. Membuatnya takut, dan terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tak bermaksud dilakukannya.

Why? Kembali kata tanya itu bergaung dikepalanya. Kenapa Tuhan mengujinya dengan cobaan seperti ini? Apa ia pernah durhaka kepada orang tuanya? Atau ada orang yang pernah menyumpahinya? Semua berkelebatan dikepala Mario. Tak mengerti dan akhirnya pasrah.

“Mungkin kamu berpikir, tentang sesuatu yang kamu senangi tapi tak kau dapatkan. Sementara yang tak kau harapkan justru terjadi. Tuhan tahu apa yang terbaik untukmu”, hanya itu, kata-kata imam masjid di tempat ia di penjara saat ini yang terus memberikan harapan.  

Setelah hampir dua tahun di penjara, Mario mulai makin merasa bosan. Kehidupan penjara yang begitu-begitu saja membuatnya seperti robot tak berdaya. Semua serba penuh dengan keterbatasan. Tak ada lagi kesempatan baginya, bahkan untuk melihat bintang. Padahal ia sangat rindu sekali melihat bintang.

Ia ingat dulu sering bersama ibunya. Bersama mereka melihat bintang. Menebak-nebak bentuk. Bisa jadi layang-layang, rumah, kalajengking, botol galon, sepeda, kuda lumping, dayung, perahu, gitar, sepatu, sendal jepit, kaca mata, garpu, asbak dan kompas penunjuk arah.

Ibunya yang memberitahu kalau bintang bisa menjadi penunjuk arah. Katanya, nelayan di lautan pergi ke mana-mana dengan patokan arah bintang. Pendaki gunung yang tersesat juga kadang menggunakan bintang untuk mencari arah pulang. Jadi, sudah banyak orang yang dibantu bintang. Lalu mengapa bintang sekarang tak membantunya?

“Gila lu kalau mau minta tolong sama bintang. Mending bantu gue, kita jualan saja yuk, untungnya gede, pokoknya makan enak deh”, Basir temannya di sel mengajaknya.

“Jualan apaan?”, tanya Mario ingin tahu.

“Ada deh, tugas lo cuma nganterin barang aja. Abis sampe ke orangnya, udah tinggalin aja, lainnya urusan gue”, tukas Basir dengan gaya sok betawinya.

Gampang sekali, pikir Mario. Akhirnya tanpa banyak kata, ia memutuskan ikut serta berjualan. Beberapa kali Mario berhasil membawa dan menyampaikan barang titipan. Sampai pada suatu ketika, tiba-tiba ia diperiksa petugas penjara. Setelah menggeledah termos yang dibawa Mario, mereka menemukan sebungkus kecil ganja di dalamnya.

Mario langsung digelandang masuk sel isolasi. Semua makin terasa suram, apalagi setelah Basir menyatakan tak tahu menahu urusan itu. Sialnya lagi, entah dengan cara apa, Basir justru lolos dari hukuman isolasi dan membiarkannya terkurung di ruang minim matahari itu seorang diri.

“Makanya, jadi orang jangan terlalu bodoh. Memangnya kamu tak curiga, cuma nganterin barang bisa dibayar mahal kayak gitu”, ujar Abah Jufri, orang tua di sel huniannya yang baru setelah dibebaskan dari sel isolasi.

Mario hanya menggeleng. Antara malu dan memang ia tak tahu. Hanya bisa menunduk, menatap lantai sel yang kusam.

“Kamu dulu sekolah sampai dimana?”, tanya Abah Jufri lagi.

“SMP, tapi itu juga tak lulus abah, cuma sampai kelas satu”, jawab Mario.

Abah hanya mengelus janggutnya. “Sudahlah, kamu ikut saja program sekolah singkat yang ada disini. Moga-moga kamu bisa jadi lebih pintar”, tambah Abah memberi solusi.

“Memang ada sekolah di penjara Bah?”, tanya Mario tak percaya.

“Lho, kamu belum tahu? Kamu bisa sekolah lagi, oh ya kamu belum lulus SMP kan? Nanti ikut program sampai mendapatkan ijazah SMA saja”, saran Abah.

Satu setengah tahun berikutnya Mario berhasil menyelesaikan program ijazah SMA-nya. Banyak ilmu sudah didapatkan. Salah satu mata pelajaran yang disukainya adalah bahasa Inggris.

“Kau harus ikut lomba menulis puisi berbahasa Inggris. Kau yang paling pintar di antara murid-murid yang lain, kalau masalah bahasa Inggris. Jangan kecewakan kami”, hanya itu ucapan Kepala Sekolah singkat saja kepadanya, setelah ia memberikan selembar kertas. Isinya tata cara mengikuti lomba bertema Cita-Cita, untuk mengingat Hari Kemerdekan Bangsa Indonesia yang diperingati tiap tanggal 17 Agustus.

“Jangan berpikir soal menang atau kalah. Kau sudah menyelesaikan puisi ini saja, berarti kau sudah menang dalam kehidupanmu”, tutur Kepala Sekolah usai Mario menyerahkan hasil karyanya. “Nanti bacakan isi puisi ini kepada teman-teman yang lain. Tunjukan kalau kalian juga bisa lebih baik dari sebelumnya”, kata Kepala Sekolah sambil memberikan salinan puisi tersebut, yang berisi;

“I had a wish.

It maybe not better than your wish.

But better or not it depend on what it use for.

I had a wish to become a good person, that makes my mother proud.

A good person that makes my mother never dissapointed again, because had pregnant and had a boy like me.

A good person, that every womens wants to be.

A good person that this country wants to be.

A good person that God wants to be.

I had a wish that bigger than this earth.

I had a wish that makes me  never ask again, about WHY I must be in this jail.”

Cibinong, 10 Agustus 2020

  • Baca Juga :

Pohon Penolong

Spread the love

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: