Sistem portaging atau mengangkat perahu saat kondisi jeram sungai tak bisa dilewati

Siap Sial Kalau Pakai Sandal Jepit Buat Arung Jeram

Arung jeram memang melenakan. Bisa terguncang, atu berayun-ayun diatas perahu. Di atas gelombang-gelombang air sungai yang tak beraturan. Kadang merasa cemas, kadang juga merasa tenang. Tapi siap-siap merasa sial saja, kalau nekat arung jeram memakai sandal jepit.

Kenapa bisa begitu? Coba baca pengalaman-pengalaman saya ini, saat berarung jeram dibeberapa sungai di Jawa dan Sumatera.

Yang paling sadis pengalaman waktu berarung jeram di sungai Asahan, Sumatera Utara. Waktu itu saya kesana karena urusan perlombaan arung jeram tingkat internasional. Sebagai salah satu tim yang diutus dari Jakarta, akhirnya setelah melewati masa persiapan dan latihan yang melelahkan, bisa juga sampai di sungai yang katanya nomor hebat ke tiga di dunia itu.

Ketika pertama kali melihat sungai Asahan, sontak tubuh rasanya bergetar. Sungai ini lebih besar dari sungai manapun yang pernah saya arungi di Jawa. Arusnya terlihat garang melaju, menghantam-hantam kasar bebatuan dipinggir dan tengah sungai. Ombak yang tercipta jadi sedemikian dahsyat, siap membalik perahu kalau tak siap melewatinya.

Salah langkah saya menghampirinya. Tapi sudah tak ada kesempatan untuk kembali, kecuali maju menghadapinya. Dengan diiringi pandangan kurang mengerti para yunior yang ikut serta, saya kuatkan hati bahwa kami akan selamat melewati semua ini.

Langkah pertama yang akan dilakukan adalah melakukan scouting dari pinggir sungai. Mencoba melihat jeram dari dekat, dan mendiskusikan dengan semua anggota tim pengarungan, kira-kira bagaimana cara melewati jeram tersebut dengan perahu karet.

Ada satu jeram bernama Big Hole, artinya kira-kira lubang dalam. Entah kenapa dinamakan seperti itu. Tapi penampakan dari jeram itu memang seperti masuk ke dalam lubang. Sebenarnya sih, air yang melewati tiba-tiba terjun setelah batu besar.  Air yang jatuh itu membuat arus putar yang terasa seperti lubang. Kalau masuk kesitu, saya pikir perahu pasti tertahan tak keluar-keluar. Kalau orang yang jatuh kesitu, bisa berputar-putar tak jelas sampai kapan.

“Hati-hati melewati jeram itu,” kata seorang rafter dari Kompas USU mengingatkan. Tim dari Kompas USU memang menemani tim kami selama proses scouting. Mereka lebih berpengalaman melewati jeram-jeram di sungai Asahan, karena lokasinya berada di provinsi mereka tinggal. Jadi buat mereka, datang ke sungai ini seperti main ke rumah nenek mereka saja.

“Memang ada cerita apa?”, tanya saya penasaran.

“Pernah ada yang hilang kuku jari kakinya disana”, papar dia lagi dengan enteng.

Saya tertawa saja mendengar ocehan teman dari Kompas USU itu. Bagaimana mungkin arung jeram bisa menghilangkan kuku kaki.

Rafter yang jatuh ke jeram itu pake sandal jepit doang. Habis dia keputar-putar disana. Setelah diselamatkan, kuku kakinya sudah hilang”, urai teman Kompas USU itu lagi.

Damned, pikir saya. Setelah itu tak pernah lagi saya mau berarung jeram dengan hanya menggunakan sandal jepit.

Memakai sendal jepit saat berada di sungai memang terkesan nyaman, namun ternyata sangat merepotkan kalau tetap digunakan untuk aktivitas alam bebas yang berisiko tinggi seperti arung jeram. (Dok. MerahPutih)

Memakai sandal jepit waktu arung jeram memang rasanya oke. Simple, dan tak merepotkan. Apalagi kalau kepikiran kita tiba-tiba harus berenang di sungai karena perahu terbalik. Pasti susah rasanya berenang dengan memakai sepatu di air. Sementara kalau pakai sandal jepit, bisa masa bodoh hilang kemana deh, yang penting kaki gampang mengayuh di air mencari lokasi yang bikin selamet.

Kenyataan dilapangan tapi berbeda sama sekali. Justru kita akan sama sekali tak terlindungi saat hanya memakai sandal jepit sebagai alas kaki di sungai. Sama seperti juga kepala yang harus dilindungi helm, kaki juga harus dilindungi saat berarung jeram.

Sudah berapa kali saya membuktikan hal tersebut. Tak hanya ketika di sungai, kecelakaan pada kaki juga banyak terjadi saat diluar sungai. Seperti kasus waktu mengarungi sungai Cimandiri, Jawa Barat. Waktu itu kondisi berubah 180 derajat karena tiba-tiba perahu mengalami masalah. Tak bisa diperbaiki jadi harus dievakuasi keluar dari sungai.

Repotnya proses evakuasi harus melewati daerah terjal dengan tanah merah licin dibawahnya. Dengan bawaan berat perahu karet yang dibopong tiga orang di bahu, ditambah tanah pijakan licin, kondisi jadi sedemikian hektik sulit terkendali. Sialnya ada juga anggota tim yang konyol hanya menggunakan sandal jepit dalam kondisi seperti itu. Sejak awal teman itu memang menggunakan sandal jepit untuk arung jeram. Alasannya dia memang tidak membawa sepatu untuk ikuti trip arung jeram kali ini. Jadi dia pikir dengan menggunakan sandal jepit saja sudah cukup. Toh, kali ini pengarungan iseng saja, mengisi liburan yang tak jelas mau kemana.

Terbayang jadinya, teman yang memakai sandal jepit itu harus pontang-panting memanggul barang dan menyesuaikan langkah dengan jalan licin. Seperti murid seorang pendekar sakti sedang melewati ujian sepertinya dia. Kadang-kadang terpeleset, dan sandalnya akhirnya harus putus karena tak tahan terus-terusan tertarik kesana-kemari. Akhirnya teman itu berhasil juga mencapai titik tujuan terakhir kami mengevakuasi perahu karet. Sebuah jalan aspal, tempat menunggu mobil angkutan perahu karet datang. Dengan senyum menang dia tertawa, sebab katanya dia berhasil melewati salah satu cobaan terberat dalam hidupnya. Dalam hati saya tertawa saja, lagipula siapa suruh hanya memakai sandal jepit waktu arung jeram.

  • Baca Juga :

Intai Jeram Sebelum Melewatinya

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: