16 Juli 2024
Jadi sekali lagi, pikir-pikir ulang kalau mau merasakan sensasi tahun baru di gunung. Bakal lebih banyak kendala harus dihadapi. Mulai dari hujan, badai, kabut dan musim kawin binatang.

Views: 2215

Semenjak era generasi pendaki versi novel 5 cm menggejala, sepertinya makin banyak yang bermimpi bisa merasakan citarasa tahun baru di gunung. Entah apa yang ada dikepala pendaki-pendaki itu. Mungkin bermimpi mendapatkan sensasi cipratan warna-warni kembang api dari kejauhan. Sambil dibawahnya berkelap-kelip ribuan titik cahaya perkotaan. Padahal sebenarnya, tidak seperti itu bung !!!

Kenapa tidak? Sebab sudah beberapa kali cerita pendakian gunung di akhir tahun. Di tahun yang berbeda-beda, dan di lokasi yang berbeda-beda pula. Dan kesimpulannya, jangan mendaki gunung untuk tahun baru. Tak percaya? Berikut alasannya.

Hujan Terus

Iya hujan. Akhir tahun identik dengan hujan. Bahkan menjelang ke bulan Januari, hujan sepertinya tambah deras dan sering turun ke bumi.

Hujan di gunung juga bikin semua rencana bisa buyar. Yang tadinya mau kongkow-kongkow pagi sambil ngopi, ditemani hangat matahari tidak akan bakal terlaksana. Yang ada meringkuk di dalam tenda. Kedinginan dan kesal karena kompor mati terkena air hujan.

Hujan di akhir tahun di gunung bisa berhari-hari tanpa henti. Pernah ada satu pengalaman harus tiga hari tiga malam berada di gunung, dengan hujan yang tidak pernah berhenti. Berubah menjadi agak gerimis iya, tapi tidak berhenti. Dan sialnya itu saat menjelang akhir tahun. Jadi terbayang lagi, bagaimana harus packing peralatan dibawah hujan. Sudah berat, tambah berat karena basah.

Badai Terus Juga

Iya badai. Jangan sembarangan sama badai di akhir tahun. Hujan tak sembarang hujan, campur badai pula. Air hujan yang terasa berbutir besar, jadi bertingkah aneh. Sepertinya mereka bisa terbang tak hanya vertikal, tapi juga horizontal. Menampar muka, yang sebenarnya terlanjur beku karena kedinginan.

Badai juga membuat banyak pohon bertumbangan. Jadi harus lebih hati-hati kalau melewati jalur pendakian penuh pohon tinggi disekitarnya, saat sedang hujan badai. Beruntung kalau hanya dahan kecil yang tumbang. Pohon sebesar badan bisa saja tiba-tiba rubuh tanpa sebab karena badai.

Badai juga membawa petir didalamnya. Repotnya petir datang lebih cepat dari suaranya. Jadi jangan kaget lihat pohon tiba-tiba sudah gosong berasap, baru kemudian suara petir datang membahana.

Kabut Diam

Iya kabut. Putih berada dimana-mana. Menutupi pandangan. Menyebar, seperti membawa misteri. Sepertinya kita berada di negeri antah berantah, atau kalau sedang sinting, berpikir mungkin seperti dunia akhirat yang ada di siaran televisi.

Kabut biasa datang setelah hujan. Bahkan sebelum hujan kabut biasanya lebih tebal. Karena membawa butir-butir air yang kepanasan di tanah. Jadi wajar, kalau di musim hujan kabut lebih kerap datang, karena setelah kabut cukup banyak berada di angkasa, baru hujan akan tercipta.

Kabut juga menjadi menyebalkan karena membatasi pandangan mata. Membuat segala angan tentang melihat percikan kembang api dikejauhan menjadi lenyap. Boro-boro mau melihat jauh, kadang pohon di depan mata saja bisa disangka orang, karena mata kita tertipu kabut yang menyelimuti.

Banyak Binatang Kawin

Iya binatang kawin. Alasan paling terakhir ini yang mungkin agak terdengar aneh. Tapi memang begitu kejadiannya. Sebab binatang juga mahluk hidup, yang perlu bereproduksi untuk melanjutkan kehidupannya.

Sama seperti manusia, di musim hujan binatang juga kebanyakan menjadikannya sebagai musim kawin. Entah karena cuaca mendukung, entah karena dorongan hasrat untuk kawin memang terasa lebih besar pada saat musim hujan.

Tapi kalau melihat kondisi di gunung saat musim hujan memang seperti itu. Burung-burung jadi lebih rewel berkicau setelah musim hujan. Seperti berlomba-lomba memikat pasangan. Belum lagi binatang-binatang yang lain seperti ular yang katanya juga berbiak dan bertelur disaat musim hujan.

Banyak Gunung Ditutup Buat Pendakian

Oleh karena itu juga banyak gunung-gunung kadang ditutup untuk pendakian saat akhir tahun. Selain karena alasan hujan dan badai yang membahayakan, alasan lain biasanya juga karena musim kawin binatang.

Jadi percuma juga punya rencana ke gunung saat tahun baru, karena kebanyakan gunungnya juga ditutup. Kalau mau nekat sih bisa saja. Tapi jelas tidak bakal ketemu pendaki gunung cantik seperti waktu musim kemarau. Paling ketemu petugas patroli kehutanan, yang pasti dengan senang hati memberikan hukuman, karena kita nekat melanggar peraturan.

Jadi sekali lagi, pikir-pikir ulang kalau mau merasakan sensasi tahun baru di gunung. Bakal lebih banyak kendala harus dihadapi. Mulai dari hujan, badai, kabut dan musim kawin satwa. Nanti bukannya senang-senang dan mendapatkan seperti yang diimpikan, malah jadi tikus kecebur got karena lepek berhari-hari kehujanan dan kena badai. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *