Views: 5
Para ilmuwan Amerika Serikat menemukan salah satu koloni karang terbesar yang pernah tercatat, sebuah struktur raksasa yang membentang lebih dari 100 kaki (sekitar 30 meter) di perairan terpencil Samudra Pasifik. Penemuan ini memberi gambaran langka tentang ketahanan ekosistem laut di tengah krisis iklim global.
Karang tersebut, dari spesies Porites rus, ditemukan dalam ekspedisi tahun 2025 yang dipimpin oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Lokasinya berada di dalam kaldera gunung api bawah laut di Maug, bagian dari kawasan lindung Mariana Trench Marine National Monument.
Dengan luas sekitar 14.500 kaki persegi (1.347 meter persegi), karang ini menjadi salah satu koloni tunggal terbesar yang pernah ditemukan. Ukurannya begitu besar hingga para penyelam tidak mampu mengukurnya secara utuh dalam satu kali penyelaman karena keterbatasan keselamatan.
“Karang ini sangat besar, kami bahkan tidak bisa mengukurnya dengan mudah,” kata Thomas Oliver, ilmuwan utama dari program pemantauan terumbu karang NOAA, pada keterangan resmi tertanggal 17 Maret 2026.
Apa Itu ‘Monster Coral’ yang Ditemukan di Pasifik?
Karang raksasa ini termasuk dalam spesies Porites rus, yang dikenal mampu membentuk koloni besar berbentuk kubah di perairan tropis. Namun, ukuran koloni yang satu ini jauh melampaui ukuran normal yang biasanya ditemukan.
Berbeda dengan terumbu karang yang terdiri dari banyak koloni, struktur ini merupakan satu organisme hidup tunggal yang tersusun dari jutaan polip kecil. Selama ratusan hingga ribuan tahun, polip-polip tersebut membangun kerangka kalsium karbonat yang terus tumbuh menjadi struktur besar menyerupai batu.
Bagian dasar karang ini diperkirakan membentang hingga hampir 200 kaki (sekitar 60 meter), dengan tinggi lebih dari 20 kaki (6 meter). Permukaannya menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan organisme laut lainnya, menjadikannya seperti ekosistem mini yang kompleks.
Berapa Usia Karang Raksasa Ini?
Menentukan usia pasti karang ini bukan hal mudah. Tidak seperti beberapa jenis karang lain, Porites rus tidak memiliki pola cincin pertumbuhan tahunan yang jelas.
Sebagai gantinya, ilmuwan memperkirakan usia berdasarkan laju pertumbuhan rata-rata, yaitu sekitar satu sentimeter per tahun. Dengan ukuran sebesar ini, karang tersebut diduga telah tumbuh selama lebih dari 2.000 tahun.
“Ini kemungkinan salah satu struktur karang tertua yang masih hidup di kawasan ini,” ujar Hannah Barkley, ilmuwan yang terlibat dalam penelitian.

Dari gunung hingga laut, kami kirim langsung ke Anda. Join Saluran WhatsApp Lingkar Bumi sekarang.
Mengapa Penemuan Ini Penting untuk Masa Depan Terumbu Karang?
Penemuan ini terjadi di tengah kondisi terumbu karang dunia yang semakin terancam. Pemanasan laut, pengasaman air, serta polusi telah menyebabkan pemutihan karang secara luas dalam beberapa dekade terakhir.
Di tengah situasi tersebut, keberadaan karang raksasa di Maug menjadi pengecualian yang memberi harapan. Ilmuwan melihatnya sebagai bukti bahwa beberapa ekosistem laut mungkin memiliki ketahanan alami terhadap kondisi ekstrem.
Terumbu karang sendiri memiliki peran penting bagi kehidupan laut dan manusia. Sekitar 25% spesies laut bergantung pada ekosistem ini, selain juga melindungi garis pantai dan menopang sektor perikanan.
Lingkungan Ekstrem di Dekat Palung Mariana
Salah satu aspek paling menarik dari penemuan ini adalah lokasinya.
Karang tersebut berada di dalam kaldera gunung api bawah laut yang memiliki ventilasi karbon dioksida (CO₂) aktif. Gas ini menciptakan kondisi air yang lebih asam—mirip dengan dampak pengasaman laut akibat perubahan iklim.
Menariknya, hanya beberapa ratus meter dari koloni karang ini, para ilmuwan menemukan area yang hampir tidak memiliki kehidupan laut. Kontras antara wilayah yang “mati” dan koloni karang yang tetap tumbuh subur ini memberikan peluang penelitian yang sangat berharga.
“Luar biasa melihat dua kondisi ekstrem dalam jarak yang begitu dekat,” kata Barkley.
Kawasan Lindung Jadi Kunci Kelangsungan Hidup
Letak karang ini di dalam kawasan Mariana Trench Marine National Monument diyakini menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kelangsungan hidupnya.
Sebagai kawasan konservasi laut, aktivitas manusia seperti penangkapan ikan dan eksploitasi sumber daya dibatasi secara ketat. Hal ini membantu mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut.
Para ilmuwan kini juga bekerja sama dengan komunitas lokal untuk menjaga kawasan tersebut, sekaligus mempelajari lebih jauh karakteristik karang raksasa ini.
Karang Raksasa Bukan yang Pertama, Tapi Tetap Langka
Meski luar biasa, penemuan ini bukan satu-satunya kasus karang berukuran ekstrem di dunia. Laporan sebelumnya di Lingkar Bumi, November 2024 juga menyebut adanya karang laut berukuran sebesar kapal karam yang diklaim sebagai salah satu yang terbesar di Bumi.
Karang-karang berukuran raksasa seperti ini umumnya membutuhkan waktu ribuan tahun untuk tumbuh, sekaligus menunjukkan bahwa ekosistem laut mampu membangun struktur biologis dalam skala yang sangat besar.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa ukuran besar bukan berarti kebal terhadap ancaman. Bahkan karang terbesar sekalipun tetap berisiko rusak akibat perubahan iklim, peningkatan suhu laut, dan aktivitas manusia.
Bagi para ilmuwan, “monster coral” di Kepulauan Mariana bukan sekadar fenomena alam yang menakjubkan, tetapi juga pengingat bahwa laut masih menyimpan keajaiban — sekaligus kerentanan — yang belum sepenuhnya kita pahami. (Wage Erlangga)







