padang lamun

Gelombang Panas Laut Ancam Padang Lamun Tropis

Views: 1

Padang lamun di berbagai belahan dunia menghadapi ancaman yang semakin nyata akibat pemanasan laut. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal New Phytologist, Desember 2025 mengungkap bahwa lamun di wilayah tropis merupakan yang paling rentan terhadap gelombang panas laut dibandingkan dengan lamun di wilayah beriklim sedang.

Studi tersebut dipimpin oleh Nicole Said, kandidat doktor dari Edith Cowan University, bersama tim peneliti internasional. Penelitian ini meneliti toleransi termal enam spesies lamun di Australia dan menemukan adanya variasi besar dalam kemampuan bertahan terhadap suhu ekstrem — baik antarspesies maupun antar-populasi dalam satu spesies yang sama.

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup terendam di perairan laut dangkal. Ekosistem ini berperan penting sebagai habitat pembesaran ikan dan invertebrata, penyerap karbon biru, serta pelindung garis pantai dari erosi. Namun, meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas laut kini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan ekosistem tersebut.

Perbedaan Toleransi Hingga 10 Derajat

Penelitian menemukan bahwa perbedaan toleransi panas antarspesies lamun dapat mencapai sekitar 10 derajat Celsius. Bahkan dalam satu spesies yang sama, populasi yang hidup hanya beberapa kilometer terpisah menunjukkan selisih toleransi hingga 4 derajat Celsius.

“Beberapa populasi lebih siap menghadapi panas, dan dalam beberapa kasus, yang lebih tahan bahkan bisa tumbuh hanya beberapa kilometer dari yang lebih rentan,” kata Nicole Said dalam rilis resmi penelitian.

Temuan ini menunjukkan bahwa respons lamun terhadap pemanasan laut tidak seragam. Sebagian spesies dan populasi mungkin memiliki ketahanan relatif lebih baik, sementara yang lain berada pada ambang batas fisiologisnya.

Yang paling mengkhawatirkan, lamun di wilayah tropis hidup lebih dekat dengan batas suhu maksimum yang dapat mereka toleransi. Artinya, kenaikan suhu yang relatif kecil saat terjadi gelombang panas laut dapat langsung melampaui ambang toleransi biologis mereka.

Dampak Gelombang Panas Laut

Gelombang panas laut adalah periode ketika suhu permukaan laut meningkat jauh di atas rata-rata musiman selama beberapa hari hingga berbulan-bulan. Fenomena ini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global.

Ketika suhu air melonjak, proses fotosintesis lamun terganggu. Struktur sel dapat rusak, produktivitas menurun, dan jaringan tanaman mengalami kematian. Dalam skala besar, kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya padang lamun secara luas.

Marnie L. Campbell, Dekan Eksekutif Fakultas Sains di Edith Cowan University dan salah satu peneliti senior dalam studi tersebut, menegaskan bahwa pendekatan konservasi harus beradaptasi dengan realitas pemanasan global.

“Cara kita melindungi dan memulihkan lamun harus berubah karena iklim terus memanas,” ujarnya.

Kehilangan padang lamun berdampak luas. Selain mengurangi habitat bagi berbagai spesies laut, degradasi lamun juga mengurangi kemampuan ekosistem menyerap dan menyimpan karbon. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperburuk perubahan iklim.

Representasi visual spesies lamun yang dikumpulkan di setiap lokasi sepanjang gradien lintang (23°LS–33°LS; sekitar 1.000 km). Batas pertumbuhan paling utara dari setiap spesies merepresentasikan wilayah terhangat tempat spesies tersebut ditemukan; namun, Amphibolis griffithii tidak diambil sampelnya dari populasi paling utaranya (Geraldton).
Perbandingan antarspesies dapat dilakukan di wilayah beriklim sedang Perth untuk keenam spesies, di Shark Bay yang beriklim subtropis untuk tiga spesies (Posidonia australis, Amphibolis antarctica, dan Halophila ovalis), serta di Coral Bay yang beriklim tropis untuk dua spesies (A. antarctica dan H. ovalis).
Perbandingan pada tingkat populasi dapat dilakukan untuk Posidonia sinuosa (wilayah beriklim sedang), P. australis (beriklim sedang dan subtropis), A. antarctica (beriklim sedang, subtropis, dan tropis), serta H. ovalis (beriklim sedang, subtropis, dan tropis).
Pada skala lokal, P. sinuosa juga diambil sampelnya di empat lokasi dalam wilayah Pert

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Strategi Restorasi Berbasis Ketahanan Iklim

Salah satu temuan penting studi ini adalah adanya variasi toleransi panas di tingkat populasi lokal. Informasi ini membuka peluang untuk mengembangkan strategi restorasi berbasis ketahanan iklim.

Menurut Said, populasi yang lebih tahan panas dapat dimanfaatkan dalam program rehabilitasi untuk menciptakan padang lamun yang lebih siap menghadapi kenaikan suhu di masa depan. Pendekatan ini dikenal sebagai pembangunan ekosistem yang “climate-ready”.

Namun, para peneliti menekankan bahwa restorasi tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap spesies dan lokasi memerlukan pendekatan spesifik, termasuk mempertimbangkan kedalaman perairan, kondisi substrat, serta tekanan lingkungan lainnya.

Meski demikian, para ilmuwan juga mengingatkan bahwa adaptasi memiliki batas. Jika pemanasan laut terus berlanjut tanpa pengurangan emisi global, bahkan populasi yang relatif lebih tahan dapat mencapai titik kritis.

Relevansi bagi Padang Lamun di Indonesia

Temuan ini sangat relevan bagi Indonesia, negara kepulauan tropis dengan salah satu kawasan padang lamun terbesar dan paling beragam di dunia. Perairan Indonesia secara alami sudah hangat sepanjang tahun, sehingga banyak spesies lamun kemungkinan hidup dekat dengan batas toleransi termalnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, perairan Indonesia juga mengalami peningkatan kejadian gelombang panas laut yang berdampak pada terumbu karang dan ekosistem pesisir lainnya. Jika tren ini berlanjut, padang lamun Indonesia berpotensi menghadapi tekanan serupa seperti yang ditemukan dalam studi di Australia.

Selain perubahan iklim, padang lamun di Indonesia menghadapi tekanan tambahan berupa sedimentasi dari daratan, pencemaran nutrien dan limbah, reklamasi pantai, serta aktivitas perkapalan. Kombinasi stres panas dan tekanan lokal dapat mempercepat degradasi ekosistem.

Karena padang lamun berperan penting dalam penyimpanan karbon biru, perlindungan garis pantai, serta mendukung perikanan dan mata pencaharian masyarakat pesisir, pemahaman tentang toleransi panas spesies lokal menjadi krusial.

Penelitian yang dipimpin Nicole Said dan timnya memberikan dasar ilmiah penting bagi negara-negara tropis, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan strategi konservasi dan restorasi lamun yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Tanpa langkah mitigasi dan pengelolaan yang lebih serius, ekosistem padang lamun tropis berisiko mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade mendatang. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

gigi hiu

Sejak Kapan Manusia Memakan Hiu? Dari Bertahan Hidup Hingga Kini Dilarang

sungai citarum

Teknologi Satelit Buka Cara Baru Memantau Sampah Plastik Sungai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *