ikan

Pemanasan Laut Pangkas Jumlah Ikan Dunia

Views: 0

Jumlah ikan di laut dunia terus menyusut seiring meningkatnya suhu laut akibat perubahan iklim, menurut sebuah studi global terbaru yang memperingatkan bahwa pemanasan kronis lautan kini menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya stok ikan dunia.

Penelitian yang diterbitkan pada 25 Februari 2026 di jurnal ilmiah Nature Ecology & Evolution menganalisis lebih dari 702.000 estimasi biomassa dari hampir 34.000 populasi yang mewakili 1.566 spesies di berbagai perairan utama belahan Bumi utara antara 1993 hingga 2021. Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah yang mengalami pemanasan lebih cepat mencatat penurunan biomassa ikan hingga hampir 20 persen per tahun.

Shahar Chaikin, peneliti utama studi tersebut, mengatakan tren ini konsisten dan mengkhawatirkan. “Ketika suhu laut meningkat secara bertahap dari tahun ke tahun, jumlah ikan cenderung menurun secara konsisten,” ujarnya. Menurutnya, pemanasan kronis berbeda dengan fluktuasi musiman atau kejadian ekstrem jangka pendek. “Ini adalah tekanan latar belakang yang terus berlangsung dan berdampak luas pada populasi ikan.”

Biomassa ikan merujuk pada total berat populasi ikan di suatu wilayah. Penurunan biomassa berarti lebih sedikit ikan yang tersedia, baik bagi ekosistem laut maupun bagi industri perikanan. Dalam jangka panjang, tren ini dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan dan mengurangi hasil tangkapan nelayan.

Pemanasan Laut dan Penyusutan Ikan

Studi tersebut menemukan bahwa pemanasan laut jangka panjang berasosiasi langsung dengan penyusutan biomassa di berbagai kawasan penting seperti Atlantik Utara, Pasifik Timur Laut, dan Laut Mediterania. Dalam banyak kasus, penurunan terlihat berlangsung stabil selama hampir tiga dekade terakhir.

Miguel B. Araújo, salah satu penulis studi, mengatakan bahwa laut yang lebih hangat secara umum menghasilkan lebih sedikit ikan. “Kita melihat pola yang berulang di berbagai wilayah. Pemanasan kronis mengurangi kapasitas ekosistem untuk mempertahankan jumlah ikan seperti sebelumnya,” katanya.

Suhu yang lebih tinggi meningkatkan kebutuhan energi ikan untuk bertahan hidup. Namun, ketersediaan makanan tidak selalu bertambah. Selain itu, air hangat mengandung lebih sedikit oksigen terlarut, mempersempit kondisi ideal bagi banyak spesies. Tekanan fisiologis ini dapat mengurangi tingkat pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup ikan.

Gelombang Panas Laut Bukan Solusi

Penelitian ini juga membedakan antara dampak pemanasan jangka panjang dan gelombang panas laut yang terjadi secara tiba-tiba. Gelombang panas dapat menyebabkan lonjakan sementara jumlah ikan di wilayah yang lebih dingin, tetapi peneliti menegaskan bahwa efek tersebut tidak mengimbangi kerugian global.

Di wilayah yang sudah hangat, gelombang panas laut justru memperparah penurunan biomassa, dengan beberapa populasi mengalami penurunan lebih dari 40 persen dalam periode tertentu. Sementara di ujung dingin distribusi spesies, terjadi peningkatan sementara yang dapat memberi kesan keliru bahwa stok ikan membaik.

Araújo memperingatkan bahwa lonjakan lokal tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai pemulihan. “Secara global, tren tetap menunjukkan penurunan. Lonjakan sementara tidak dapat menggantikan kerugian yang terjadi di wilayah lain,” ujarnya.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Perikanan Dunia

Penurunan jumlah ikan akibat perubahan iklim datang di saat banyak stok ikan dunia sudah tertekan oleh penangkapan berlebihan. Selama beberapa dekade, eksploitasi berlebih telah melemahkan ketahanan populasi ikan. Kini, pemanasan laut menambah tekanan tambahan yang memperkecil peluang pemulihan.

Ketika suhu meningkat, banyak spesies bergerak menuju perairan yang lebih dingin atau ke kedalaman yang lebih besar. Pergeseran ini mengubah pola distribusi tangkapan dan dapat menciptakan ketidakpastian baru bagi nelayan. Wilayah yang sebelumnya produktif mungkin mengalami penurunan hasil tangkapan, sementara daerah lain hanya mengalami peningkatan sementara sebelum akhirnya terdampak oleh tren pemanasan jangka panjang.

Bagi negara-negara yang bergantung pada ikan sebagai sumber protein utama dan mata pencaharian, tren ini menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi. Penurunan biomassa berarti hasil tangkapan yang lebih kecil, pendapatan yang menurun, serta meningkatnya persaingan atas sumber daya laut yang semakin terbatas.

Para peneliti menekankan pentingnya kebijakan perikanan yang adaptif dan berbasis sains. Kuota tangkapan dan strategi pengelolaan tidak lagi bisa hanya mengandalkan data historis ketika kondisi lingkungan berubah dengan cepat. Perencanaan jangka panjang harus mempertimbangkan tren pemanasan laut yang terus berlanjut.

Secara global, perikanan kini menghadapi kombinasi tekanan yang kompleks. Penangkapan berlebihan, degradasi habitat, polusi, serta dampak perubahan iklim. Pemanasan laut meningkatkan frekuensi gelombang panas, mengurangi kadar oksigen, dan mengganggu dinamika ekosistem. Semua faktor ini berkontribusi pada berkurangnya jumlah ikan di laut. (Sulung Prasetyo)

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Lanjut lagi...

sepatu mendaki gunung

8 Trik Pilih Sepatu Gunung, Dijamin Nggak Bikin Malu Didepan Pendaki Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *