22 Juni 2024
dayung jelajah nusantara
Tim Ekspedisi Dayung Jelajah Nusantara (DJN) dari Wanadri akhirnya sukses mengelilingi pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggunakan kayak laut. Keseluruhan jarak yang ditempuh mencapai 1.059, 89 kilometer (km), selama 60 hari.

Views: 849

Tim Ekspedisi Dayung Jelajah Nusantara (DJN) dari Wanadri akhirnya sukses mengelilingi pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggunakan kayak laut. Keseluruhan jarak yang ditempuh mencapai 1.059, 89 kilometer (km), selama 60 hari.

“Tujuan utama ekspedisi ini adalah untuk menegaskan pada masyarakat dunia bahwa Indonesia merupakan lokasi petualangan pesisir tropis terbaik”, urai Yoppi Saragih, Ketua Ekspedisi DJN Wanadri.

Selain itu ekspedisi ini ingin menegaskan dan mendalami kembali seni mendayung sebagai warisan budaya Nusantara. Sementara tujuan yang lain ekspedisi ini adalah penanda dimulainya ekspedisi berseri Dayung Jelajah Nusantara yang akan mengelilingi pulau-pulau besar di Indonesia.

Menurut keterangan tim mulai mendayung dari Labuan Bajo pada tanggal 7 Agustus 2023, dan melalui etape pertama yang berakhir di Maumere dan mendarat pada 24 Agustus 2023. Rute etape kedua adalah dari Maumere ke Ende. Pada etape kedua mereka mendarat pada 14 September 2023. Serta etape ketiga yaitu Ende ke Labuan Bajo, berhasil mendarat pada 5 Oktober 2023.

Dalam pertualangan kayak laut, setiap malam tim selalu berkemah. Total 41 camp telah dilalui oleh tim. Tim menemukan bahwa meskipun konsentrasi pariwisata di Flores terbatas di beberapa titik, namun keindahan alam Flores tersebar di seluruh pesisir Flores, di 8 kabupaten, baik pesisir utara maupun selatan.

Biota pinggir laut seperti kelelawar juga ditemui dalam perjalanan Ekspedisi Dayung Jelajah Nusantara (DJN) yang digelar perkumpulan Wanadri. (dok. Tim Ekspedisi DJN)

Tantangan

Tantangan terbesar bagi tim ekspedisi adalah arah angin yang bertiup dari Timur. Hal ini membuat pendayungan menjadi lebih berat karena melawan arah angin. Sementara saat mendayung di Selatan Pulau Flores, gelombang alun dan ombak di sepanjang pesisir yang berhadapan dengan Laut Sawu menjadi tantangan terbesar.

“Tinggi gelombang dan ombak cukup tinggi bagi pengarungan dengan kayak sehingga tim terkadang perlu menunda keberangkatan”, urai Yoppi lagi.

Selain angin dan ombak, ada Selat Gonzalo di ujung timur Larantuka dan Selat Molo di bagian barat Flores yang cukup menantang. Untuk mengatasi selat-selat tersebut, tim di bantu dengan para penggiat petualangan di Flores, dan warga yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka membantu dengan memperkirakan arah arus berdasarkan jadwal pasang surut. Dengan perhitungan yang baik, dipilihlah waktu melewati selat yang ideal, yaitu saat arus mendorong perjalanan dengan kekuatan yang masih relatif lemah.

Keseluruhan anggota tim Ekspedisi Dayung Jelajah Nusatara (DJN) yang dilakukan perkumpulan Wanadri di Flores berfoto bersama dengan penduduk Nusa Tenggara Timur. (dok. Tim DJN)

Apresiasi

Keberhasilan tersebut juga diapresiasi oleh banyak pihak. Termasuk oleh Sea Kayak Indonesia, melalui perwakilannya Muhamad Saleh Alatas. Menurut Saleh dalam wawancara di akun Instagram Galih Donikara menyebutkan kalau ia merasa kegiatan tersebut merupakan hal yang luar biasa.

“Mudah-mudahan bisa memotivasi anak muda agar berani berkegiatan di laut. Sebab kita yang memiliki lautan terluas, tapi yang menguasai bukan anak bangsa sendiri”, ujar Saleh.

Menurut rencana penerbitan karya dokumentasi lain juga akan melengkapi rangkaian ekspedisi ini. Meliputi penerbitan buku Flores Sea Kayak Expedition; buku Berkayak di Lautan Tropis/Sea Kayaking on Tropical Waters; pameran foto, dan beberapa kegiatan lain sebagai sasaran publikasi dari tim ekspedisi. (pr/sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *