Corona Mendatangkan Berkah

Spread the love

Ruang pertemuan itu seperti memiliki seribu kunang-kunang didalamnya. Kilatan cahaya dari kamera dan telepon genggam, bergantian memenuhi tiap persegi isi ruang. Semua jelas mengarah ke satu orang di podium. Seorang lelaki perlente, yang berdiri tegap dengan senyum ramah, dan rambut khas remaja zaman sekarang.

Lama ia menatap satu persatu orang, yang kini mulai agak tenang. Saling berbicara, seperti terdengar menggumam. Entah membicarakan apa, namun yang jelas pasti topik utama adalah mengenai lelaki muda didepan podium itu. Seorang lelaki sukses, dengan bisnis bernilai miliaran rupiah.

Lelaki muda itu mengangkat tangan sebentar. Sebelum kemudian memulai orasinya. Suaranya terdengar perlahan, namun ada ketegasan didalamnya.

“Selamat malam. Semoga cinta dan perhatian selalu ada dalam hati semua yang ada disini”, ucapan pembukanya. Disambut gemuruh tepuk tangan orang-orang, yang tetap setia memperhatikan dari bawah podium.

Sebelum memulai orasinya kembali, seorang lelaki menghampirinya. Memberikan sebuah telepon genggam, berisi sebuah pesan. Disempatkan membaca pesan tersebut. Ucapan selamat dari seorang yang pernah dekat dengannya.

“Jangan pernah lupa. Kita pernah susah, sekarang kamu sedang menang. Tapi nanti ada saatnya kalah. Tristan, berjalanlah terus ke depan”, begitu kata-kata pesan dari telepon genggam.

Lelaki bernama Tristan, kembali mengecek pengirim pesan. Itu pesan dari Roni, lelaki tangguh yang dikenalnya saat dalam penjara dulu.

“Saya baru mendapat pesan, dari seorang teman. Sahabat saya di penjara dulu”, kembali Tristan berbicara di podium. Disambut lagi dengan gemuruh suara penonton. “Saya tahu semua pasti jengah atau merinding, atau malu mendengar kata-kata penjara. Tapi harus saya akui, karena tempat itu saya menjadi seperti sekarang. Tanpa tempat itu, mungkin saya tak akan pernah ada di podium ini. Berbicara dengan anda semua”.

Semua hening seketika. Seperti ada peredam suara yang mampu menghentikan semua dengung ribuan lebah. “Oke, saya ceritakan sedikit, apa yang terjadi di penjara, sehingga membuat saya seperti sekarang ini”, tambah Tristan lagi.

Lima tahun lalu, semua kehidupan terasa terbalik. Tristan yang semula, hidup dengan sukacita dan pergaulan kebebasan, tiba-tiba harus dipenjara. Urusannya remeh temeh saja, ia tertangkap saat sedang membawa narkoba. Tapi hukuman yang harus diterima, sangat tak bisa diterima akal olehnya. Enam tahun ia harus menjalani hukuman didalam sel penjara.

Tristan seperti menjalani hidup di dunia yang berbeda. Kalau sebelumnya, ia bisa bebas pergi kemana saja, sekarang ia hanya bisa keluar sel tujuh jam saja. Itupun terbatas hanya di dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan. Kalau tidak ke kantin, masjid, atau mengunjungi teman-teman di blok hunian lain.

Lama kelamaan, cara hidup seperti itu membuatnya bosan. Membuatnya ingin merasa muntah. Sebab tanpa kegiatan yang jelas, dan tak tahu juntrungannya. Kesana kemari, tanpa arah dan tujuan. Sementara mimpi-mimpi masa depannya, juga makin meruap dimakan udara.

Kepanikan menghadapi hidup membuatnya seperti kendaraan tanpa rem, yang main tubruk sini dan sana. Apapun dilakukan, untuk sekedar membuat hidupnya lebih berharga. Termasuk menerima ajakan seorang teman, untuk menjadi seorang penagih hutang didalam penjara.

“Udah, lu tenang aja ikut dibelakang gue. Kalo ada apa-apa lu ikut bantu gue. Pokoknya kalo urusan ini beres, lu bisa pegang uang banyak”, itu janji Roni, rekan sesama narapidana dikamarnya.

Meski diluar Tristan jarang berkelahi, dan cenderung tak setuju kekerasan, tapi didalam penjara semua bisa berubah begitu saja. Ia seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mengikuti saja kemana, sang majikan membawa. Termasuk menjalani urusan penagihan hutang piutang seperti ini.

Benar saja, perkelahian tak terelakan terjadi. Sang penagih dan yang ditagih saling ngotot. Sampai akhirnya saling baku hantam, dan Tristan mau tak mau ikut serta didalamnya. Ikut serta juga ketika dibawa petugas penjara, dan masuk ke dalam sel isolasi sebagai hukuman tambahan.

Setengah bulan berikutnya baru ia dikeluarkan kembali. Kemudian dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan baru lebih jauh, dari lokasi sebelumnya. Di penjara yang baru ini, semua terlihat lebih tertib. Ia diharuskan bangun lebih pagi, menjalankan ibadah, berolah raga, serta mengikuti kegiatan kerja hingga menjelang siang hari. Setelah istirahat dan ibadah siang, kembali mengikuti kegiatan kerja sampai sore. Malam hari diisi dengan kegiatan ibadah, atau pengajian, hingga istirahat malam.

“Kalian berada didalam sini untuk dibina kembali. Dibekali berbagai pelatihan-pelatihan, agar kalian bisa menggunakan keterampilan itu untuk berusaha diluar, dan tidak mengulangi perbuatan hukum kalian lagi”, demikian ucapan Kepala Lembaga Pemasyarakatan yang sering Tristan dengan ketika mengikuti kegiatan kerja.

Salah satu kegiatan yang kemudian diikutinya adalah pembuatan produk-produk kesehatan rumah tangga. Termasuk didalamnya membuat sabun mandi, sabun cuci, pemutih, pewangi pakaian dan hand sanitizer.

Sampai saat hari pembebasan bagi Tristan tiba. Ia dibebaskan saat Hari Kemerdekaan 17 Agustus dilakukan. Bersama puluhan warga binaan lain, Tristan dibebaskan dan kembali hidup diluar penjara.

“Jadi total berapa lama lu dipenjara bro?”, tanya Roni, yang kembali ditemuinya sekeluar dari penjara.

“Vonis enam tahun, potong masa remisi, jadi sekitar empat setengah tahun deh”, jawab Tristan pendek.

“Terus sekarang mau ngapain setelah bebas?” tanya Roni.

“Gue mau ngajak lu usaha. Bukan usaha yang ilegal sih. Kita buka usaha berbagai alat pembersih kesehatan rumah tangga”, ujar Tristan. Ia tahu Roni bukan orang miskin yang tidak memiliki harta. Orang tua Roni jelas berada. Itu sebab ia memiliki banyak uang, meski berada didalam penjara. Kiriman uang buat Roni yang kemudian diputar untuk dipinjamkan kepada rekan narapidana yang lain.

 “Ha..ha..ha..apa tidak lebih baik menjadi penyalur pembantu rumah tangga saja. Pasti banyak cewe-cewe yang mau. Siapa tahu ada yang cantik”, balas Roni berkelakar.

“Setelah gue pindah ke Lapas yang baru, gue diajarin cara bikin pembersih rumah tangga. Termasuk bikin sabun, pemutih, pewangi dan hand sanitizer. Cuma gue kurang modal. Gue mau ngajak lo ikut serta. Daripada lo makan duit riba melulu dari ngutangin uang ke orang lain”, kata Tristan blak-blakan menceritakan rencananya.

“Sialan lo. Biar riba juga lo mau makan dulu dipenjara. Tapi, sudah lupakan saja. Sekarang gue juga sudah nggak usaha kayak gitu lagi. Bagus juga tuh rencana usaha lo, pasti laku tuh, apalagi sekarang lagi zaman penyakit dimana-mana”, sambar Roni melihat peluang.

Hanya setahun berlalu setelah semua pembicaraan tersebut, semua berubah total. Seperti ada jutaan ribuan runtuh dari langit. Usaha pembersih kesehatan mereka melaju pesat. Apalagi ketika wabah penyakit Corona merebak di seluruh dunia. Salah satu produk mereka, hand sanitizer menjadi rebutan dimana-mana.

“Dan sekarang saya ada di podium ini. Menceritakan kembali semua yang telah saya alami. Sampai membuat saya menjadi miliarder seperti sekarang”, suara Tristan terdengar membahana, namun agak lirih karena mengingat sulitnya hidup di penjara sebelumnya.

“Saya hanya bisa mengingatkan. Mungkin kita pernah berada dalam kondisi tak diinginkan. Berada dalam hujan badai yang seperti tak berkesudahan. Tapi hukum alam pasti berjalan. Tak ada badai yang tak berhenti. Setelah hujan, pasti ada terang”, ucapan penutup dari Tristan membuat hadirin bertepuk tangan riuh.

Ruangan pertemuan itu seperti akan runtuh karena tepukan dan riuh rendah suara-suara dari hadirin yang datang. Tak berkesudahan, bahkan hingga mereka berdiri dari tempat duduk masing-masing. Sementara seorang anak kecil berlari kecil ke atas panggung, diikuti pandangan cemas seorang wanita yang mengikuti dibelakangnya. Itu Trisha, adik Roni yang kini menjadi istri Tristan, bersama anak mereka, Pasha yang menjadikan semua menjadi makin sempurna.

Cibinong, 8 Agustus 2020

  • Baca Juga :

Secuil Mimpi dari Dalam Bui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *