people resting on sandy shore near sea

Suara Lirih Penyelamat Alam

Suara mampu menghadirkan nuansa tujuan seperti pada keinginan untuk melestarikan alam. Suara kini dipergunakan untuk memicu pesan di kepada manusia, termasuk upaya penyelamatan lingkungan.

Masuklah sekali-kali ke dalam goa. Lorong-lorongnya yang dalam, meninggalkan bekas cahaya hanya di pintu masuknya. Semakin ke dalam yang tersisa hanya tinggal kegelapan. Saat mematikan cahaya yang dibawa. Tak ada satu apapun yang terlihat. Bahkan jemari tangan seperti hilang saja.

Dalam kegelapan seperti itu, daya dengar kita akan menajam. Kita mencoba menangkap apa saja yang berada di sekitar. Sekilas mungkin akan terdengar sunyi. Kemudian mulai ada aliran air. Dengus napas teman tak jauh dari kita. Selain kemudian akan terdengar juga suara-suara gema titik air jatuh. Kalau beruntung mungkin akan terdengar suara satwa di dalamnya.

Pada konteks tersebut suara menjadi pilihan interpretasi terhadap sekeliling. Suara kemudian menjadi penting saat kita sudah tak melihat. Menjadi salah satu sandaran manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lainnya.

Nada penting suara itu yang kemudian dilebur beberapa pihak guna tujuan penyelamatan lingkungan. Salah satu contohnya yang pernah dilakukan World Wildlife Fund (WWF). Mereka merilis upaya advokasi pelestarian lingkungan melalui rekaman suara alam di internet. Dengan tajuk bernama Power of Voice, WWF berupaya mengangkat tema pentingnya suara.

Bila kita membuka aplikasi tersebut nuansa pemakaian suara untuk upaya pelestarian alam terasa sekali. Seperti terdengar pada pengaktifan aplikasi di median volume terendah, akan terdengar suara satwa alam seperti jangkerik dan kodok.

Bila suara volume dinaikkan sedikit, akan terdengar suara tambahan seperti suara burung-burung kecil. Pada median suara volume menengah, suara alam yang terdengar akan makin beragam. Suara monyet, burung-burung besar dan kecil, serta gajah bercampur-baur.

Makin meninggi suara yang ada makin beragam lagi, hingga akhirnya mencapai puncaknya dengan ilustrasi bacaan mengenai hilangnya ratusan hektare hutan kita. Dengan suara keras, kita mungkin bisa membantu menguranginya.

Kedekatan musisi Iwan Abdulrachman dengan alam menghasilkan beberapa lagu penyelamatan lingkungan. (Dok. PokeLagu)

Iwan Abdulrachman
Lain lagi bila kita sempat menyambangi pementasan musikus Iwan Abdulrachman, di Bentara Budaya Jakarta satu hari sebelumnya. Dengan tema senandung alam, musikus yang kerap dipanggil Kang Iwan tersebut, jelas-jelas mencoba mengangkat upaya pelestarian lingkungan melalui suara dan interpretasi dirinya terhadap kondisi alam saat ini dan sebelumnya.

Seperti pada lagu yang dibawakan Vina Panduwinata mengenai burung camar, yang ternyata juga merupakan ciptaannya. Iwan menciptakan lagu tersebut karena ketakjubannya pada burung camar, saat mengikuti seorang teman di sebuah calon area penanaman bor pipa migas di pinggir pantai.

Pada kenyataannya ketakjuban Kang Iwan harus musnah saat kemudian melihat seorang nelayan yang sudah tiga hari kelaparan. Karena ikan di laut mulai hilang. Lalu terciptalah refrain Tiba-tiba ‘ku Tertegun Lubuk Hatiku Tersentuh/ Perahu Kecil Terayun Nelayan Tua Di Sana/ Tiga Malam Bulan T’lah Menghilang/ Langit Gelap Walau Tak Bermega.

Tanpa sadar Kang Iwan mencoba menanamkan kesadaran kepada kita. Mengenai sakitnya kehilangan. Seperti juga yang ditakutkan WWF akan kehilangan suara-suara alam, Iwan Aburrahman membawa ketakutan nelayan tua dan burung-burung camar itu.

Kita bisa saja merasakan kesakitan serupa, pada kehilangan akan alam yang makin rusak. Mungkin, kita akan merasa kehilangan teman untuk berbagi rasa, seperti pada syair Tiada Teman, Berbagi Derita/Bahkan Untuk Berbagi Cerita. Nah.

  • Baca Juga :

Malu Terbang Hinggapi Petualang Eropa Utara

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: