Spoiler : Kata Pengantar Buku Carstensz I’m Coming oleh Adiseno

Kaonak, Amakane, Amole, Nayak

Berbagai kata sambutan yang banyak makna diucapkan masyarakat Papua sekitar Pegunungan Tengah, Papua. Kaonak diucapkan orang Dani, dan semua kata yang digunakan suku Moni, Nduga, bermakna selamat jumpa, selamat jalan, terima kasih. Buku karya Sulung Prasetyo, mantan wartawan Harian Sore Sinar Harapan  ini, berkisah tentang pendakian gunung tertinggi di Indonesia.

Buku ini mengantarkan kita pada pemahaman tentang mendaki gunung tertinggi di benua Australasia, karena Papua masuk dalam lempeng benua di mana daratan Australia merupakan bagiannya. Bagi pendaki mancanegara, Carstensz Pyramid adalah gunung tertinggi di benua Australia, bukan Mount Kosciusko yang terletak di pojok tenggara Australia. Carstensz Pyramid menjadi penting sebagai bagian dari tujuh puncak tertinggi di tujuh lempeng benua bumi.

Buku ini juga menjelaskan awal dari fisik lokasi gunung hingga jiwa petualang yang menjelajah ke gunung tertinggi. Sulung juga menuliskan kelanjutan dari dunia petualangan yang berkembang menjadi wisata. Pembaca akan diantar Sulung untuk menyiapkan dirinya mendaki Carstensz Pyramid. Semacam petunjuk untuk membuat mimpi menjadi kenyataan.

carstens pyramid panorama
Puncak salju Pegunungan Tengah Papua, dimana terdapat puncak Carstensz Pyramid didalamnya. Foto diambil dari pesawat menuju Sugapa, Agustus 2015. (Dok. Sulung Prasetyo)

Sulung seorang pencinta alam anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), pemimpi pendakian gunung tinggi, dan ahli berarung jeram. Saya pernah bersama Sulung bekerja di Harian Sore Sinar Harapan dan kami mengikuti lomba arung jeram antar-instansi di Sungai Citarik, Sukabumi. Regu kami menjadi juara dengan Sulung menjadi salah satu kunci keberhasilan. Sebetulnya, kami yang berasal dari Sinar Harapan lebih berperan membuat berita tentang arung jeram ketimbang “mengalirkan diri”.

Saya pernah mendaki Carstensz Pyramid, dan juga senior bagi Sulung di Mapala UI. Saya mendaki sebelum Sulung masuk Mapala. Pertemanan kami membuka saya pada mimpi Sulung. Ia ingin sekali mendaki Carstensz. Beberapa kali ia melibatkan saya dalam proyek pendakian dia, termasuk ide-ide dia mendaki  Carstensz. Ketika saya bekerja di Baturraden, membangun dan mengelola kawasan wisata petualangan, ia menyambangi bersama tim Mapala UI dan membuat jalur kami sendiri mendaki puncak Gunung Selamet.

Sulung sempat melibatkan saya pada minat dia yang lain, jurnalistik lingkungan hidup. Ketika itu pun ia menggelar proyek pendakian ke Carstensz dan kembali belum jalan. Ia pernah terlibat dalam upaya mendukung  pemantauan pemanasan global ke salju khatulistiwa bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (LIPI). Ketika itu pun, Sulung masih belum berhasil mewujudkan mimpinya ke Carstensz.

Suatu saat, saya mendapat kabar bahwa Sulung mendaki Carstensz. Ia bersama sahabat saya lainnya, Hendricus Mutter. Jika dua teman sama-sama bertualang, kami yang tertinggal jujur saja merasa iri. Rasa yang terbasuh karena ikut bahagia atas keberhasilan kawan.

Sulung Prasetyo telah berjuang lama mewujudkan mimpinya. Ia telah menggali dan menggali berbagai pengetahuan hingga mungkin sekali ia paling siap di antara ratusan lainnya yang telah mendaki ke Papua. Dan pengetahuan serta pengalamannya dituangkan dalam buku dan perjalanannya dalam satu bab.

Buku yang menjadi pengantar bagi mereka yang bermimpi Carstensz. Atau seperti saya yang ingin bernostalgia dan merasakan kebahagian pendaki lain dalam mencapai cita-citanya. Suatu sambutan yang setara dengan ucapan, Amole.

Jakarta, 7 Agustus 2017

Adiseno

Pensiunan wartawan dan pendaki gunung.

  • Baca Juga :

Mendaki Sendiri Puncak Salju Papua

Es Puncak Papua Salju Papua Terancam Sirna

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: