Secuil Surga di Negeri Si Ucok

Entah sejak kapan rimba belantara di seberang sungai itu ada. Lengkap dengan gajah-gajah dan kucuran air panas alami di dalamnya. Secuil surga alami, di pinggir-pinggir negeri Si “Ucok”, Sumatera Utara.

“Ini Medan bung..!!!”, racau sesosok sopir angkot disamping mobil sewaan kami. Teriakannya yang serak, seperti menyadarkan kepala dari penat yang menerpa. Sopir dengan kendaraannya itu kemudian melaju cepat, mendahului dari sebelah kiri. Mengingatkan hati, bahwa kini sedang berada di negeri suku Batak. Lengkap dengan berbagai marga di dalamnya.

Panas seperti bersicepat menyambut disini. Memaksa kaki sesegera mungkin mencari tempat teduh, sebelum siang nanti melanjutkan perjalanan. Paska makan siang nanti, memang saya berencana menuju Tangkahan. Sebuah resort di pinggir selatan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Baru nanti setelah puas menikmatinya, sedikit menyempatkan diri melihat-lihat kembali kota si “Ucok” ini.

Perjalanan ke Tangkahan ternyata cukup menguras tenaga. Baru setelah empat jam perjalanan menuju utara dari kota Medan, tibalah kami di desa wisata tersebut. Sayangnya saat hidung mulai membaui tempat ini. Gelap sudah terlanjur memenuhi bola mata. Jadi agak sulit bertahan untuk beradaptasi di kondisi seperti ini. Tak pelak kemudian pilihan untuk beristirahat lebih menguasai.

Sampai akhirnya kelopak membuka, di terang pagi pagi hari. Terlihat hijau membatas di seluas mata memandang. Rumah-rumah kecil, di persinggahan pinggir sungai Tangkahan terasa menyelinap kecil disana-sini. Enak rasanya membelah bagian hutan yang berbatasan dengan TNGL ini. Melalui jalan-jalan berakar, mirip undakan. Menghantarkan kaki pada sebuah bangunan terbuka, yang nangkring tepat di pinggir tebing sungai. Memesona mata dengan sarapan pagi di dalamnya.

Berbincang sebentar dengan seorang rekan. Akhirnya kami putuskan, menunggang gajah dan membawanya membelah sungai, jadi menu kegiatan kami pagi ini.

Tak perlu sampai berkeringat, untuk menuju tempat kediaman gajah. Sedikit naik perahu membelah sungai. Berjalan kaki melewati deretan pohon kelapa sawit, yang tinggi menjulang. Tibalah kita di lokasi satwa berbadan besar itu berdiam.

Melihat sekilas, memang benar tampak besar satwa ciptaan Tuhan yang satu ini. Dengan belalai menjulur di depan mukanya. Kadang di angkat-angkatnya belalainya itu. Mengeluarkan bunyi melengking, yang asing terdengar telinga.

Melihat mereka memamah tulang daun kelapa, lengkap dengan lidi-lidi mudanya membuat kita bergidik sendiri. Teringat pada kekuatannya yang maha dahsyat. Tapi untunglah kekuatannya itu kini bisa dimanfaaatkan manusia. Beberapa kali gajah-gajah ini menjadi penolong. Bahkan saat tsunami melanda Aceh beberapa waktu lalu, gajah-gajah ini dengan sangat berdedikasi, turut membantu memindahkan reruntuhan-reruntuhan berat, yang teramat banyak disana.

Kini beberapa gajah itu menjadi bagian pesona acara di lokasi wisata ini. Tercatat ada enam gajah kini disana. Seekor masih terlihat sangat muda. Terlihat dari bentuk badannya yang lebih kecil dari yang lain.

Sebelum menunggangi gajah, kami boleh memberi mereka makan dahulu. Ada menu istimewa tampaknya pagi hari ini. Kue gajah, yang terdiri dari adonan gandum, tepung dan jerami.

Selesai makan, berikutnya memandikan gajah. Satwa besar itu tampak sangat patuh sekali dengan pawang-pawangnya. Terlihat mereka bermain-main di sungai, merubuhkan badannya, bila kita ingin membantu menggosok badannya. Dan terasa unik sekali merasakan kulit keras, dengan bulu lunak tajam itu tertera di telapak tangan kita.

Empat gajah dengan dua belas orang diatasnya kini siap melintas. Sebuah alas datar berangka rotan, menjadi dudukan kami diatasnya. Naik diatas gajah seperti berada di atas gempa kecil. Sulit untuk tetap diam, namun tak terasa terganggu dengan guncangan tersebut.

Gajah-gajah ini juga dengan kekuatannya seenaknya berjalan-jalan. Membelah sungai jadi terasa mudah dengan kekuatan kakinya. Bak melintas got kecil saja, tampaknya bagi mereka, sungai selebar paling tidak enam meter ini.

Mendaki daerah terjal juga bukan masalah besar tampaknya untuk gajah-gajah itu. Dengan tenaga melebihi badak. Ia berlenggang kangkung mendaki. Membuka-buka daerah baru. Yang seingat saya, dulu susah payah bila dengan tenaga manusia. Kini hanya sekejap bisa dilakukan seekor gajah.

Bermain-main dengan gajah memang membuat terlena. Hingga akhirnya kami sadar, hari telah beranjak tinggi. Lapar telah memanggil. Baiknya kami kembali dahulu mencari makan siang kami kali ini.

Menunggang gajah menjadi salah satu aktivitas wisata yang bisa dilakukan di Tangkahan, Sumatera Utara. (Dok. Sulung Prasetyo)

Tubing dan Air Panas

Selesai makan kembali kami menuju sungai. Ingin merasakan kembali dingin airnya. Dan menikmati panorama. Tak berapa lama berendam-rendam, dingin cepat menerpa. Membuat tubuh menggigil ringan. Harus ada kegiatan yang dilakukan tampaknya.

Dikejauhan terlihat beberapa pemuda sedang memompa ban dalam. Terlihat besar ban-ban yang dipompa mereka. Apalagi terasa unik, dengan jaring-jaring di rongga dalam ban.

“Kami ingin tubing,” kata seorang diantaranya. Melintasi alur sungai dengan memakai ban dalam, di sebut tubing disini.

Selintas teringat olah raga arung jeram. Mungkin serupa itu nikmatnya. Hanya media yang digunakan saja berbeda.

Tanpa pikir panjang, kamipun meminta kesempatan mencoba. Hitung-hitung bisa jadi kegiatan penghangat badan yang terlanjur dingin ini.

Melintasi sungai dengan ban dalam macam tubing ini, ternyata memiliki rasa tersendiri. Arah wahana terasa lebih mudah dikendalikan. Karena ringannya muatan. Sementara jeram-jeram juga terasa lebih nikmat menggoda. Lantaran kecilnya media yang digunakan untuk melaluinya.

Perasaan lebih dekat dengan alam juga lebih sering menerpa. Karena sedemikian dekat kita dengan riak air, pinggir sungai dan batuan yang diam menghias. Ditambah hembus angin yang kadang datang, tak ingin rasanya cepat-cepat meninggalkan surga dunia ini.

Puas melintasi sungai dengan ban. Tiba-tiba seorang dari pemuda itu mengajak kami mandi air panas. “Tak lengkap rasanya kalau main kesini tanpa main di air panas,” katanya.

Terletak tak jauh dari badan sungai. Kami pun berjalan menghampirinya. Belum lima menit jalan. Ditutup dengan kanopi lebat pepohonan, terselip kucuran air hangat mengepulkan asap ke sekitar.

Seperti dipijat saja, mandi bawah kucurannya. Sedikit banyak terlupakan penat saat menikmatinya.

Menyerahkan raga pada hangat ini, seperti menyedot sebagian energi yang tersisa. Mengakibatkan rasa lapar di perut kembali terasa. Ada baiknya kembali saja kembali dahulu ke penginapan kami. Mengisi kembali energi dan merasakan kembali surga ini malam nanti.

Durian Medan

Rugi kalau sempat ke Medan tanpa pernah merasakan memutari kotanya. Ada berbagai makanan unik disana, termasuk pencuci mulutnya. Seperti Mie Aceh misalnya. Selalu saja penuh orang orang muda di dalamnya.

Mie Aceh di Medan itu juga yang kami nikmati malam pertama ini. Setelah menempuh lagi jalan pulang dari Tangkahan. Warung mie bernama “TriBoy” ini tak jauh dari Kampus Universitas Sumatera Utara (USU). Maka tak salah bila banyak mahasiswa dan mahasiswi di dalamnya.

Mereka berbincang ringan saja. Hingga di pelataran-pelataran depan warung. Beberapa bulatan kursi dengan meja rendah menghias beranda warung ini. Bangku duduk yang cenderung rebah, membuat badan jadi malas meninggalkannya. Tapi ada daya, niatan ingin berjalan melihat kota Medan di malam hari tampaknya juga keras menggema. Akhirnya diputuskan berkendara motor saja memutarinya.

Sehabis makan paling enak memang mencari pencuci mulut. Dan pencuci mulut di Medan, hanya durian jawabannya. Durian seperti tak habis-habisnya di kota ini. Datang dari mana-mana saja. Bersilih satu demi satu, mengisi berbagai pojok di sudut kota.

Salah satu pojok itu menjadi pilihan saya sekarang. Setelah harga disepakati, beberapa durian cepat mengisi meja. Durian pertama cepat kami santap tanpa sisa. Menyusul durian kedua, ketiga. “Hey lay, yang ini dingin,” kata teman perjalanan saya dengan logat  Batak yang dipaksakan.

Sebelum sempat kami bersitegang. Abang tukang durian sesegera memeriksa, dan berpendapat lain. Namun, katanya sebagai jalan terbaik yang bisa ditempuh. Ia mengalah kepada kami, dan mengganti durian ke tiga.

“Gaya lama,” kata teman saya. Karena memang seperti itu adatnya.

Durian keempat membuat perut kami seperti menggelembung. Sudah cukup tampaknya. Sebaiknya kami mencari kudapan dan menikmati santai di kota ini dengan kopi.

Pak Tua penunggu warung di depan rumah singgah kami, tampaknya sangat bersahabat. Kopi buatannya juga terasa lebih nikmat, paska menikmati sedikit bagian negeri ini. Kopi kental khas sumatera utara dan gurauan-gurauan para pengisi warung kopi enak terdengar. Bersahabat, tanpa pretensi curiga ataupun ragu. Dimanapun kami diterima layaknya tamu berkunjung.

Obrolan pun bisa ngalor-ngidul kesana-kemari. Dari orang-orang Jawa sisa transmigran dahulu. Hingga kehidupan adat batak saat ini. Semua meluncur begitu saja, diiringi rengkah tawa dan isapan-isapan rokok linting tembakau khas daerah ini. Semua seperti mimpi rasanya. Bisa menikmati secuil rasa damai surga. Diantara berat irama perkotaan, yang terus menghantui.

  • Baca Juga :

Sedikit Cerita dari Wakatobi

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: