htuan tropis

Hutan Tropis Hasilkan Air Sebanyak Kolam Olimpiade Per Hektare

Views: 9

Hutan tropis tidak hanya menyerap karbon dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga secara aktif “membuat hujan” dalam jumlah yang secara ekonomi setara dengan satu kolam renang Olimpiade untuk setiap hektarnya setiap tahun, menurut penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment.

Studi tersebut dipimpin oleh peneliti dari University of Leeds dan dirilis kepada media melalui platform sains EurekAlert!. Para ilmuwan untuk pertama kalinya menghitung secara kuantitatif berapa banyak curah hujan yang dihasilkan hutan tropis dan berapa nilai ekonominya bagi sektor pertanian dan ketahanan air.

Temuan utama penelitian itu menyebutkan bahwa setiap satu meter persegi hutan tropis utuh menghasilkan sekitar 240 liter curah hujan per tahun melalui proses evapotranspirasi. Jika dihitung dalam skala satu hektar — setara 10.000 meter persegi — volume itu mencapai sekitar 2,4 juta liter per tahun. Jumlah tersebut hampir setara dengan kapasitas satu kolam renang ukuran Olimpiade, yang menampung sekitar 2,5 juta liter air.

Hutan sebagai “Mesin Hujan”

Selama ini, hutan sering dipandang sebagai penerima hujan. Namun penelitian ini menegaskan bahwa hutan tropis justru berperan aktif dalam siklus hidrologi regional.

Melalui proses evapotranspirasi, pohon-pohon menyerap air dari tanah dan melepaskannya kembali ke atmosfer dalam bentuk uap air. Uap air tersebut kemudian membentuk awan dan akhirnya turun sebagai hujan, baik di wilayah hutan itu sendiri maupun di daerah yang jauh dari tutupan pohon. Dalam kasus hutan Amazon, kontribusi tersebut bahkan mencapai sekitar 300 liter per meter persegi per tahun.

“Hutan tropis benar-benar membuat hujan,” kata penulis utama Jess Baker dari University of Leeds dalam keterangan yang dirilis EurekAlert!, pada 16 Februari 2026. Ia menjelaskan bahwa penelitian ini memberikan bukti empiris yang kuat tentang nilai nyata dari layanan ekosistem yang selama ini sulit diukur secara ekonomi.

Para peneliti menggabungkan data satelit dengan model iklim mutakhir untuk memperkirakan bagaimana curah hujan berubah ketika hutan ditebang. Dengan pendekatan ini, mereka dapat menghitung sensitivitas hujan terhadap deforestasi, sesuatu yang sebelumnya hanya diperkirakan secara kualitatif.

Nilai Ekonomi yang Selama Ini Terabaikan

Studi tersebut juga mencoba menerjemahkan kontribusi hujan ini ke dalam nilai ekonomi. Di kawasan Amazon Brasil, nilai ekonomi dari curah hujan yang dihasilkan hutan diperkirakan mencapai sekitar 20 miliar dolar AS per tahun untuk sektor pertanian saja.

Angka itu jauh melampaui insentif ekonomi yang saat ini tersedia untuk perlindungan hutan. Peneliti mencatat bahwa sebagian besar pertanian Brasil bersifat tadah hujan, artinya sangat bergantung pada curah hujan alami dibandingkan irigasi buatan. Jika deforestasi mengurangi curah hujan, dampaknya langsung terasa pada produksi pangan, pembangkit listrik tenaga air, dan pasokan air bersih.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.

Menurut studi tersebut, hilangnya sekitar 80 juta hektar hutan Amazon dalam beberapa dekade terakhir telah mengurangi layanan pembangkitan hujan senilai hampir 5 miliar dolar AS per tahun. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga sektor energi, transportasi sungai, dan masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air.

Peneliti lain dari University of Leeds, Callum Smith, mengatakan bahwa pengakuan terhadap peran hutan dalam menjaga stabilitas curah hujan dapat membantu menjembatani kepentingan konservasi dan pertanian. “Jika kita memahami bahwa melindungi hutan berarti melindungi pasokan air dan produktivitas pertanian, maka konservasi menjadi kepentingan ekonomi bersama,” katanya dalam pernyataan media.

Ancaman Deforestasi

Penelitian ini muncul di tengah kekhawatiran global terhadap laju deforestasi tropis yang masih tinggi meski berbagai komitmen internasional telah dibuat untuk menghentikan kehilangan hutan pada dekade ini. Deforestasi tidak hanya meningkatkan emisi karbon, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem hujan regional yang menopang miliaran orang.

Pengurangan tutupan hutan dapat menyebabkan musim kering yang lebih panjang dan hujan yang lebih tidak menentu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa menciptakan lingkaran umpan balik negatif: semakin sedikit hutan, semakin sedikit hujan; semakin sedikit hujan, semakin sulit hutan bertahan.

Studi ini menekankan bahwa dalam beberapa kasus, jumlah hutan yang dibutuhkan untuk menghasilkan hujan bagi tanaman tertentu bahkan lebih luas dibandingkan lahan pertanian itu sendiri. Artinya, konversi hutan menjadi ladang tidak selalu meningkatkan produktivitas jangka panjang jika sistem hujan regional ikut terganggu.

Potensi Hutan Tropis Dunia

Meski studi ini menyoroti Amazon sebagai contoh utama, implikasinya jauh melampaui Amerika Selatan. Hutan-hutan tropis di Afrika Tengah, Asia Tenggara, dan kawasan Pasifik memiliki fungsi hidrologi serupa.

Di Asia Tenggara, misalnya, hutan tropis di Indonesia dan Malaysia berperan dalam menjaga pola hujan regional yang memengaruhi produksi padi, kelapa sawit, dan komoditas lainnya. Di Afrika Tengah, hutan di Lembah Kongo menopang sistem hujan yang penting bagi jutaan petani kecil. Jika prinsip yang sama berlaku secara global, maka nilai ekonomi dari hujan yang dihasilkan hutan tropis dunia kemungkinan mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun.

Penelitian ini menunjukkan bahwa hutan tropis bukan sekadar penyerap karbon atau habitat satwa liar, melainkan infrastruktur alam yang menghasilkan air dalam skala raksasa. Setiap hektar hutan tropis yang hilang bukan hanya berarti berkurangnya pohon, tetapi juga berkurangnya jutaan liter hujan per tahun.

Dengan memberikan angka konkret — setara satu kolam renang Olimpiade per hektar setiap tahun — para peneliti berharap pembuat kebijakan dapat melihat hutan sebagai aset ekonomi jangka panjang. Jika nilai hujan yang dihasilkan hutan diperhitungkan secara serius dalam kebijakan pembangunan, konservasi mungkin tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi strategis bagi ketahanan pangan, energi, dan air di seluruh wilayah tropis dunia. (Wage Erlangga)

Lanjut lagi...

joseph dituri

Joseph Dituri, 100 Hari Tinggal di Bawah Laut

punch kun monkey

Punch‑kun: Bayi Monyet yang Ditinggal Ibu tapi Menemukan “Ibu Boneka”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *