16 Juli 2024
pat morrow
“Utamakan menjadi pendaki, sementara mengkoleksi prestasi bisa kemudian. Dengan pemikiran itu, saya menguatkan perasaan ini lagi kalau Carsztens Pyramid benarlah puncak tertinggi di benua Australasia. Seperti juga tujuan utama menjadi seorang pendaki,” ucap Pat diplomatis.

Views: 2668

Entah apa yang ada di kepala Pat Morrow, usai menuntaskan proyek pendakian tujuh puncak tertinggi benua dunia. Yang jelas ia hanya mengucapkan sedikit kata mengenai mimpi, dalam diskusi santai di Universitas Indonesia Salemba puluhan tahun silam.

“Proyek itu sama saja dengan mimpi anda. Bisa saja kita bermimpi macam-macam. Mendaki tujuh gunung di Jawa misalnya. Dan menuntaskannya adalah merupakan kesenangan,” ujarnya.

Dengan gagah, Pat sendiri mengaku kalau petualangannya itu dipengaruhi oleh Reinhold Messner – sang maestro pendakian gunung bersalju. Messner yang kurang setuju dengan persepsi Richard Bass, usai mendaki tujuh puncak tertinggi benua melalui versi puncak benua Australasia adalah Kosciuszko. Ia kemudian menggenapi ralat Messner melalui pendakian terakhirnya di puncak Carsztens Pyramid – Papua, tahun 1986 lalu.  

Setelah itu berbondong-bondong orang mengikuti jejak langkahnya. Termasuk pula tim Mapala UI, yang teracuni mencicipi kenikmatan melihat dari tujuh pucuk tertinggi dunia. Sayangnya baru lima saja yang diselesaikan, sementara dua lainnya masih menjadi pekerjaan rumah yang sulit diselesaikan.

Tujuh Puncak Tertinggi Benua Dunia

“Semua berawal dari mimpi,” tulisnya dalam pesan di e-mail yang saya terima. “Tanpa mimpi kita tak memiliki apapun untuk diperjuangkan,” tuturnya coba berfilosofi, ketika ditanya apa yang merangsang otaknya untuk melakukan pendakian berbahaya tersebut.

Mimpi itu juga yang tampaknya membawa Pat hingga seperti sekarang ini. Punya istri cantik dengan nama Baiba. Berhasil menjadi yang pertama mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Memenangkan berbagai perhargaan sebagai pembuat film petualangan. Salah satunya  di ajang festival dokumentasi film perjalanan paling bergengsi saat ini, Banff Mountain Film Festival.  

Karir Pat sendiri mulai bersinar usai menuntaskan pendakian ke puncak Everest, 1982 lalu. Setelah sebelumnya mendaki ke Mc Kinley di AS dan Aconcagua di Argentina. Usai bertemu Messner, makin menggila ia mengejar mimpi pucuk tujuh benuanya. Bass yang kemudian pertama mengklaim sebagai pendaki pertama di tujuh benua. Namun Pat berpikir serupa dengan Messner. Benua Australasia secara geografis juga mencakup pula Papua. Hingga pucuk untuk benua tersebut bukanlah Kosciuszko di pulau Australia. Melainkan Carsztens Pyramid, di pegunungan Jayawijaya – Indonesia.   Berturut-turut kemudia ia mendaki sisa puncak tujuh benuanya. Mendahului mimpi Messner sebagai yang pertama mencapai puncak tujuh benua versi ralat dari perjalanan Bass. Puncak Elbrus di Rusia dan Kilimanjaro di Afrika dilibasnya dalam satu tahun saja, yaitu tahun 1983. Kemudian dua tahun setelahnya mencapai pucuk Vinson Massif, di Antartika. Setelah mengakhiri perjalanan sensasionalnya di Papua.

Bukunya yang kemudian diterbitkan berjudul Beyond Everest – Quest For the Seven Summits sempat menjadi kontroversi. Banyak pihak kemudian berpolemik mengenai mana yang paling benar dari dua asumsi pucuk tujuh benua yang ada. Namun Pat tetap pada pendiriannya, bahwa terlepas dari itu semua, mendaki ke Carsztens yang berketinggian 4.848 meter, memiliki semangat petualangan yang lebih menantang. Ketimbang mendaki Kosciuszko yang hanya berketinggian 2.228 meter diatas permukaan laut. “Utamakan menjadi pendaki, sementara mengkoleksi prestasi bisa kemudian. Dengan pemikiran itu, saya menguatkan perasaan ini lagi kalau Carsztens Pyramid benarlah puncak tertinggi di benua Australasia. Seperti juga tujuan utama menjadi seorang pendaki,” ucapnya diplomatis.   

Buku karya Pat Morrow, Beyond Everest; Quest for Seven Summits yang memicu gelombang trend pendakian tujuh puncak tertinggi di tujuh benua dunia. (dok. amazon)

Dokumentasi Kemanusiaan

Kini Pat banyak bergelut dalam berbagai proyek dokumentasi, sebagai gambaran perkembangan dirinya. Selain juga mengumpulkan berbagai donasi, untuk tempat-tempat yang dikunjunginya. Bila kita sempat melihat situs pria berwajah menarik ini di internet, jelas akan ternganga melihat aktivitasnya.

Berderet-deret agenda perjalanan telah dilalui. Bersama istrinya, Baiba, yang mantan perawat tapi beralih menjadi fotografer alam bebas. Pat berkelana di banyak pelosok dunia ini. Tahun 2000 membuat film tentang gunung berapi Kamchatka di Rusia. Selain juga melakukan ekspedisi ski di Shishapangma, salah satu dari 14 gunung tertinggi di dunia. 2001, ia melakukan perjalanan ke Pegunungan Kunlum di wilayah China. Dua tahun setelahnya bergiat dalam perjalanan melakukan Parapente (sejenis paralayang) untuk menyebrangi pegunungan Andes. Dalam tahun yang sama melakukan trekking di Bhutan. Selain juga menyempatkan melihat-lihat kumpulan candi di Myanmar dan membuat film mengenai Musashi.  

Sementara aktivitasnya paling terakhir tahun ini. Mengunjungi sekolah-sekolah di wilayah Kashmir. Melihat keadaan mereka usai terkena gempa beberapa waktu lalu. Sembari juga membuat film dokumenter, dan mengirimkannya kepada Institut Asia Tengah, agar dijadikan wacana mengumpulkan dana untuk perbaikan sekolah.

Memang usai menuntaskan film “The Magic Mountain”. Pat seperti menemukan jalan baru hidupnya. Dalam wawancaranya dengan National Geographic, jelas ia mulai menularkan persepsi baru mengenai petualangan. “Mendaki gunung itu menakjubkan,” paparnya. “Tapi mengenali orang-orang disekitarnya, ternyata lebih menakjubkan.”

Pat kini memang lebih menikmati perjalanan dari kota ke kota. Kebanyakan di bagian Tibet. Mengikuti jalan-jalan yang sama dengan orang Nepal sendiri. Melihat-lihat keadaan sekolah disana. Dan mulai mengenali orang-orangnya.

Terakhir pada perjalanan tersebut ia menyinggahi desa-desa di dekat wilayah Pokhara, diketinggian 1.981 meter. Kemudian juga menyambangi Ghandruk, Gurung dan Machhapuchhare. Sampai kemudian menyelesaikannya di desa Annapurna Selatan.

“Tiap-tiap persinggahan yang kami lewati memiliki pemandangan yang spektakuler,” imbuhnya. “Tiap tempat tersebut tampaknya memang teramat indah untuk dijadikan tempat kemping favorit warga dunia,” sumbarnya.

Pat memang telah bertransformasi sekarang. Menurutnya kini petualangan bukanlah hanya mengenai puncak tertinggi. Ada hal lain yang lebih dari hal tersebut. Seperti Nepal misalnya, menurutnya banyak yang menakjubkan di wilayah itu, selain puncak-puncak bersaljunya. “Mereka ada untuk mengubah kita, bukannya untuk kita rubah,” urainya dengan skeptis.

Mungkin pandangan baru itu juga terjadi karena kematian salah seorang sherpa yang dikenalnya, tahun 2003 lalu. Lhakpa Tsering namanya. Tepat awal tahun Januari, ia meninggalkan dunia. Memberikan kesedihan tak terperi bagi Pat sebenarnya. Untuk meneruskan rasa cinta yang terputus itu, ia memutuskan membuat yayasan untuk pencarian dana bagi anak-anak Lhakpa yang ada saat ini. “Kepada siapa lagi kita meneruskan rasa cinta yang terputus, selain kepada apa yang ditinggalkannya,” ujar Pat, memberikan pendapat mengenai hal ini.

Lhakpa sendiri dikenal Pat ketika melakukan pendakian ke Everest. Setelah itu seperti ada keterikatan diantara mereka berdua. Karena pada pendakian di tahun 1982 itu, secara bersamaan mereka merasakan puncak Everest pertamakali.

Lhakpa kemudian banyak membantu dibeberapa ekspedisi susulan Pat di sekitar wilayah itu. seperti pada ekspedisi pendaki Kanada tahun 1991. Jadi buat Pat, Lhakpa bukanlah orang lain. Dengan dana itu pula, kemudian Pat jadi lebih banyak mengenal kehidupan orang-orang Nepal. Terutama di wilayah Lhakpa tinggal, yaitu di region Lhadakh. Termasuk mengenal para biksu yang menjadi tempatnya singgah tiap-tiap melewati lagi wilayah tersebut.

Karena minat barunya itu juga kemudian lahir film “The Magic Mountain”. Film ini yang kemudian mendapat peghargaan sebagai film pilihan pemirsa, pada festival Banff Mountain Film Festival tahun 2005 lalu. Film itu sendiri bertema mengenai berbagai keajaiban yang ditemukan Pat, selain puncak-puncak salju yang menantang di Nepal.

Pat bersama istrinya, Baiba masih kerap bertualang hingga saat ini. Foto diatas merupakan perjalanan Pat dan Baiba di Taman Nasional Fiordland, Selandia Baru. (dok. patmorrow.com)

Filosofi Pat

Begitulah Pat, seperti air mengalir saja adanya. Memulai karir sebagai penulis dan petualang. Kemudian merasa perlu mengembangkan karirnya sebagai fotografer alam bebas. Hingga kemudian melebarkan sayap petualangan melalui film-film yang terus diproduksinya.

Salah satu produksi teranyarnya merupakan film permainan hoki di ketinggian 3.747 meter diatas permukaan laut. Film ini sendiri merupakan dokumentasi kegiatan orang Kanada di wilayah New Delhi, yang merasa perlu mengembangkan olahraga ski di wilayah bernama Leh di Nepal.

Kini dalam foto-foto yang dipajang disitusnya. Pat jelas menerangkan bagaimana kegembiraan bocah-bocah kecil, saat mencoba sepatu ski sumbangan pertama untuk mereka. Mungkin dengan sepatu ski tersebut, Pat coba menularkan sajak-sajak pilihannya yang juga termuat di halaman awal homepage-nya.

Sajak-sajak itu memuat kerugian bagi orang yang tak pernah mencari.

There is no happiness for him who does not travel!
Thus we have heard.
Living in the society of men,
the best man becomes a sinner?
Therefore, wander!
The fortune of him who is sitting, sits;
It rises when he rises;
It sleeps when he sleeps;
It moves when he moves.
Therefore, wander!

       – Aitreya Brahmanan,
         the Rigveda (800-600 BC)

Penulis : Sulung Prasetyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *