building roof architecture travel

Seribu Naga dan Dewa Kelenteng Singkawang

Singkawang terkenal dengan keindahan alam dan keragaman budaya yang khas. Secara demografis-pun kota yang terletak di ujung barat Kalimantan ini, bisa dibilang unik. Mengingat hampir sebagian besar komunitas kota terdiri dari etnis Tionghoa. Maka wajar bila banyak terdapat kelenteng disana.

Orang-orang keturunan Cina datang ke Singkawang sekitar abad 18. Kala itu wabah pencarian emas (gold rush) turut juga melanda daerah pegunungan ini. Kota Singkawang memang dikelilingi gunung. Ada Gunung Pasi, Gunung Sakok, Gunung Poteng dan hanya dibatasi Laut Natuna di bagian barat. Karena kondisi geografis itulah, maka Singkawang dahulunya dinamakan ‘San Kew Jong’. Nama berasal dari bahasa Cina, yang berarti kota di kaki gunung dekat muara dan laut.

Orang-orang Tionghoa keturunan Hakka ini juga yang kemudian menyebarkan kepercayaan konfusianisme disana. Ini tergambar dari banyaknya klenteng yang tersebar di kota Singkawang. Karena banyaknya klenteng itu juga, maka Singkawang mendapat julukan ‘Kota Seribu Klenteng’.

Naga Kelenteng

Seperti layaknya klenteng yang bernuansa ceria. Di Singkawang-pun keberadaan tempat ibadah ini, kelihatan juga meriah. Dengan warna merah mendominasi dan tiang-tiang besar sebagai penyangganya. Di tiap bagian atapnya selalu tergambar naga. Menggambarkan optimisme dan idealisme.

Naga juga terlihat di pernik-pernik klenteng Singkawang. Seperti pada pembakar dupa di klenteng Chiku, yang berbatasan dengan gunung Pasi. Pembakar dupa di klenteng ini sedemikian besarnya, hingga mencapai diameter satu meter panjangnya. Dipinggir kiri dan kanan dupa tersebut, tergambar kepala naga, yang menjulurkan lidah-lidahnya. Agar asap dupa selalu terbakar.

Warna naga ini juga akan menjadi indah pada malam hari. Karena biasanya pengurus klenteng memberikan garis lampu senada dengan lekuk ornamennya. Hingga saat suasana gelap karena malam di Singkawang. Akan terlihat warna-warni lampu berbentuk naga, terpampang menghiasi malam.

Simbol binatang lain juga terlihat di ornamen-ornamen dalam klenteng Singkawang. Seperti bangau dan monyet. Di sebuah klenteng yang terletak di tengah kota, tepat di pertigaan jalan utama, gambar seperti bangau menjadi salah satu penghias dindingnya. Dibalut dengan asap hio dan remang suasana klenteng.

Sedangkan simbol seperti monyet, terpampang gagah di pagar lantai dua klenteng Chiku. Mengamati kejauhan dengan mata tajamnya. Dan terus memperhatikan dengan bekal kelincahan.

Dewa Kelenteng

Selain rupa satwa. Bentuk-bentuk dewa juga ada ditiap klenteng yang disinggahi. Beberapa menempati posisi sebagai penjaga dupa. Sebagian lagi terdapat di ruang-ruang pemujaan. Patung di klenteng yang berada di tengah kota, memiliki ukuran kecil. Hanya seperti boneka-boneka yang dipajangkan saja. Namun memiliki nilai besar, bagi kalangan yang mencintainya.

Di klenteng Chiku, bentuk patung-patung lebih besar-besar. Hampir dua kali tubuh manusia dewasa biasa. Di pagar depan klenteng ada tiga patung besar, yang berbeda satu sama lain. Mereka berdiri gagah, dengan pakaian kebesaran berwarna-warni meriah. Menjaga pagar dari segala gangguan.

Patung dewa penjaga gerbang di Kelenteng Chiku. (Dok. Sulung Prasetyo)

Di menara-menara klenteng Chiku, juga terdapat patung-patung yang serupa. Namun mereka berdiri menghadap ke arah delapan mata angin. Masing-masing menatap ke depan dengan segala macam sajian di kaki mereka, yang berlapiskan alas kaki bersepuh emas.

Selain bentuk klenteng yang menarik. Letak keberadaan klenteng yang tersebar juga menarik untuk diamati. Kebanyakan klenteng tersebut berada di daerah selatan. Yang bergunung-gunung. Hingga membuat kita jadi lebih bisa meresapi alam, saat berada di klenteng yang akrab dengan lingkungannya.

  • Baca Juga :

Berlibur dari Kesendirian di Rumah Panjang Utik

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: