Views: 7
Para ilmuwan telah mengembangkan metode baru yang menggunakan citra satelit dan kecerdasan buatan untuk mendeteksi “hotspot” atau titik akumulasi plastik di sungai dari luar angkasa. Terobosan ini dinilai dapat membantu upaya global memantau sekaligus menekan polusi plastik di lingkungan air tawar. Metode tersebut telah diuji di tiga sungai pada tiga benua berbeda, termasuk Sungai Citarum di Indonesia, Sungai Motagua di Guatemala, dan Sungai Odaw di Ghana, dengan hasil akurasi yang dinilai sangat menjanjikan di berbagai kondisi lingkungan.
Penelitian yang dipublikasikan secara daring pada Desember 2025 di jurnal iScience ini memperkenalkan sebuah workflow semi-otomatis yang memadukan teknologi penginderaan jauh dan machine learning. Tujuannya adalah memetakan akumulasi plastik di sungai dalam skala besar, sesuatu yang selama ini sulit dilakukan dengan metode konvensional.
Memadukan Satelit dan Kecerdasan Buatan
Dalam penelitian ini, citra resolusi tinggi dari satelit PlanetScope digunakan untuk menandai area pelatihan atau regions of interest. Area tersebut kemudian diproyeksikan ke citra multispektral Sentinel-2 untuk melatih model klasifikasi berbasis Random Forest di platform Google Earth Engine. Pendekatan ini menghasilkan tingkat akurasi hingga 99,5 persen ketika diterapkan di sungai yang sama, serta skor F1 sekitar 79 persen ketika diuji lintas sungai, angka yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah studi sebelumnya.
“Sungai menjadi salah satu jalur utama sampah plastik, membawa sampah dari daratan menuju ke lautan,” kata Tim H.M. van Emmerik, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Menurutnya, dengan memanfaatkan data satelit dan machine learning, para ilmuwan kini dapat mengidentifikasi lokasi penumpukan plastik di sistem sungai secara global, sesuatu yang sebelumnya sangat sulit dilakukan hanya dengan survei lapangan.
Para peneliti menekankan bahwa sungai merupakan jalur utama yang membawa plastik dari daratan menuju laut. Plastik yang terbawa aliran sungai kemudian terfragmentasi dan menyebar di laut, mengancam kehidupan laut, ekosistem pesisir, serta berpotensi berdampak pada kesehatan manusia melalui rantai makanan.
Data untuk Kebijakan dan Aksi Lapangan
Kemampuan memetakan hotspot plastik di sungai diharapkan dapat membantu pembuat kebijakan, pemerintah daerah, dan organisasi lingkungan dalam merancang intervensi yang lebih efektif. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan lokasi prioritas penempatan alat pengumpul sampah, memperkuat sistem pengelolaan limbah, atau merancang program pembersihan sungai yang lebih tepat sasaran.
Metode ini memanfaatkan keunggulan dua jenis citra satelit. PlanetScope menyediakan detail resolusi tinggi yang penting untuk pelatihan model, sementara Sentinel-2 menawarkan cakupan wilayah yang lebih luas sehingga model dapat diterapkan secara konsisten pada area yang besar. Seluruh proses dilakukan di Google Earth Engine, memungkinkan replikasi dan penggunaan ulang oleh peneliti lain di berbagai negara.

Baris atas: citra representatif untuk setiap sungai dengan tambalan plastik yang disorot warna kuning serta skala yang diberi keterangan (sama untuk setiap kolom).
Baris tengah: peta klasifikasi citra.
Baris bawah: peta hotspot hasil penggabungan sepuluh citra untuk setiap lokasi.
(A–C) menunjukkan area studi pada setiap kolom.
(A) Indonesia, (B) Guatemala, dan (C) Ghana.
Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Menurut Ámbar Pérez-García, peneliti lain dalam tim, keterbukaan aplikasi berbasis Google Earth Engine menjadi salah satu kekuatan utama penelitian ini. “Setiap orang dapat menggunakannya untuk memantau hotspot plastik sungai di lokasi yang berbeda,” katanya. Hal ini dinilai penting untuk memperluas pemantauan global tanpa harus bergantung pada metode manual yang mahal, lambat, dan terbatas cakupannya.
Para ilmuwan juga menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar dalam memerangi polusi plastik adalah minimnya data yang akurat tentang lokasi penumpukan plastik di sepanjang sungai. Survei lapangan hanya mencakup area terbatas dan membutuhkan sumber daya besar, sementara teknologi penginderaan jauh memungkinkan pemantauan yang lebih cepat, terstandarisasi, dan mencakup wilayah luas.
Tantangan ke Depan
Pakar lingkungan yang tidak terlibat langsung dalam penelitian ini menyambut baik temuan tersebut. Mereka menilai kemampuan mendeteksi konsentrasi plastik di sungai dari luar angkasa sebagai langkah besar dalam pemantauan polusi. Teknologi ini juga memungkinkan pelacakan perubahan dari waktu ke waktu, terutama jika dikombinasikan dengan data lapangan.
Sungai Citarum, salah satu lokasi uji, menjadi contoh bagaimana metode ini dapat diterapkan di wilayah tropis dengan kompleksitas lingkungan tinggi. Sungai tersebut dikenal sebagai salah satu sungai paling tercemar di Indonesia dan telah lama menjadi fokus berbagai program pembersihan dan penelitian. Dengan data satelit yang lebih akurat, upaya pengelolaan sampah dan restorasi sungai diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Ke depan, para peneliti berencana menyempurnakan model agar mampu mendeteksi jenis plastik yang lebih kecil serta meningkatkan keandalan algoritma di berbagai kondisi cuaca dan karakteristik air. Meski masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut, teknologi ini dipandang sebagai alat penting untuk mendukung upaya global mengurangi polusi plastik di sungai dan laut, sekaligus mendorong kerja sama lintas disiplin dan lintas negara dalam pemantauan lingkungan berbasis satelit. (Wage Erlangga)







