Views: 5
Sebagian besar sampah plastik yang mengalir dari sungai ke laut ternyata tidak tersebar merata sepanjang tahun. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa sekitar 90% plastik berukuran sedang yang terbawa sungai terjadi hanya selama periode banjir yang relatif singkat.
Penelitian yang dipimpin Mamoru Tanaka dari Tokyo University of Science itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Water Research pada Maret 2026. Studi ini menyoroti bagaimana hujan ekstrem dan peningkatan debit air sungai menjadi faktor kunci dalam lonjakan transportasi sampah plastik menuju laut.
“Jika kita tidak mengamati periode aliran tinggi seperti saat banjir, kita akan sangat meremehkan jumlah plastik yang sebenarnya dipindahkan sungai setiap tahun,” kata Tanaka dalam pernyataan resminya.
Banjir Jadi Momen Kritis Transportasi Plastik
Tim peneliti melakukan pengamatan di empat sungai di Jepang dengan karakteristik daerah tangkapan air dan kepadatan penduduk yang berbeda. Mereka mengukur debit air serta konsentrasi plastik dalam berbagai kondisi aliran, terutama saat hujan deras dan banjir.
Hasilnya menunjukkan pola yang mencolok. Sekitar 90% dari total massa mesoplastik—fragmen plastik berukuran lebih besar dari mikroplastik—terangkut hanya dalam sekitar 43 hari dalam setahun. Periode tersebut setara dengan kurang dari 12% dari total waktu tahunan, namun menyumbang hampir seluruh beban plastik yang mengalir ke hilir.
Mesoplastik mencakup potongan kemasan, fragmen botol, atau serpihan plastik lain yang cukup kecil untuk terbawa arus tetapi masih terlihat secara kasat mata. Selain mesoplastik, peneliti juga mengamati pola serupa pada mikroplastik, meskipun peningkatannya tidak setajam mesoplastik selama periode banjir.
“Banjir bertindak seperti saklar,” ujar Tanaka. “Dalam kondisi normal, sebagian plastik mungkin tertahan di tepi sungai atau dasar sungai. Tetapi ketika debit melonjak, semua itu bisa langsung terangkut ke laut.”
Lonjakan ini terjadi karena hujan ekstrem meningkatkan debit air secara drastis. Arus deras tidak hanya mengangkut plastik yang sudah berada di sungai, tetapi juga menyapu sampah dari daratan, saluran drainase, dan bantaran sungai ke aliran utama.
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Metode Prediksi Berbasis Debit Air
Selain mengidentifikasi pola transportasi plastik, penelitian ini juga mengembangkan metode prediksi berbasis hubungan antara debit air dan beban plastik, dikenal sebagai pendekatan load–discharge relationship. Dengan metode ini, jumlah plastik yang dibawa sungai dapat diperkirakan hanya dari data hidrologi—tanpa harus selalu melakukan pengambilan sampel plastik secara langsung.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena pengukuran plastik secara intensif selama banjir sulit dilakukan dan membutuhkan biaya besar. Data debit air, sebaliknya, umumnya tersedia melalui stasiun pemantauan hidrologi yang sudah ada.
“Model sederhana ini dapat membantu memperkirakan beban plastik tahunan dengan lebih akurat,” kata Tanaka. “Ini memberi dasar ilmiah yang lebih kuat untuk kebijakan pengelolaan sampah dan mitigasi polusi plastik.”
Implikasi Global di Tengah Perubahan Iklim
Temuan ini memiliki implikasi global. Sungai selama ini diketahui sebagai jalur utama yang membawa limbah plastik dari daratan ke laut. Namun banyak estimasi sebelumnya kemungkinan meremehkan kontribusi sungai karena pengambilan sampel dilakukan pada kondisi debit normal, bukan saat peristiwa ekstrem.
Dengan meningkatnya frekuensi hujan ekstrem akibat perubahan iklim, para ilmuwan memperingatkan bahwa lonjakan transportasi plastik dapat menjadi lebih sering dan lebih intens di masa depan. Artinya, tanpa intervensi yang memadai, krisis plastik di laut berpotensi semakin memburuk.
Penelitian ini menekankan bahwa strategi pengendalian sampah perlu difokuskan pada periode kritis, terutama menjelang dan selama musim hujan. Upaya seperti pembersihan drainase, penguatan sistem pengelolaan sampah perkotaan, serta pemasangan penghalang sampah di sungai dapat lebih efektif jika diarahkan pada fase ketika risiko transportasi plastik paling tinggi.
Studi yang diterbitkan dalam Water Research edisi Maret 2026 ini menjadi salah satu analisis paling komprehensif yang menghubungkan data hidrologi dengan dinamika transportasi plastik di sungai. Para peneliti berharap pendekatan serupa dapat diterapkan di berbagai negara, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi dan sistem pengelolaan sampah yang masih berkembang.
Bagi pembuat kebijakan, temuan ini mengirim pesan yang jelas, memahami kapan plastik bergerak sama pentingnya dengan mengetahui berapa banyak plastik yang ada. Dan menurut penelitian ini, jawabannya terkonsentrasi pada momen-momen ketika sungai meluap. (Wage Erlangga)







