gurita

Oleamide dari Sampah Plastik Ganggu Perilaku Satwa Laut, Jadi Tak Sadar Akan Dimangsa

Views: 0

Selama ini kita mengenal polusi plastik sebagai ancaman fisik bagi satwa laut. Penyu terjerat, paus mati dengan perut penuh sampah, burung laut menelan serpihan mikroplastik. Namun, ancaman plastik ternyata tidak berhenti pada bentuk kasat mata. Ada bahaya lain yang lebih halus dan senyap, zat kimia yang larut dari plastik dan mengacaukan perilaku satwa laut.

Salah satu zat tersebut adalah oleamide.

Senyawa ini sebenarnya bukan zat asing di alam. Oleamide merupakan turunan asam lemak yang juga diproduksi secara alami oleh beberapa organisme, termasuk hewan. Dalam sistem biologis, oleamide dikenal sebagai molekul yang dapat memengaruhi aktivitas saraf dan perilaku. Namun ketika senyawa yang sama dilepaskan dari plastik ke lingkungan laut dalam konsentrasi tidak alami, dampaknya bisa berubah drastis.

Dari Industri Plastik ke Perairan Laut

Dalam industri plastik, oleamide digunakan sebagai slip additive—zat tambahan yang membuat permukaan plastik lebih licin dan tidak mudah saling menempel saat diproduksi atau digunakan. Zat ini umum terdapat pada kemasan makanan, kantong plastik, dan berbagai produk polimer lainnya.

Masalahnya muncul ketika plastik-plastik ini berakhir di laut. Terpapar sinar matahari, gesekan ombak, dan degradasi fisik-kimia, plastik akan melepaskan berbagai senyawa kimia ke dalam air. Proses ini disebut leaching. Oleamide termasuk salah satu zat yang dapat larut dari material plastik tersebut.

Konsentrasi kecil mungkin tampak tidak berbahaya. Namun laut adalah ruang kehidupan yang sangat bergantung pada sinyal kimia. Di dalam air yang luas dan sering kali keruh, banyak satwa laut mengandalkan “bahasa kimia” untuk bertahan hidup.

Laut yang Berbicara Lewat Sinyal Kimia

Berbeda dengan hewan darat yang mengandalkan penglihatan atau suara dalam jarak jauh, banyak organisme laut—terutama invertebrata—bergantung pada molekul kimia terlarut untuk membaca lingkungan.

Mangsa mendeteksi keberadaan predator melalui jejak kimia. Predator mengenali mangsa melalui sinyal metabolik yang dilepaskan ke air. Bahkan proses reproduksi dan orientasi habitat pun sering dipandu oleh zat kimia spesifik.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, Maret 2026 menunjukkan bahwa oleamide yang terlepas dari plastik dapat mengubah interaksi predator–mangsa di laut.

“Kami menemukan bahwa senyawa yang terlepas dari plastik mampu mengganggu komunikasi kimia yang sangat penting bagi hewan laut,” kata Madelyn A. Hair, penulis pertama studi tersebut.

Menurut Hair, perubahan yang diamati dalam eksperimen laboratorium bukanlah efek toksik yang langsung mematikan, melainkan perubahan perilaku yang lebih halus. “Yang kami lihat adalah perubahan cara predator dan mangsa berinteraksi. Ini menunjukkan bahwa polusi plastik bisa mengubah dinamika ekologi tanpa harus menyebabkan kematian langsung,” ujarnya.

Madelyn A. Hair mengembalikan seekor gurita ke lokasi penangkapannya setelah hewan tersebut berpartisipasi dalam penelitian. Karena oleamide merupakan senyawa yang terjadi secara alami dan tidak beracun, izin penelitian memperbolehkan hewan itu dilepaskan kembali setelah menjalani masa pemantauan pasca-eksperimen selama tujuh hari. (Photo: Chelsea Bennice, Florida Atlantic University)

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Eksperimen dan Temuan Penting

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan memaparkan invertebrata laut—baik predator maupun mangsa—pada air yang mengandung oleamide dalam konsentrasi yang relevan dengan kondisi laut tercemar plastik.

Hasilnya mengejutkan. Mangsa menunjukkan respons yang lebih lemah terhadap sinyal bahaya. Predator memperlihatkan perubahan pola pendekatan dan preferensi mangsa. Intensitas interaksi meningkat dalam beberapa kondisi, tetapi tidak selalu diikuti oleh peningkatan konsumsi.

“Interaksi predator–mangsa adalah fondasi dari jaring makanan laut,” jelas Michael W. McCoy, penulis senior penelitian ini dari Florida Atlantic University. “Jika komunikasi kimia yang mendasari interaksi itu terganggu, maka dampaknya bisa menjalar ke seluruh struktur komunitas.”

McCoy menekankan bahwa efek seperti ini sulit terdeteksi di alam liar karena tidak menghasilkan peristiwa dramatis. “Tidak ada bangkai massal atau kejadian mencolok. Yang terjadi adalah perubahan kecil dalam perilaku, tetapi jika berlangsung terus-menerus, konsekuensinya bisa besar,” katanya.

Gangguan Kecil, Dampak Sistemik

Ekosistem laut bekerja seperti jaringan rumit. Setiap spesies terhubung melalui hubungan makan-dimakan yang kompleks. Jika mangsa menjadi kurang peka terhadap predator, tingkat predasi dapat meningkat. Sebaliknya, jika predator menjadi kurang efektif karena sinyal kimia yang membingungkan, populasi mangsa tertentu bisa melonjak.

Perubahan seperti ini dapat menggeser keseimbangan populasi dan memicu efek berantai pada spesies lain.

Oleamide menunjukkan bahwa plastik bukan sekadar benda mati yang mengapung atau tenggelam. Ia membawa “jejak kimia” yang aktif berinteraksi dengan sistem biologis laut.

Lebih dari Sekadar Mikroplastik

Selama ini perdebatan publik sering terfokus pada mikroplastik sebagai partikel yang tertelan organisme. Namun penelitian ini mengingatkan bahwa bahaya plastik juga terletak pada zat aditifnya.

Plastik dirancang dengan berbagai bahan tambahan untuk meningkatkan fleksibilitas, daya tahan, dan kemudahan produksi. Ketika plastik menjadi limbah dan memasuki laut, zat-zat ini ikut terlepas.

Oleamide hanyalah satu contoh. Masih banyak senyawa lain yang kemungkinan memiliki efek serupa tetapi belum sepenuhnya dipahami.

Gangguan akibat oleamide mungkin tidak terlihat oleh mata manusia. Namun bagi organisme laut yang hidup dalam dunia sinyal kimia, perubahan ini bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

gorilla and butterfly

Pemenang World Nature Photography Awards 2026, Wajah Sunyi dalam Kenyataan Ekologi

sampah plastik di pinggir laut

Cari Solusi Sampah Samudera, Peneliti Temukan Plastik Paling Cepat Hancur Kena Air Laut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *