22 Juni 2024
mobil listrik
Terlepas dari itu semua solusi yang ada, muncul kembali pertanyaan besar dikepala. Dengan sedemikian banyaknya kemungkinan bencana dari pemakaian nikel, apakah sepadan dengan manfaat yang dihasilkan?

Views: 3594

Bagi pemimpi masa depan, mungkin mengendarai kendaraan listrik merupakan salah satu bagian yang harus dirasakan. Bagaimana tidak, kendaraan teknologi terbaru tersebut memang benar menggambarkan bagaimana rasa berkendara dimasa depan. Tenang, mulus, lengkap dengan berbagai perangkat futuristik didalamnya, dan mampu meluncur dengan kecepatan tinggi pula.

Satu lagi yang paling dinanti banyak orang, dengan kendaraan listrik berarti tidak perlu pusing beli Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenapa tidak harus beli BBM? Karena kendaraan listrik menggunakan baterai sebagai pemacu gerak mesin.

Nah, disini awal mula bencana yang akan dibahas di tulisan ini dimulai. Sebab salah satu baterai yang digunakan akan mengandung nikel. Salah satu sumber daya alam yang sangat besar di Indonesia. Bahkan mungkin terbesar di dunia. Itu sebabnya Presiden Jokowi pernah wara-wiri ke Elon Musk, untuk menjual sumber daya ini, sebagai sumber tenaga produk mobil listriknya yang melegenda, Tesla.

Namun ternyata dibalik mimpi besar tersebut, tersimpan banyak kemungkinan bencana didalamnya. Tak hanya di hulu dalam bentuk penambangan, bahkan potensi bencana terdapat di proses pengolahan, dan paska pemakaian baterai berbahan nikel tersebut.

Bencana Penambangan

Penambangan nikel mulai dari hulu sebenarnya sudah bermasalah saat ini. Salah satunya yang diungkapkan penelitian Universitas Gajah Mada pada lokasi penambangan bijih nikel di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi  Tengah pada tahun 2017-2018 lalu.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan Geoethics itumengungkapkan kesimpulan berbagai kerusakan yang ditimbulkan penambangan bijih nikel disana.

“Jenis kerusakan komponen lingkungan akibat kegiatan penambangan bijih nikel di Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali telah menyebabkan perubahan bentang alam dari yang berbukit menjadi datar dan berlubang; mengakibatkan hilangnya vegetasi dan habitat fauna terestrial; mengakibatkan penurunan kualitas air permukaan (sungai dan laut) yang berada disekitar wilayah penambangan dan berdampak pada penurunan biota air (ikan),” demikian papar hasil penelitian yang dilakukan oleh Hasnia, Totok Gunawan dan Sigit Herumurti tersebut.

Selain kesimpulan penelitian diatas, dipaparkan juga kalau komponen abiotik dan biotik di daerah penelitian masuk dalam kategori kerusakan berat. Tingkat kerusakan untuk komponen kultural di daerah penelitian masuk dalam kerusakan sedang.

Hasil penelitian diatas baru salah satu contoh dari kerusakan lingkungan yang ditimbulkan lantaran penambangan bijih nikel. Terakhir masih banyak beberapa lokasi penambangan nikel lain yang terindikasi menimbulkan bencana lingkungan, seperti di Halmahera Utara yang menyebabkan kerusakan lingkungan laut sekitar.

Terumbu karang di wilayah Bahubulu, Sulawesi Tengah yang disinyalir terkubur limbah dari penambangan nikel. (dok. Tim Konservasi Kima Toli-Toli)

Bencana Pengolahan

Selain kerusakan lingkungan yang menyebabkan bencana di hulu proses pemanfaatan nikel, ternyata pada proses pengolahan juga berpotensi menimbulkan bencana.  Seperti yang terjadi pada kecelakaan kerja di pabrik pengolahan nikel PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) yang beroperasi di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.  

Kebakaran yang menimpa tungku smelter membuatnya meledak, pada hari Minggu, 24 Desember 2023 lalu. Akibat ledakan menewaskan 13 pekerja didalamnya, yang termasuk sembilan pekerja dari Indonesia dan empat pekerja dari China.

Selain itu, sebanyak 46 korban terluka umumnya karena terkena uap panas saat musibah itu terjadi. Sejumlah 29 korban luka di antaranya dirujuk ke RSUD Morowali, 12 orang sedang dilakukan observasi oleh Klinik IMIP, dan 5 orang lainnya menjalani rawat jalan.

Hasil temuan menunjukkan terbakarnya tungku smelter No. 41 yang semula masih ditutup untuk operasional karena masih dalam tahap pemeliharaan.

“Saat tungku tersebut sedang tidak beroperasi dan dalam proses perbaikan, terdapat sisa slag atau terak dalam tungku yang keluar, lalu bersentuhan dengan barang-barang yang mudah terbakar di lokasi,” tulis keterangan yang disebarkan PT IMIP.

Hal ini yang menyebabkan dinding tungku lalu runtuh dan sisa terak besi mengalir keluar sehingga menyebabkan kebakaran. Akibatnya, pekerja yang berada di lokasi mengalami luka-luka hingga korban jiwa.

Kejadian tersebut kemudian juga menjadi gambaran mengenai buruknya implementasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di pabrik pengolahan nikel di Indonesia. Dari kejadian itu juga mungkin merupakan gambaran besar dari masih buruknya sistem K3 di perusahaan nikel lain yang ada di Indonesia.

Tayangan kebakaran di kawasan IMIP, Sulawesi Tengah, akhir Desember 2023 lalu. (dok pribadi/facebook)

Bencana Paska Pemakaian Baterai

Terhitung bila benar target mengenai kendaraan listrik pada tahun 2030 benar tercapai, berapa banyak baterai yang harus digunakan?

Seperti juga dilansir oleh Institutes for Essential Services Reform (IESR) disebutkan kalau Kementerian Perindustrian Indonesia menargetkan pada tahun 2030 di Indonesia akan beroperasi 600.000 kendaraan listrik roda empat, dan 2,45 juta kendaraan listrik roda dua.

Jadi dapat dibayangkan setidaknya sebanyak itulah jumlah baterai yang akan digunakan untuk mengoperasikan kendaraan-kendaraan tersebut. Belum lagi baterai-baterai cadangan yang harus disiapkan.  Lalu apakah terpikirkan bagaimana dengan baterai yang sudah rusak? Apakah tak akan merusak lingkungan?

IESR sendiri menyebutkan kalau umur baterai mobil listrik hanya bisa bertahan sekitar 10-15 tahun, atau untuk pemakaian sampai sejauh sekitar 200.000 kilometer (km).  Jadi untuk hitungan umur baterai dapat diperkirakan 15 tahun setelah tahun 2030, atau sekitar tahun 2045 Indonesia akan mengalami titik puncak kerusakan lingkungan akibat kontaminasi baterai bekas.

Farid Wijaya dari IESR memaparkan, dunia akan dibanjiri dengan baterai kendaraan listrik yang sudah habis masa pakainya dan perlu dibuang .

“Apabila baterai (kendaraan listrik-red) lithium ion (LIB) bekas dibuang begitu saja dan ditimbun dalam jumlah besar bisa menyebabkan infiltrasi logam berat beracun ke dalam air bawah tanah, yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Begitu juga LIB bekas dibakar sebagai limbah padat, hal tersebut akan menghasilkan sejumlah besar gas beracun. Misalnya hidrogen fluorida (HF) dari elektrolit di dalam LIB, yang dapat mencemari atmosfer”, urai Farid.

Untuk itu, proses daur ulang dibutuhkan untuk memulihkan sebagian besar bahan aktif baterai. Oleh karena itu, penanganan limbah dari baterai bekas ini sangat dibutuhkan.

Menyikapi kemungkinan masalah tersebut kini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mamulai riset untuk mencari solusi daur ulang bahan baterai kendaraan listrik tersebut. Peneliti Pusat Riset Sistem Nanoteknologi – BRIN, Octia Flowerin, mengatakan bahwa daur ulang baterai bekas dapat dilakukan dengan berbagai metode.

“Metode daur ulang baterai bekas yang paling umum adalah pirometalurgi, hidrometalurgi, dan daur ulang secara langsung,” kata Octia kepada kantor berita Indonesia, Antara.

Menurut penjelasannya pirometalurgi adalah metode daur ulang baterai bekas dengan cara memanaskan baterai bekas pada suhu tinggi. Metode ini menghasilkan logam murni, tetapi membutuhkan energi yang besar.

Sementara hidrometalurgi adalah metode daur ulang baterai bekas dengan cara melarutkan logam dari baterai bekas menggunakan larutan kimia. Metode ini menghasilkan logam murni dengan energi yang lebih rendah dari pada pirometalurgi.

Daur ulang secara langsung adalah metode daur ulang baterai bekas dengan cara mengubah baterai bekas menjadi katoda baterai baru. Metode ini membutuhkan energi yang paling rendah, tetapi hanya dapat dilakukan untuk baterai dengan jenis tertentu.

Octia dan timnya mengembangkan metode daur ulang baterai bekas dengan menggunakan hidrometalurgi dan dengan penelitian asam askorbat. “Metode ini menghasilkan logam murni dengan efisiensi yang tinggi dan energi yang rendah,” ungkap Octia lagi.

Namun terlepas dari itu semua solusi yang ada, muncul kembali pertanyaan besar dikepala. Dengan sedemikian banyaknya kemungkinan bencana dari pemakaian nikel, apakah sepadan dengan manfaat yang dihasilkan? (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *