Views: 12
Gunung tertinggi di Bumi, Mount Everest, menjulang 8.848 meter di atas permukaan laut. Namun jika dibandingkan dengan gunung di planet lain, angka itu tampak kecil. Di Mars, Olympus Mons menjulang lebih dari 21 kilometer, menjadikannya gunung tertinggi yang pernah diketahui di tata surya. Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan mendasar di balik perbedaan ekstrem ini: seberapa tinggi gunung sebenarnya bisa tumbuh di Bumi, Bulan, dan Mars, dan apa yang membatasinya?
Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Eulogio Pardo-Igúzquiza, peneliti dari Instituto de Geociencias (Spanyol), dan Peter Dowd, profesor geostatistik dari University of Adelaide, Australia. Studi mereka, berjudul “What is the maximum elevation mountains can reach on Earth, the Moon, and Mars?”, membandingkan batas ketinggian gunung di tiga benda langit dengan pendekatan geomorfologi dan fisika planet.
“Gunung adalah hasil kompromi antara gaya yang mendorongnya ke atas dan gaya yang berusaha merobohkannya,” kata Pardo-Igúzquiza dalam makalah tersebut. “Gravitasi, kekuatan batuan, dan proses geologi menentukan di mana batas itu berada.”
Bumi: Gunung Tinggi yang Terus Digerus
Di Bumi, gunung terbentuk terutama melalui tumbukan lempeng tektonik dan aktivitas vulkanik. Himalaya, tempat Everest berada, masih terus terangkat akibat tabrakan Lempeng India dan Eurasia. Namun, menurut para peneliti, pertumbuhan vertikal ini tidak berlangsung tanpa batas.
Gravitasi Bumi yang relatif kuat memberi tekanan besar pada batuan di dasar gunung. Ketika gunung makin tinggi, bobotnya sendiri membuat kerak di bawahnya melemah dan menyebar ke samping. Pada saat yang sama, hujan, salju, angin, dan es secara konstan mengikis puncaknya.
“Inilah sebabnya gunung di Bumi mencapai keseimbangan,” tulis Pardo-Igúzquiza dan Dowd. “Proses pengangkatan dan erosi akhirnya saling meniadakan.”
Secara praktis, batas ketinggian gunung di Bumi berada di kisaran 9 hingga 10 kilometer, tergantung pada cara pengukuran. Everest adalah yang tertinggi di atas permukaan laut, sementara Mauna Kea di Hawaii sebenarnya lebih tinggi jika dihitung dari dasar laut, tetapi sebagian besar tubuhnya tersembunyi di bawah air.

Bulan: Tinggi, Tapi Tanpa Dinamika
Bulan menghadirkan tantangan berbeda. Tidak ada laut yang bisa dijadikan referensi nol ketinggian, dan hampir tidak ada tektonik aktif seperti di Bumi. Gunung di Bulan terbentuk terutama akibat tumbukan meteorit raksasa dan proses pendinginan kerak purba.
Data dari pengukuran laser satelit menunjukkan titik tertinggi di Bulan, yang dikenal sebagai Selenean summit, memiliki ketinggian sekitar 10,6 hingga 10,8 kilometer di atas permukaan rata-rata Bulan. Angka ini sedikit lebih tinggi dari Everest jika dibandingkan berdasarkan referensi masing-masing benda langit.
Namun, menurut Dowd, kesamaan angka ini tidak berarti proses pembentukannya sama. “Di Bulan, gunung bukan hasil dorongan tektonik berkelanjutan,” jelasnya. “Strukturnya lebih merupakan sisa dari peristiwa kuno yang kemudian hampir tidak berubah.”
Gravitasi Bulan yang lebih lemah memungkinkan struktur yang relatif tinggi bertahan, tetapi ketiadaan proses geologi aktif juga berarti tidak ada mekanisme yang mendorong gunung tumbuh jauh lebih besar.
Mars: Rumah bagi Gunung Raksasa
Mars adalah pengecualian paling mencolok. Olympus Mons, gunung berapi perisai raksasa di planet merah, menjulang setidaknya 21,9 kilometer di atas permukaan rata-rata Mars. Beberapa pengukuran bahkan menyebut angka mendekati 26 kilometer jika dihitung dari dataran sekitarnya.
Penelitian Pardo-Igúzquiza dan Dowd menjelaskan bahwa kondisi Mars hampir ideal untuk membangun gunung raksasa. Gravitasi Mars hanya sekitar 38 persen dari gravitasi Bumi, sehingga tekanan pada dasar gunung jauh lebih kecil. Selain itu, Mars tidak memiliki tektonik lempeng seperti Bumi.
“Hotspot vulkanik di Mars tidak bergerak,” tulis para peneliti. “Lava dapat terus menumpuk di satu lokasi selama jutaan tahun.”
Atmosfer Mars yang tipis dan minim air cair juga berarti erosi berlangsung sangat lambat. Akibatnya, gunung berapi seperti Olympus Mons bisa tumbuh tinggi dan lebar tanpa banyak hambatan.
Fisika di Balik Ketinggian Gunung
Secara teknis, batas ketinggian gunung ditentukan oleh keseimbangan antara tegangan material batuan dan gaya gravitasi. Jika sebuah gunung terlalu tinggi, batuan di dasarnya akan mengalami deformasi plastis dan menyebar, menyebabkan gunung “ambruk” secara geologis.
Model fisika yang dibahas dalam penelitian ini menunjukkan bahwa semakin kecil gravitasi suatu benda langit, semakin tinggi gunung yang dapat terbentuk sebelum mencapai batas kestabilan. Faktor tambahan seperti keberadaan air, es, dan aktivitas tektonik kemudian memperkuat atau memperlemah batas tersebut.
Menurut para peneliti, perbandingan ini bukan sekadar soal rekor gunung tertinggi. Studi ini membantu ilmuwan memahami bagaimana planet berevolusi dan bagaimana hukum fisika bekerja dalam skala yang berbeda.
“Gunung adalah arsip sejarah planet,” kata Pardo-Igúzquiza. “Dengan membandingkannya, kita bisa membaca perbedaan mendasar antara Bumi, Bulan, dan Mars.”
Bagi Bumi, gunung-gunung yang “lebih pendek” justru menjadi tanda planet yang aktif dan dinamis, dengan air, atmosfer, dan kehidupan yang terus membentuk ulang permukaannya. Mars, dengan gunung tertingginya, menjadi saksi dunia yang lebih sunyi, tetapi menyimpan jejak kekuatan geologi masa lalu yang luar biasa. (Wage Erlangga)





