gorilla and butterfly

Pemenang World Nature Photography Awards 2026, Wajah Sunyi dalam Kenyataan Ekologi

Views: 0

Ajang fotografi alam selalu lebih dari sekadar kompetisi estetika. Foto-foto pemenang World Nature Photography Awards 2026 bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang hubungan manusia dan planet yang kian rapuh.

Tahun ini, gambar-gambar yang terpilih memperlihatkan dua wajah bumi. Keindahan yang menakjubkan dan kenyataan ekologis yang tak bisa lagi diabaikan.

Paus Putih dari Laut Selatan

Salah satu foto paling menyita perhatian adalah potret seekor anak paus bungkuk berwarna putih yang berenang bersama induknya di perairan Tonga. Fenomena paus putih sangat jarang terjadi, menjadikannya bukan hanya subjek visual yang dramatis, tetapi juga simbol keajaiban biologis yang masih tersisa di lautan kita.

Foto itu menangkap momen intim, tubuh kecil yang kontras dengan birunya laut, bergerak dekat sang induk. Dalam satu bingkai, kita melihat kelembutan, perlindungan, dan misteri alam. Namun, di balik keindahannya, terselip pertanyaan besar. Sampai kapan habitat seperti ini tetap aman dari tekanan industri, polusi, dan perubahan iklim?

Di sinilah kekuatan fotografi bekerja. Ia tidak berteriak, tetapi membuat kita diam — dan berpikir.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

“Berbagi momen ini bersama Mãhina dan induknya yang protektif adalah kenangan yang akan hidup bersama saya selamanya. Tanpa diragukan lagi, itu adalah salah satu hari paling luar biasa yang pernah saya alami di lautan — dan mungkin sepanjang hidup saya,” — Jono Allen.
Anak paus bungkuk putih, Vava’u, Tonga. Peraih medali emas kategori Bawah Air sekaligus World Nature Photographer of the Year.
Foto: Jono Allen/World Nature Photography Awards.

Satwa Liar dan Realitas yang Berubah

Selain kategori bawah laut, sejumlah foto satwa liar darat juga mencuri perhatian. Seekor beruang coklat yang menerjang arus sungai demi menangkap salmon memperlihatkan energi liar yang masih bertahan di alam bebas. Sementara itu, gambar lain memperlihatkan beruang kutub yang mencari makan di dekat pemukiman manusia — adegan yang lebih gelap, lebih mengganggu.

Kontras ini penting. Kompetisi ini tidak hanya memilih gambar yang “indah”, tetapi yang relevan secara ekologis. Urbanisasi, mencairnya es, dan menyempitnya habitat bukan lagi isu abstrak. Mereka hadir dalam tubuh hewan yang terdokumentasi secara nyata.

Beberapa foto lanskap dari kawasan seperti Antarctica menampilkan hamparan es yang luas dan sunyi. Sekilas tampak abadi, tetapi kita tahu kenyataannya: wilayah tersebut adalah salah satu indikator paling sensitif terhadap pemanasan global. Keheningan visual dalam foto justru memperkuat kegentingannya.

Charlie Wemyss-Dunn memotret seekor beruang coklat yang sedang memburu salmon sockeye di Taman Nasional Katmai, Alaska, dalam sebuah gambar berjudul “Splash.”
Charlie Wemyss-Dunn/World Nature Photography Awards
Dalam foto berjudul “Trash Trail Temptations” karya Robert Gloeckner, seekor beruang kutub memeriksa tumpukan limbah elektronik di Churchill, Manitoba, Kanada, sebuah kota yang kerap dijuluki “ibu kota beruang kutub dunia.”
Robert Gloeckner/World Nature Photography Awards

Lebih dari Sekadar Estetika

World Nature Photography Awards dikenal mendorong fotografi yang memiliki dampak lingkungan. Kompetisi ini menerima ribuan entri dari puluhan negara, mencerminkan keragaman perspektif dan ekosistem global — dari sabana Afrika hingga hutan hujan tropis, dari dasar laut hingga puncak gunung.

Yang menarik, banyak foto pemenang tahun ini tidak hanya fokus pada kemegahan lanskap atau satwa karismatik. Ada kategori yang menyoroti interaksi manusia dengan alam — baik yang harmonis maupun yang problematik. Pendekatan ini memperluas makna fotografi alam, bukan lagi sekadar dokumentasi satwa, tetapi refleksi hubungan timbal balik antara manusia dan bumi.

Dalam konteks media visual yang sering didominasi sensasi cepat, galeri ini terasa berbeda. Ia mengajak pembaca memperlambat ritme, menatap detail, dan menyadari bahwa setiap gambar adalah hasil kesabaran, empati, dan pemahaman ekologi yang mendalam.

Preeti dan Prashant Chacko dari Uni Emirat Arab menjadi pemenang kategori hitam-putih atas foto mereka yang menangkap perjumpaan antara badak dan burung kuntul di Solio Game Reserve, Kenya.
Preeti dan Prashant Chacko/World Nature Photography Awards

Fotografi sebagai Bahasa Konservasi

Mengapa kompetisi seperti ini penting?

Karena data ilmiah sering kali sulit menjangkau emosi publik. Angka tentang kenaikan suhu global atau penurunan populasi spesies memang penting, tetapi tidak selalu menyentuh sisi personal kita. Sebaliknya, satu foto yang kuat bisa memicu rasa kagum, sedih, atau bahkan rasa tanggung jawab.

Fotografi alam bekerja sebagai jembatan antara sains dan perasaan. Ia menerjemahkan fakta menjadi pengalaman visual. Ketika kita melihat anak paus putih berenang bebas, kita tidak hanya melihat spesies langka — kita melihat masa depan yang mungkin masih bisa diselamatkan.

Kompetisi ini juga mengingatkan bahwa keanekaragaman hayati masih ada. Di tengah berita tentang kebakaran hutan, polusi plastik, dan krisis iklim, foto-foto ini menunjukkan bahwa bumi belum sepenuhnya kehilangan keajaibannya.

Seekor jerapah membuat air menari dalam foto berjudul “Water Ballet” karya Vaidehi Chandrasekar dari Singapura, yang diambil di Sungai Boteti, Taman Nasional Makgadikgadi Pans, Botswana.
Vaidehi Chandrasekar

Narasi Global, Tanggung Jawab Bersama

World Nature Photography Awards 2026 memperlihatkan bahwa isu lingkungan bersifat lintas batas. Tidak ada negara yang berdiri sendiri dalam menghadapi perubahan iklim dan degradasi habitat. Foto-foto yang masuk berasal dari berbagai belahan dunia, membuktikan bahwa kepedulian terhadap alam adalah bahasa universal.

Namun, apresiasi saja tidak cukup. Setiap gambar seakan menyampaikan pesan tak tertulis: keindahan ini rapuh. Tanpa kebijakan yang kuat, tanpa perubahan perilaku, dan tanpa kesadaran kolektif, momen-momen seperti yang tertangkap kamera bisa menjadi kenangan semata. (Sulung Prasetyo)

Lanjut lagi...

summit attack

Apa Itu Summit Attack? Arti dan Strategi Menuju Puncak dalam Pendakian Gunung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *