person walking on snow

Mencari Apa di Gunung Sendiri?

“Siapa yang mementingkan diri sendiri akan menjadi musuh seluruh orang di dunia”, itu kata-kata seorang rahib dalam film Pee Nak 2 yang kebetulan saya tonton pada November 2020 ini.

Saya tak ingin membahas mengenai review film disini, atau komentar-komentar bijaksana yang ada didalamnya. Justru saya tertarik mengangkat masalah pendakian gunung seorang diri atau dikenal dengan sebutan solo hiking, dengan berawal dari kata-kata yang diucapkan sang rahib tadi.

Mengapa mendaki gunung seorang diri? Seorang kawan pernah bertanya pada saya. Sambil matanya seperti mengeluarkan sinyal tanda tak mengerti, cenderung bahkan berarti menganggap sudah gila kalau saya benar-benar mengambil keputusan mendaki sendiri seperti itu.

Otak kepala saya terus berputar-putar seperti sekarang, tiap-tiap kembali mencari alasan mendaki seorang diri. Sebab kalau dipikir secara logika, dari sisi mana saja pasti ujung-ujungnya seperti sebuah kesalahan saja.

Solo Semeru

Dulu, pertama kali saya mendaki gunung seorang diri, sekitar tahun 1997 sebenarnya hanya sebuah gambaran kekuatan keinginan saja. Waktu itu, saya sangat ingin sekali mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa, gunung Semeru. Sementara saya bukan tipe orang yang seenaknya saja pergi, tanpa ada alasan. Sebab kepergian harus dengan alasan, pergi tanpa alasan adalah pemborosan waktu dan uang. Saya lebih memilih tak pergi, dengan alasan bisa melakukan hal lain yang lebih baik daripada pergi, meski itu petualangan ke puncak gunung tertinggi, atau sungai dengan jeram terbesar yang pernah ada di dunia sekalipun.

Kembali lagi ke Semeru, waktu itu alasan saya sudah teramat kuat untuk pergi. Selain mencari pengalaman mencapai puncak pulau Jawa, juga menyambangi keberadaan senior saya di SMA yang sudah lama hilang di gunung tersebut. Sebab menurut desas-desus, waktu itu senior saya itu kembali terlihat lagi, setelah setidaknya delapan tahun menghilang tak tentu rimbanya di gunung yang ada di Jawa Timur itu.

Untunglah cerita pendakian gunung sendiri itu berakhir sukses. Dalam artian saya pulang dengan selamat, mendapatkan banyak pengalaman, dan bisa menyambangi nisan senior saya meski tak juga bertemu dengannya. (Tak terbayangkan sih sebenarnya kalau saya benar-benar bisa bertemu senior saya waktu itu. Berarti akan bertemu dengan hantu..:D kalau saya pikir-pikir lagi sekarang, saya sesungguhnya tak siap dengan keadaan seperti itu sebenarnya pada saat itu.)

  • Baca cerita tentang Mencari Bubung dalam versi Bahasa Inggris

1# Finding Bubung

Solo Rinjani

Pendakian gunung seorang diri kembali terjadi lagi kedua kalinya, saat ingin mendaki gunung Rinjani di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kala itu benar-benar tanpa alasan sama sekali, saya mendaki karena ajakan seorang teman. Tapi konyolnya, teman itu malah lebih dulu mendaki, dan meninggalkan saya satu hari dibelakang. Ada miskoordinasi sebenarnya, dan ia memutuskan mendaki lebih cepat satu hari dari jadwal yang dijanjikan.

Akhirnya, saya memutuskan menyusul mendaki. Menuju ke puncak tertinggi ketiga di Indonesia itu seorang diri, pada kisaran tahun 2002. Berharap dapat bertemu dengan teman saya, dan kelompok pendakiannya itu. Entah di Plawangan Sembalun, atau di Segara Anak atau bahkan di pintu keluar pendakian daerah Senaru.

Konyolnya, cerita kenyataan memang selalu berbeda dengan harapan. Sampai di Plawangan Sembalun, Puncak Rinjani, bahkan Segara Anak saya sama sekali tak pernah bisa menyusul kelompok teman saya itu. Selalu tertinggal satu hari dibelakang.

“Oohhh…kelompok yang ada perempuan jilbabnya itu ya mas. Tadi malam sih kami ketemu, tapi sudah pergi sepertinya tadi pagi”, selalu begitu ketika saya tiba disebuah tempat istirahat pada sore hari.

Sampai akhirnya saya sampai ke Senaru, malam hari ketiga pendakian dengan cara ngebut seperti itu, tetap saja tak bisa saya temukan teman saya itu. Karena saat tiba menjelang jam delapan malam di Senaru, teman saya itu sudah pulang ke Jakarta pada pagi harinya, 12 jam sebelum saya tiba disana.

Kalau dipikir-pikir sih, sebenarnya mengesalkan pengalaman itu. Tapi, saya justru jadi punya pengalaman baru mendaki seorang diri lagi, meski tak sengaja. Pengalaman yang membuat saya lebih percaya diri, kalau menghadapi perubahan situasi ekstrem dari rencana ternyata saya bisa menghadapinya. Kuncinya hanya tetap tenang dan berpikir logis saja.

Solo Pasir Arca-Pangrango

Beda lagi cerita pendakian sendiri yang ketiga kalinya. Saat itu, saya cenderung ingin membuktikan diri. Sebab seorang senior saya di perusahaan jurnalistik tempat saya bekerja, sempat meragukan beberapa foto yang saya hasilkan memang hasil karya saya sendiri. Pasalnya dalam foto-foto itu, ada gambar diri saya didalamnya. Memang secara logika, mana mungkin saya mendapatkan foto tentang diri saya sendiri, tanpa bantuan tangan orang lain untuk menekan tombol kamera. Apabila memang seperti itu keadaannya, seharusnya hak intelektual untuk pemilik foto tersebut adalah orang yang menekan tombol kamera, dan bukan saya seperti yang sebelumnya ada.

Saya sudah mengatakan, kalau saya menggunakan tombol timer untuk mendapatkan foto-foto tersebut. Sehingga saya bisa berada didalam frame foto yang dihasilkan. Namun tetap saja, hal tersebut menjadi polemik didalam kaidah jurnalistik, yang coba dipegang seideal mungkin oleh senior jurnalis tersebut.

Akhirnya dengan hati kesal, saya putuskan membuat sebuah artikel petualangan dengan gaya seorang diri. Saya pilih mendaki gunung melewati jalur yang jarang dilalui, menuju gunung Pangrango, yang berada tak jauh dari Jakarta, jadi tak terlalu mengambil banyak waktu libur.

Terpilih jalur Pasir Arca, yang kebetulan juga belum pernah saya lalui sebelumnya. Tekad sudah bulat sekali saat tahun 2005 itu. Membuktikan kalau yang saya katakan adalah benar, dan saya tak pernah menyalahi apapun etika dalam dunia jurnalistik.

Dalam waktu tak sampai tiga malam, saya berhasil melalui jalur Pasir Arca, mencapai puncak Pangrango dan kembali turun melalui jalur Cibodas. Semua foto-foto yang saya hasilkan sesuai dengan harapan, dan tak ada alasan bagi orang-orang untuk menampik, kalau foto-foto itu memang hasil karya saya sendiri, meski tanpa ada orang lain pergi dengan saya kala itu.

  • Baca Juga :

Pendakian Solo di Pasir Arca

Solo Puncak Jaya Wijaya

Sepuluh tahun setelah pendakian solo, atau seorang diri di Pangrango, saya berkesempatan mendaki gunung Carstensz Pyramid di Papua. Deretan Pegunungan Tengah di Papua itu, juga memiliki banyak puncak tinggi didalamnya. Selain Carstensz yang pada tahun 2015 masih menjadi yang tertinggi di Indonesia. Ada juga puncak Jaya Wijaya, Soemantri Brojonegoro, dan Carstensz Timur, yang memiliki ketinggian tak jauh berbeda disana.

Satu hari sebelum mendaki ke puncak Carstensz Pyramid, saya berkesempatan menyambangi puncak Jaya Wijaya seorang diri. Puncak Jaya Wijaya sendiri, sebelumnya pernah lebih tinggi dari puncak Carstensz. Namun karena salju yang menutupi puncak Jaya Wijaya terus menyusut, maka titik tertinggi berpindah ke puncak Carstensz.

Ketika saya menjejak puncak Jaya Wijaya pada tahun 2015, lapisan salju masih terasa tebal ada disana. Meski harus diakui, luas lebarannya sangat menyusut jauh sekali bila dibandingkan dengan catatan-catatan yang pernah ada sebelumnya.

Afif Farhan, teman jurnalis dari detik.com yang sempat bersama saya pada pendakian waktu itu, sempat menanyakan berulang kali mengenai niat saya mendaki puncak Jaya Wijaya seorang diri. Berulang kali juga, saya tegaskan kepadanya, kalau hal itu tak akan menjadi masalah besar. Saya secara pribadi sangat yakin, karena pernah merasakan mendaki seorang diri dibeberapa gunung yang pernah saya sebutkan sebelumnya. Baik teknik pendakian, dokumentasi, hingga manajemen waktu, perjalanan dan logistik untuk menuju kesana telah saya pahami. Informasi menuju puncak Jaya Wijaya, yang saya dapatkan dari Hendricus Mutter, pemandu saya kala itu juga saya pikir sudah cukup. Saya hanya tinggal mengikuti jalur saja, celah jalur pendakian tujuan sudah terlihat jelas, meski hanya terlihat dari basecamp danau-Danau.  Tak ada yang perlu saya khawatirkan sama sekali, selain minimnya pengalaman mendaki atau berjalan di salju saja. Namun kekurangan itu bukan membuat takut, justru makin penasaran, karena kalau saya berhasil berarti memiliki bekal untuk tujuan berikut nantinya.

Benar saja, tak sampai dua jam, saya sudah mencapai area morraine atau batas salju terluar dari gunung Jaya Wijaya. Tak ada hambatan berarti menuju area batas salju tersebut. Selain harus memanjat dengan menggunakan webbing sedikit. Sisa selainnya, hanya perasaan asing, karena mendapatkan daerah pendakian tanpa pohon sedikitpun disekeliling. Hanya batu-batu hitam, dan lapisan salju. Sangat jauh berbeda sekali, dengan jalur pendakian manapun di Indonesia.

Cara berjalan di salju juga ternyata tak sesulit yang saya duga. Cukup menggunakan crampoon paling sederhana yang dibawa, ternyata lapisan salju bisa dilalui dengan mudah. Saya coba menjejak di daerah mendaki, dan menurun. Crampoon memang benar-benar memiliki fungsi yang baik untuk memperteguh posisi langkah manusia diatas es.

Daerah yang paling sulit diterka, justru lapisan-lapisan es tipis yang bisa ada lubang didalamnya. Beberapa kali sempat juga terperosok ke dalam lubang, setinggi hingga selangkangan. Setelah beberapa kali mengalami pengalaman seperti itu, selanjutnya lebih bisa menerka, mana daerah dengan lapisan es aman untuk dijejak dan tidak.

Alhamdulillah, tak sampai siang hari, puncak Jaya Wijaya berhasil dijejak juga. Sempat berlari-lari riang diatasnya. Meski seorang diri saja, tapi ada perasaan senang yang sulit dijabarkan dengan kata-kata disini.  

Jadi kesimpulannya, benar-benar terkait dengan kata-kata yang diuncapkan diawal artikel ini. Mendaki gunung sendiri itu benar-benar tak ada kaitannya dengan mementingkan diri sendiri. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, mendaki gunung seorang diri itu kadang memiliki alasan tertentu. Mendaki gunung sendiri juga bisa jadi karena tak sengaja. Mendaki gunung sendiri juga bisa berarti pembuktian diri. Namun secara umum tak ada alasan mendaki gunung sendiri, karena merupakan sebuah bentuk keegoisan dari seorang pendaki.

Jadi bodoh saja, bila ada yang berpendapat kalau pendaki gunung seorang diri itu adalah seorang yang sangat egois, dan sangat mementingkan diri sendiri. Sebab justru dari pengalaman mengalami kondisi alam yang berat itu seorang diri, bisa menjadi cermin kalau seseorang sangat membutuhkan orang lain. Bisa juga dia mendaki seorang diri, karena mencari kebersamaan bersama orang lain.

  • Baca Juga :

Mendaki Sendiri Puncak Salju Papua

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: