22 Juni 2024
michelle lee
Ia harus menghadapi lima badai, empat topan, merasa gila sendirian, serta membiarkan perahunya menjadi tempat bayi hiu lahir.

Views: 1866

Tahun ini, Michelle Lee menjadi wanita pertama yang mengarungi Samudra Pasifik seorang diri. Setelah menempuh perjalanan ekspedisi epik selama 240 hari, ia mendarat di Queensland, Australia pada tanggal 5 April 2023. Ia yang kemudian menjadi pendayung wanita seorang diri pertama yang melintas Samudra Pasifik.

Lee memulai perjalanan mendayung sejauh 14.000 km dari Ensenada, Meksiko pada 8 Agustus 2022, tiga hari setelah ulang tahunnya yang ke-50.

Lee sendiri sebelumnya pernah mencetak rekor kecepatan wanita untuk mendayung satu juta meter dengan mesin dayung (5 hari, 21 jam, dan 35 menit). Pada tahun 2019, ia menjadi wanita Australia pertama yang mendayung sendirian di samudra manapun saat ia menyeberangi Atlantik dalam acara Talisker Whisky Atlantic Challenge.

Michelle Lee saat mendayung seorang diri melintasi Samudra Pasifik. (Photo. dok. michelle lee)

Awal Ekspedisi yang Penuh Badai

Ekspedisi mendayung di laut bagi Lee dimulai dengan lambat. Selama beberapa minggu pertama, angin dan arus yang sulit mengganggunya. Pada satu titik, terdapat cuaca sangat buruk sehingga ia harus menghubungi ahli meteorologi setiap empat jam sekali untuk mencoba menemukan cara yang paling efisien.

Lee mencoba untuk tetap melihat sisi positifnya. Pada suatu badai, dia memutuskan untuk mendayung tanpa mempedulikan kondisinya karena dia merasa menjadi gila di dalam kabinnya.

“Saya akhirnya mendayung di tengah angin berkecepatan 20 knot dan laut yang besar. Itu sangat mengagumkan bagi saya. Seperti mendobrak batasan baru. Sekarang saya tahu bahwa saya bisa mendayung diantara kecepatan angin 20 knot. Itu rasanya seperti membangun kepercayaan diri,” katanya.

Namun, mendayung melewati badai tidak selalu mudah. Ia harus menghadapi lima badai, empat topan, dan waktu yang lama terjebak di dalam kabin. Topan Gabrielle menyebabkan dia terjebak di dalam kabin paling lama – sembilan hari yang penuh kegalauan. Yang bisa ia lakukan hanyalah duduk di atas jangkar dan mendengarkan ombak menghantam kapalnya.

Peta rute perjalanan Michelle Lee melintas Samudra Pasifik. Garis berwarna biru merupakan rute rencana, dan garis berwarna merah merupakan rute yang kemudian ia jalankan. (dok. michelle lee)

Sendiri dan Kandang Bayi Hiu

Selain ketegangan fisik, rintangan terbesar bagi Lee adalah kesepian. Hidup dalam kesendirian selama delapan bulan itu sulit, dan Lee mengakui banyak mengalami titik terendah. Agar tetap waras, dia mendengarkan 37 buku audio, memainkan ukulele, dan berbicara dengan teman dan keluarga jika memungkinkan.

“Ada obrolan yang sangat panjang di telepon satelit. Kami telah menangis dan tertawa bersama. Kami terus berbicara,” kata salah satu teman Lee kepada kantor berita Australia, ABC saat mereka menunggu Lee mendarat.

Untungnya, satwa liar di Pasifik membantu mengangkat semangatnya. Perhatian terbesar bagi Lee adalah ketika perahunya menjadi tempat lahirnya bayi-bayi hiu. Dia telah dibuntuti oleh dua ekor hiu selama berminggu-minggu dan segera melihat empat bayi hiu berenang di bawah perahunya. Induk hiu akan meninggalkan mereka selama beberapa waktu sebelum kembali. Lee yakin bahwa setelah mengikutinya selama berminggu-minggu, mereka merasa bayi-bayi mereka aman bersamanya. Tak lama kemudian, ada puluhan bayi hiu di sekelilingnya. “Perahu saya telah menjadi kamar bayi. Ini sangat lucu. Semua orang selaras satu sama lain,” tulisnya.

Suatu pagi, Lee keluar dari kabinnya dan mendapati seekor hiu meronta-ronta di atas dek. Sayangnya, dia tidak dapat menolongnya untuk kembali ke air. Yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu hiu itu mati sebelum mengembalikannya ke laut.

Michelle Lee saat berada didalam kabin kapalnya. Menurutnya kadang ia merasa gila sendirian disana. (photo: dok. michelle lee)

Mengarungi Great Barrier Reef

Perjalanan Lee terbukti sulit sampai akhir. Dua angin topan menghantam saat dia melintasi Laut Coral. Lee bergerak ke arah barat, namun sulit untuk memprediksi di pelabuhan mana dia akan mendarat. Angin dan ombak yang kuat mendorongnya keluar jalur. Pendaratannya tertunda beberapa kali dan dia harus bermanuver dengan hati-hati melewati Great Barrier Reef, di dekat Australia.

“Ada banyak hal yang perlu diatur untuk ini, dan harus cukup banyak perencanaan dan strategi,” tulis Lee di blognya. “Ada rencana A, rencana B, dan rencana C. Ini sangat teknis bagi Roger, pengatur cuaca saya, untuk membawa saya menyeberangi Great Barrier Reef pada waktu yang tepat.”

Lee menghabiskan waktu berhari-hari untuk mencoba menavigasi diatara terumbu karang luas dan akhirnya bisa mencapai garis finis. Dia mendayung selama enam jam, berharap bisa mencapai Port Douglas. Namun pada akhirnya, kondisinya menjadi sangat rumit sehingga dia terpaksa memindahkan titik akhirnya sejauh 58 km dari rencana semula.

“Bagian terakhir adalah sebuah perjuangan,” katanya kepada wartawan. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *